Membidik Calo Stasiun Gambir via Kamera


pengguna jasa calo

Bagi yang sering main ke terminal, stasiun, pelabuhan, atau bandara pasti sudah tidak asing dengan yang namanya CALO. Bagi beberapa orang tertentu mungkin tidak sedikit yang pernah dibuat geram dengan perilaku CALO itu. Namun tak sedikit pula yang merasa harus sedikit berterimakasih pula kepada para CALO itu. Calo memang kadang dibutuhkan namun sering menjengkelkan.

Aku tidak tahu darimana kata Calo ini berasal. Apakah dari bahasa Betawi, Jawa, Belanda, atau malah bahasa slang. Yang jelas peristilahan Calo ini kini telah meluas hingga ke ranah bidang-bidang yang luas. Dulu peristilahan tersebut hanya muncul di dunia transportasi. Namun kini Calo juga banyak mengisi di dunia-dunia lain. Ada Calo kasus, calo pembuatan SIM, calo bioskop, calo kasus, calo terminal, calo tiket, calo jodoh, calo caleg, calo partai, calo politik, calo pegawai, calo PNS, calo hukum, dan calo-calo lainnya.

Kali ini aku lagi sedang tidak mood membahas calo secara mendetail. Tapi kali ini aku hanya ingin cerita sedikit tentang ulah calo di Stasiun Gambir beberapa hari lalu saat menunggu kereta Parahyangan menuju Bandung (29 Januari 2010). Sambil potret sana-sini, aku berhasil memperoleh bidikan menarik. Seorang oknum petugas keamanan berhasil tertangkap kameraku saat tengah membujuk dua orang calon penumpang agar bersedia “dibantu” untuk memperoleh tiket kereta tertentu.

Aku jadi teringat sebuah berita di surat kabar beberapa bulan lalu saat menjelang Ramadhan di Kantor Berita Antara. Kurang lebih isi berita itu sebagai berikut:

PT Kereta Api (KA) Daerah Operasional (Daops) VI Yogyakarta akan memberikan sanksi berat hingga pemecatan kepada karyawan yang terlibat praktik percaloan tiket.

“Kami akan beri sanksi tegas dan berat hingga pemecatan kepada karyawan yang terbukti melakukan praktik percaloan tiket maupun bekerja sama dengan calo,” kata Kepala Humas PT KA Daops VI Yogyakarta, Eko Budiyanto, Jumat.

Ia mengatakan, setiap menjelang lebaran, isu praktik percaloan pasti mengemuka, namun pihaknya menjamin tidak akan ada calo tiket di seluruh stasiun kereta api di bawah Daops VI.

“Kami jamin tidak akan ada praktik percaloan tiket di seluruh stasiun yang dikelola Daops VI, baik yang dilakukan para calo maupun karyawan PT KA,” katanya.

Jika ada orang yang melakukan praktik percaloan di area stasiun, akan langsung ditangkap dan diproses pidana.

Ia juga mengingatkan para karyawan PT KA untuk tidak terlibat dalam praktik percaloan termasuk bekerja sama dengan calo. (sumber klik di sini)

Menghapus praktik percaloan memang susah jika tidak ingin dikatakan tidak bisa (bukan maksud bersikap pesimis atau apatis). Namun demikianlah yang kulihat bebera hari lalu saat menunggu kereta di Stasiun Gambir Jakarta Pusat. Secara kebetulan “Sang Petugas Keamanan” mendekati dan bertransaksi dengan seorang calon penumpang persis di depan sebelah kananku berjarak 1,5 met`er. Sayangnya aku tidak berhasil membidikkan kamera tepat saat penyerahterimaan uangnya. Maklum lah, takut terlihat mereka berdua saat memotretnya. 🙂

Aku hanya berharap semoga hal-hal seperti ini bisa dikurangi dan syukur-syukur bisa diberantas hingga ke akar-akarnya. Tidak hanya kepada calo tiket kereta yang paling-paling dapat duitnya tidak seberapa. Namun juga terhadap para calo-calo di bidang lainnya yang lebih besar nilainya. Mari kita mulai dari diri kita, sejak saat ini, dan dari hal-hal yang terkecil, demikian kata Aa’ Gym.

(ahmed fikreatif)

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

 

Menghapus praktik percaloan memang susah jika tidak ingin dikatakan tidak bisa (bukan maksud bersikap pesimis atau apatis). Namun demikianlah yang kulihat bebera hari lalu saat menunggu kereta di Stasiun Gambir Jakarta Pusat. Secara kebetulan “Sang Petugas Keamanan” mendekati dan bertransaksi dengan seorang calon penumpang persis di depan sebelah kananku berjarak 1,5 meter. Sayangnya aku tidak berhasil membidikkan kamera tepat saat penyerahterimaan uangnya. Maklum lah, takut terlihat mereka berdua saat memotretnya.

Iklan

2 Tanggapan

  1. jarang ke stasiun neh bang…

    • makanya sering2 ke Stasiun
      buat bahan tulisan2
      or ngapain kek…
      hahahahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: