”Badut Politik Di Negara Mimpi”


”Badut Politik Di Negara Mimpi”

(sebuah kritik pedas atas sikap pimpinan parpol Islam di Indonesia)

“JIKA ADA NAMA ATAU TEMPAT YANG MIRIP ATAU SAMA, SEMATA-MATA HANYA KEBETULAN !!!”

Di atas dipan warung angkringan di sudut desa, terjadi diskusi politik yang melibatkan beberapa orang warga masyarakat Wonobebek di negeri Republik Mimpi. Mereka biasa membicarakan topik-topik aktual di negeri tetangga yang sedang menjadi top ten pembicaraan di siaran-siaran warta berita televisi, radio, dan surat kabar. Ditemani segelas kopi dengan riuh renyah pisang goreng dan tempe mendoan serta kobar semangat nasi kucing pedas yang membakar lidah dilengkapi aneka makanan tradisional lainnya, mereka siap berdiskusi, bersilat lidah, dan berdebat sekalipun mengenai tema-tema obrolan yang mereka sepakati setiap pertengahan malamnya hingga menjelang subuh. Tugas ronda pun tak jarang berubah dalam waktu yang cepat menjadi ajang debat dan diskusi politik ala desa Wonobebek. Namun mereka tetap disiplin untuk tidak meninggalkan tugas utamanya menjaga keamanan lingkungan yang berpedoman pada Sistem Siskamling.

Kali ini, yang terlihat sedang berada di warung angkringan pakdhe Wito, yang sekaligus berfungsi sebagai sentral pos komando sistem keamanan lingkungan desa masyarakat Wonobebek, ada enam orang. Semuanya pria tengah baya berkepala di atas tiga dan sudah melepas masa jejakanya kecuali Fikri yang masih berusia dua puluhan tahun. Mereka adalah Wak Haji Zainal, Paklik Djatmiko, Pakdhe Saifullah, Mas Bayu Eko, Kang Adin Abdurrahman, dan Fikri.

”Wak Haji, kok perkembangan dunia politik di negara tetangga kita itu semakin ruwet ya?” tanya paklik Djatmiko kepada Wak Haji Zainal yang malam ini juga kebagian tugas ronda malam sebagai basa-basi mengawali pembicaraan.

”Ruwet gimana to mas Djatmiko?” jawab Wak Haji Zainal sengaja tidak menebak karena tidak ingin salah.

”Sekarang ini, di negara tetangga itu kok sepertinya ga ada bedanya ya antara partai Islam dan partai kafir?” tanya paklik Djatmiko sekaligus menjawab Wak Haji.

”Partai kafir? Maksud kangmas…?” jawab Wak Haji sambil sedikit mengernyitkan dahi.

Wak Haji merasa kaget mendengar ada istilah baru ”Partai Kafir” dalam dunia politik di negara tetangga karena selama ini, yang ia kenal hanya istilah Partai Islam, Partai Nasionalis, Partai Sosialis, Partai Terbuka, dan Partai Komunis. Kalau mendengar istilah kafir, beliau sering menemui kata itu saat membahas agama, fiqih, atau kitab-kitab gundul di surau dan masjid.

”Iya Wak, kalau di pengajian kan disebutkan bahwa lawannya Islam itu kafir to? Nah, kalau ada partai Islam berarti lawannya bukannya Partai Kafir?” ujar paklik Djatmiko.

Oalah…Djat…Djat…, saya pikir apa lho. Jangan ngomong gitu lah. Sensitif. Mendingan disebut aja partai non Islam atau cukup Partai Nasionalis aja lah. Daripada ntar kita repot diciduk DENSUS 76 lho. Bukan begitu Wak Haji…?” seloroh Pakdhe Saifullah, yang sepertinya ingin ikut segera berpartisipasi dalam diskusi kali ini.

”Ya mungkin memang sebaiknya seperti yang dikatakan Kang Saiful itu saja. Kita pakai saja bahasa yang sudah umum diterima.” jawab Wak Haji.

”Ngomong-ngomong ada masalah apa dengan partai Islam dan yang tidak?” tanya pak Rahmat.

”Tidak gitu Wak, saya itu hanya merasa gerah saja melihat para pemimpin politik partai di negara tetangga kita Wak, terutama yang partai Islam, partai yang seharusnya menyalurkan aspirasi orang Islam.” jawab paklik Rahmat.

”Gerah kenapa to mas…?” tanya mas Bayu Eko penasaran, dan sepertinya juga ingin segera ikut dalam dialog politik ini.

”Jadi gini, kemarin tempo hari, saya kan membaca majalah Republikita, ada seorang tokoh politik di negara sebelah yang menjabat sebagai Ketua Dewan Syuro sebuah partai Islam yang getol mengusung Syariat Islam sebagai dagangan politiknya berujar dalam pidatonya bahwa apapun yang terjadi, syariat Islam harus diperjuangkan, apapun kata orang, karena Syariat Islam adalah yang terbaik. Best of the best.” jawab paklik Djatmiko sambil bercerita panjang.

”Lho…, bukannya itu memang baik dan benar to Paklik? tanya Kang Adin, jebolan sebuah pesantren modern di daerah Pohonrogo.

Ia tidak selesai mengemban tugas sebagai santri hingga berhasil karena dirinya keburu dikeluarkan dari pondok akibat ketahuan merokok dan ngajakin santriwati pesantren tetangganya untuk pacaran. Namun sekarang, mas Adin insya Allah sudah tobat dari merokok. Kini ia justru menjadi pengajar di sebuah madrasah di desa Wonobebek dan telah memiliki satu orang puteri yang duduk di bangku TK bernama Septiana Puspa Sari dari rahim istrinya yang bernama Umi Pujiyanti, alumni pondok pesantren modern di Pohonrogo.

“Sebentar, to Dik. Saya belum selesai ngomong nih.” jawab paklik Djatmiko sedikit agak kesal.”Sekarang saya lanjutkan…” lanjut paklik Djatmiko.

“Nah, dalam majalah tersebut diceritakan ketika itu bahwa sang ketua Dewan Syuro ini kemudian ditanya oleh seorang kyai kenapa isterinya tidak pakai jilbab padahal hal itu jelas sekali disyariatkan oleh Allah. Nah, Ketua Dewan Syuro itu lalu menjawab bahwa istri Nabi Luth dan Nabi Nuh saja kafir dan mati dalam kekafiran. Yang menjadi permasalahannya, lha bagaimana bisa seorang ketua Dewan Syuro Partai Islam tapi tidak berani merekomendasikan pemakaian kewajiban jilbab bagi istrinya. Gitu lho… Lagian kalau sama istrinya saja susah, bagaimana dia mau ngajakin orang lain agar bener ber-syariat?” lanjut paklik Djatmiko panjang lebar.

Wah, ndak bener tu kalau seperti itu.” timpal mas Bayu Eko.

“Ya…, kita serahkan saja semuanya pada Allah SWT.” jawab Wak Haji Zainal.

“Kalau cerita seperti itu sih saya juga ingin sharing dan berbagi Bapak-Bapak sekalian. Sekarang kita coba ingat partai Islam yang paling tua di negara tetangga yang ketua umumnya saat itu pernah menjadi wapres di sana. Nah, dulunya dia dengan getol menuntut penegakan syariat Islam dan menyerukan agar umat Islam di negara tetangga tidak memilih perempuan sebagai pemimpin. Ealah……, ketika dia ditawari menjadi wakilnya presiden yang perempuan tersebut dia tersenyum bangga dan lupa akan fatwanya dulu. Ironis dan miris.” kata Pakdhe Saifullah.

”Wah…, itu hampir mirip dengan kyai kondang bergelar dai sejuta dollar atau sejuta amplop gitu ya…, yang pokoknya pada akhirnya dia mendukung perempuan sebagai Presiden di negeri tetangga. Padahal di acara mimbar dakwah di radio, saya sering mendengarkan ceramahnya yang menyatakan bahwa tidak akan selamat suatu kaum yang mengangkat perempuan menjadi pemimpinnya.” sahut mas Bayu Eko ga mau kalah.

”Semoga Allah SWT memberi mereka hidayah agar bisa kembali ke jalan Allah.” kata Wak Haji.

”Amiin.” jawab semuanya kompak.

”Lha gimana kabar pak Kyai yang lulusan universitas di kota suci Madinah itu?” tanya Wak Haji.

”Sama saja Wak….Wak…, dulu sih waktu jadi kyai dan ustadz serta nyantri di Madinah dan belum punya jabatan penting di pemerintahan negara tetangga, dengan lantang ia menyerukan penegakan Syariat Islam. Oalah Pak…, apa yang namanya fitnah jabatan itu luar biasa godaannya ya, melebihi godaan wanita?” sahut Kang Adin Abdurrahman.

”Setelah duduk di kursi empuk MPR, pak kyai itu seperti sudah lupa berdiri, apalagi untuk berteriak lantang seperti dulu lagi Wak… Sekarang kerjanya keliling kota di negara tetangga untuk sosialisasi namanya agar dikenal dan bisa terkenal saat nanti mau nyalon jadi Presiden negara sebelah. Setelah ditinggal meninggal istrinya, dia menikah lagi dengan bu Dokter. Denger-denger sih buat persiapan sebagai ibu negara atau ibu wakil presiden gitu pak…” jawab Kang Adin.

”Kalau tidak salah, bukannya kemaren waktu piala Dunia, pak kyai itu juga jadi komentator Bola ya..?” tanya Mas Bayu yang hobinya nonton bola dan lihat bola. (hehehehe J ).

”Ndak salah kamu mas Bayu.” jawab Kang Adin.

Astaghfirullah.” jawab ustadz Rohmat.

”Tapi yang paling parah to bapak-bapak sekalian. Ada seorang ”kyai”, yang Kakeknya seorang ulama besar bergelar Hadratussyaikh. ”Kyai” itu menjabat sebagai ketua Dewan Syuro partainya, tapi dia nolak syariat Islam. Tak hanya itu, di media dia menolak RUU Pornografi dengan mengatakan bahwa kitab Suci Al Quran kita itu adalah kitab paling porno di dunia. Dia ini sangat disenangi oleh orang-orang kafir apalagi kafir Yahudi. Beberapa waktu lalu, pak ”kyai” ini memperoleh penghargaan dari kafir Yahudi dan bangga memperolehnya. Apa matanya yang buta itu juga sudah membuat hatinya ikut buta ya Wak Haji? Na’udubillahi min dzalik. Jangan sampai deh kayak gitu anak cucuku nanti.” urai paklik Djatmiko panjang lebar agak emosi dan semangat.

Astagfirullah…astaghfirullah…” mulut Wak Haji terlihat komat kamit berdzikir lirih.

Matanya mengalirkan titik air mata yang makin lama tambah deras menetes di pipi dan jatuh ke bawah. Dari raut wajahnya terlihat bahwa Wak Haji seperti merasakan pedih yang luar biasa perih mendengar tingkah polah sahabat-sahabat dan saudara-saudaranya di negara tetangga tersebut yang harus menghadapi godaan syetan dan fitnah kekuasaan.

”Bapak-bapak, pakdhe-pakdhe, dan paklik-paklik serta Wak Haji. Saya rasa sudah waktunya kita patroli. Bagaimana kalau sekarang kita langsung keliling ronda saja?” ajak Fikri yang dari tadi diam hanya mendengarkan karena masih segan ikut berdiskusi dengan senior-seniornya di warung angkringan pakdhe Wito.

Sesaat kemudian, berenam, mereka semua berpatroli siskamling keliling desa Wonobebek. (Ahmed Fikreatif)

Solo, 27 Ramadhan 1429 / 27 September 2008

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. preeeeeet orang skeptis macam anda ini yang membuat bangsa ga maju…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: