Gridiron Gang, Film Inspiratif Untuk Meminimalisir Kenakalan Remaja


Gridiron Gang, Film Inspiratif Untuk Meminimalisir Kenakalan Remaja

(based on true story)

Malam, hari kedua setelah lebaran, hari masih terasa sunyi. Rumah terasa sepi. Jalanan bak kota mati. Kawan-kawan dan sobat-sobat ku mungkin masih pergi. Masih sibuk beridul fitri bersama kerabat dan keluarga, bermaaf-maafan berharap menjadi suci. Orangtuaku sedang berkeliling silaturrahmi. Sementara aku terduduk sendiri di depan layar televisi. Bosan, penat, capek, bingung, dan rasa suntuk bercampur dalam otak dan hati.

Ya… Aku jadi teringat ada beberapa film yang masih ada di dalam laptopku. Belum aku tonton. Di dalam folder yang kuberi nama Cinema 21, kulihat ada puluhan film baik yang sudah sebagian aku tonton maupun yang belum aku tonton. Aku memang anggota komunitas SUFI. Maksudnya Suka Film. Jadi punya banyak file film di dalam laptop. Akhirnya aku putuskan untuk menonton film yang berjudul Gridiron Gang.

Film Gridiron Gang dibintangi oleh Dwayne “The Rock” Johnson dan Xzibit. Film ini berdasarkan pada kisah nyata (based on true story). Film ini berkisah tentang kondisi sosiologis di Amerika Serikat (AS) beberapa tahun lampau dimana lebih dari 120.000 remaja AS usia antara 16-20an tahun dipenjara di Penjara Anak di seluruh Amerika Serikat karena berbagai tindak kriminalitas. Masuknya para remaja tersebut ke hotel prodeo dilatarbelakangi oleh berbagai tindak kriminal yang bermacam-macam. Ada sebagian yang masuk jeruji penjara karena narkoba, ada yang karena mencuri, dan tidak sedikit yang terlibat pembunuhan.

Munculnya tindak kriminalitas mereka tersebut tidak bisa lepas dari keberadaan keluarga mereka yang kacau (broken home) sehingga memaksa mereka mencari kasih sayang di jalanan. Ratusan bahkan ribuan remaja berkumpul karena alasan yang sama, broken home, kemudian bersosialisasi dan membentuk genk. Melalui kelompok-kelompok genk-genk inilah mereka hendak menunjukkan eksistensi dan saling memperoleh kasih sayang semu serta mendapatkan keluarga baru di jalanan dengan cara yang salah. Ujung-ujungnya, mereka menganggap pencurian, penjarahan, narkoba, perkelahian massal, dan membunuh adalah sebuah ritual biasa.

Karena tindakan-tindakan kriminal yang mereka lakukan tersebut akhirnya mereka harus masuk penjara di usia belia. Namun, hukuman penjara tidak memberikan efek jera bagi mereka. Tetapi mungkin justru menjadi tempat perkuliahan dan bertukar pikiran antar para penjahat. Diantara mereka yang kemudian bebas dari penjara, tercatat sebanyak 75% diantara mereka akan kembali ke penjara lagi karena kembali melakukan tindak kriminal atau justru menjemput maut di jalanan karena konflik antar genk yang tak jelas dan tak berujung. Film tersebut berdasarkan pada kisah nyata di Camp Kilpatrick dan petugasnya yang berusaha merubah keadaan di AS. Para petugas di Camp Kilpatrick ingin memberikan sumbangsih dalam mengeliminir dan mengurangi tingkat kenakalan remaja AS saat itu dengan cara mereka sendiri.

Cara yang mereka tempuh terbilang lain dari yang lain. Umumnya, para pelaku kriminal selalu diposisikan sebagai sosok bersalah dan harus menerima hukuman atas kesalahannya itu tanpa diberi kesempatan bagi mereka untuk memperbaiki sendiri. Akhirnya, hidup mereka seringkali berpindah-pindah dari penjara satu ke penjara lain. Berpindah dari kejahatan satu kepada kejahatan yang lain sampai mati menjemput mereka.

Namun di Camp Kilpatrick, para penjahat kecil tersebut diberi kesempatan untuk membuktikan diri mereka bahwa mereka bukanlah sampah masyarakat, tetapi sebuah mutiara hitam yang belum terasah. Beberapa penghuni Camp dipilih untuk dilatih menjadi pemain football dalam sebuah tim dari dalam penjara. Mereka diberi bekal motivasi melalui olahraga. Mereka dididik memiliki solidaritas dalam sebuah tim dengan cara yang lebih tepat. Mereka diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri. Tak berhenti dengan berlatih football semata. Mereka pun diberi kesempatan untuk bertanding dalam sebuah liga football melawan tim-tim football di seantero AS, yang nota bene bukanlah para penghuni penjara. Dari sini, mereka belajar merasakan kegagalan, kekalahan, kesedihan, dan kekompakan dalam menjalani ‘sepotong roti kehidupan’.

Dalam tahun pertama uji coba program pelatihan football di dalam penjara tersebut, menghasilkan sebuah data statistik yang membawa angin positif. Kendatipun tidak bisa menghapus kenakalan remaja secara menyeluruh, program tersebut menuai sebuah kesuksesan yang diharapkan mampu menurunkan tingkat kenakalan remaja. Dari seluruh tim football Camp Kilpatrick tahun pertama yang seluruhnya dibebaskan dari penjara, tercatat 24 orang remaja akhirnya kembali bersekolah. Kemudian 3 orang memiliki pekerjaan tetap dan hanya 5 orang yang kembali ke penjara.

Salah satu diantara mereka yang memperoleh pekerjaan tetap bernama Junior Palaita, yang setelah keluar dari penjara, ia bekerja di sebuah perusahaan furniture. Selanjutnya, Kelwin Owens adalah contoh alumni tim yang kemudian melanjutkan sekolah di SMU Washington setelah keluar dari penjara. Di sana ia bermain sebagai anggota tim football setempat. Kenny Bates bersekolah di Redondo Beach dan tinggal rukun bersama ibunya setelah sebelumnya mengalami broken home. Leon Hays yang sebelumnya punya pendapatan sebagai bandar narkoba dengan pendapatan uang 5-10 kali lipat dari gaji sipir penjara tiap bulannya, berusaha menghindari narkoba dengan masuk SMU Dorsy dan bermain untuk sekolahnya. Sedangkan diantara yang kembali ke penjara adalah Miguel Perez dan Donald Madlock. Yang paling membuat sedih adalah Bug Wendel yang merupakan anggota mantan tim football Camp Kilpatrick paling muda yang masuk penjara karena menjambret dan menusuk seorang ibu di jalan, selepas keluarnya dari penjara, tewas dalam sebuah penembakan di Compton. Yang paling istimewa dari tim tersebut adalah bernama Willie Weathers, yang masuk penjara karena membunuh ayahnya, pada akhirnya mendapatkan beasiswa penuh untuk bermain football di sebuah sekolah asrama ternama. Ia sudah meninggalkan dunia genk-nya.

Agaknya, film ini menurutku sangat pantas ditonton oleh para remaja SMP dan SMA yang sedang mencari identitas diri agar dapat menentukan arah yang tepat. Mungkin juga, film ini menurutku sangat pantas untuk ditonton oleh para guru di sekolah-sekolah, kepala-kepala sekolah, dan para guru BP/BK yang terbiasa menggunakan pendekatan sanksi dan hukuman kepada anak didiknya yang melakukan pelanggaran agar berusaha memberikan pendekatan yang lebih kekeluargaan terhadap anak didiknya yang melakukan pelanggaran-pelanggaran dan terlibat kenakalan remaja. Sehingga paradigma lama yang diterapkan oleh kebanyakan sekolah di Indonesia dimana jika ada siswa-siswinya yang melangar lalu disidang di ruang BP/BK kemudian orangtuanya dipanggil dan berujung pada pengeluaran dari sekolah sudah bisa ditinggalkan. Fakta (tanpa data; 🙂 ) membuktikan hukuman dan sanksi tidak membuat mereka jera tetapi justru membuat mereka semakin kuat dan ”kreatif” untuk berulah. Wallahu a’lam.  (Ahmed Fikreatif)

Kalau dah nonton, leave your comments please..!!!!!!!!

Bagi yang belum nonton, tonton aja deh…!!! yang ingin Download, klik di sini – terjemahannya: klik di sini

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

Iklan

9 Tanggapan

  1. Hehe… diriku bukan remaja lagi agaknya. Mana filmnya? Di post dunk untuk di download 😀

    • hmmm, bener juga ya…
      oke deh..
      segera tak tambhkan link downloadnya…

    • link downloadnya sudah ada tuh…

  2. Baru kemarin malam nonton Gridiron Gang di Bioskop TransTV. Apik banget, menyentuh hati, dan inspiratif. Mengingatkan kita, bahwa setiap orang, siapapun dia, dari manapun asalnya, apapun yang pernah dia lakukan di masa lalunya, baik ataupun buruk, punya kesempatan untuk menjadi lebih baik. “And don’t forget to bring your heart” …….

    • @Galuh: Padahal itu film sudah lama ya..
      sy dulu mengajak puluhan anak2 SMP yg dikenal nakal2 untuk nonton ini dan ngambil hikmahnya.
      Setidaknya mereka setelah nonton jd punya motivasi.

  3. Thx Gan..bermanfaat banget buat tugas ospekq..maaf y aq ijin copas ^^

  4. suka bgt sm fil ni… inspiratif bgt…

  5. Ini pilem salah satu favorit gw dr dulu, kalo lg penerimaan anggota pecinta alam dikampus kan kadang suka ada yg bengal tuh, nah gw pake dah kalimat di pilem ini (plus dikit impovisasi)
    “kalau kalian mau menjadi bagian dari kami… Jalani diklat ini DENGAN CARA KAMI,,!! BUKAN CARA KALIAN, TAPI CARA KAMI..!!”
    Dan seringnya berhasil, bahkan gw kaget diklat berikutnya ada junior gw yg meneruskan “pidato” tersebut, krn katanya dia inget bgt waktu gw ngomong gitu…
    Hehehehehe…

    • hahaha
      sip lah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: