Solo, Kota Sepeda?


Pertanyaan itu muncul secara tiba-tiba saat aku hendak beranjak pulang dari Kota Kembang Bandung. Banyak orang mengatakan bahwa Bandung adalah kota yang ‘recommended’ untuk dikunjungi sebagai tempat wisata. Bukan bermaksud menjelek-jelekkan atau semisalnya, hanya saja pendapat itu perlu ditinjau. Setidaknya, aku lah yang kurang menyetujuinya.

Sepintas kemudian, pikiranku mengarah ke Solo, Bandung, Jakarta, dan beberapa kota-kota besar dan kecil lainnya yang pernah kukunjungi. Baru kemudian, muncul kesadaranku bahwa sepanjang yang kuketahui dan kuperhatikan, ternyata satu-satunya kota yang punya jalur lambat hanya kota Solo (termasuk mencakup beberapa eks karesidenan Solo seperti Sukoharjo, Klaten, Boyolali, Karanganyar, Sragen, dan Wonogiri). Jalur lambat dalam pengertianku ini adalah sebutan jalur yang disediakan guna peruntukan transportasi khusus sepeda dan becak; bukan jalur lambat dalam pengertian kota-kota besar lainnya yang diartikan sebagai jalurnya sepeda motor.

Jika memang benar bahwa satu-satunya kota yang menyediakan fasilitas jalur khusus sepeda dan becak di Indonesia ini hanyalah Solo, maka hal ini merupakan sebuah prestasi tersendiri bagi kota bersejarah ini. Aku menyimpulkan demikian karena di beberapa kota yang pernah kulewati, sepertinya aku tidak melihat adanya jalur khusus bagi pengguna sepeda dan becak sebagaimana di Solo. Bandung, Jakarta, Malang, Semarang, Kudus, Pati, Cirebon, Bekasi, Tangerang, Pekalongan, Madiun dan lain-lain; sepengetahuanku sewaktu aku lewat, tidak kujumpai adanya jalur lambat seperti di Solo. Jika aku salah, mohon dikoreksi.

Jalur lambat di Solo, telah ada sejak aku kecil. Entah kapan pertama kali dibikinnya. Dan sejak aku belajar jalan hingga sekarang bisa berlari, jalur lambat khusus sepeda dan becak di Solo hampir tidak mengalami perubahan yang signifikan. Hanya saja, jalur lambat yang puluhan tahun telah eksis berada di sisi kiri – kanan Jl. Slamet Riyadi kini tinggal menyisakan satu jalur saja, sejak kisaran tahun 2008-2009 (CMIIW). Sebelumnya, jalur lambat khusus sepeda di sepanjang jalan Slamet Riyadi berada di sisi selatan dan utara jalan raya, namun kini sisi sebelah selatannya dialihfungsikan sebagian besarnya sebagai jalur pejalan kaki (baca: City Walk atau ciwalk).

Jalur lambat di Solo cukup lebar, mungkin sekitar 4 meter lebarnya (bila ada perhitungan yang lebih tepat mohon koreksinya). Jalur lambat khusus sepeda di Solo tidak hanya berada di Jl. Slamet Riyadi saja (7-9 KM), namun juga ada di beberapa ruas jalan lain, seperti sepanjang Jalan Urip Sumoharjo atau sepanjang Pasar Gedhe hingga pertigaan Panggung (dua sisi jalur sepanjang 1 KM); kemudian berlanjut ke JL. Kolonel Sutarto atau sepanjang perempatan Panggung hingga perempatan Pedaringan (dua sisi jalur sepanjang 1 KM); berlanjut lagi ke JL. Ir. Sutami atau sepanjang perempatan Pedaringan hingga Taman Satwataru Jurug / Jembatan Bengawan Solo (dua sisi jalur sepanjang 2 KM); sebelum Jl. Slamet Riyadi juga ada lagi jalur lambat di gerbang masuk Kota Solo hingga sampai di perempatan Stasiun Purwosari (dua sisi jalur sepanjang 2 KM). Selain di tepi ruas jalan utama Slamet Riyadi, masih ada jalur lambat lain yang menghubungkan Colomadu-Karanganyar dengan Kota Barat-Manahan sekitar 6-7 KM dengan dua sisi jalur.

Jadi, kalau dihitung-hitung, sepanjang Kota Solo selalu terhubung dengan jalur lambat khusus Sepeda dan Becak, dari sejak gerbang masuk kota dari arah Barat hingga gerbang keluar di ujung Timur atau sebaliknya. Sejauh pengetahuanku, tidak ada kota yang memberikan “surga” bagi para pemakai sepeda dan pengemudi becak seperti Solo. Total jalur lambat khusus sepeda yang menjadikan Solo sebagai kota yang peduli pada pemakai sepeda, menurut prediksi perhitunganku, berkisar antara 15-20 KM, dengan mayoritas jalur lambat berada di kedua sisi jalan.

Namun, tak ada gading yang tak retak. Beberapa pemakai sepeda di Solo, seringkali harus terhambat oleh banyaknya pedagang, parkir motor, atau pemangkal becak yang menghambat beberapa ruas jalur lambat khusus sepeda itu. Hal ini mungkin perlu langkah perbaikan tersendiri.

So, bagi para penikmat sepeda yang ada di Indonesia, silakan buktikan betapa kalian akan dimanjakan dengan keberadaan jalur lambat khusus sepeda di Solo lengkap dengan segarnya udara yang keluar dari teduhnya pepohonan di sampingnya. Mulai saat ini, jangan ragu-ragu jadikan Solo sebagai kota tujuan wisata anda !!! 😀

SOLO, Kota Sepeda !!!

Ahmed Fikreatif

NB: Jalur lambat khusus sepeda di Solo yang kutulis di atas, mewakili beberapa kota lain eks Karesidenan Solo seperti Sukoharjo, Wonogiri, Klaten, Boyolali, Sragen, dan Karanganyar yang juga memiliki beberapa ruas jalur lambat khusus sepeda kendatipun tidak sepanjang di Solo.

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

Iklan

4 Tanggapan

  1. ya,.. semoga tetap dilakukan pengawasan.. jangan sampai dirusak oleh kaki lima

  2. waoww..
    keren juga nih Solo..
    kapan yaa Jakarta punya seperti ini..

    http://bocipalz.wordpress.com/2010/04/23/menagih-janji-jalur-sepeda/
    http://sosbud.kompasiana.com/2010/04/23/menagih-janji-jalur-sepeda/

  3. Jalur lambat di Kota Solo masih ada lagi di Jl MT Haryono, dan sebagian di Jl Dr. Rajiman

  4. bikin ktp solo ah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: