Kisah Cinta Ala Bocah Bangku Sekolah Madrasah Ibtidaiyah


Orang bilang, cinta tak mengenal batas usia dan strata. Ungkapan tersebut mungkin tidak lah terlalu salah mungkin. Cinta tak hanya menjadi monopoli manusia dewasa atau orang-orang tua saja, bahkan anak-anak pun juga bisa dan pernah merasakan entah kenikmatan atau musibah cinta itu. Tak terkecuali anak Madrasah Ibtidaiyah (baca: SD).

Saat aku masih berada di bangku SD, tak sedikit ternyata kisah-kisah cinta yang muncul di antara kami. Entah karena perkembangan zaman atau memang sudah normalnya. Diantara kami ada beberapa kwaan yang sudah memiliki ketertarikan dengan lawan jenis.

Berawal dari pacok-pacokan yang muncul saat bermain di kala istirahat dan sela-sela pergantian jam pelajaran antara satu orang dua orang siswa, lalu muncullah jodoh-jodohan. Kebiasaan yang muncul saat aku SD ketika itu adalah menjodohkan orang yang pinter dengan yang sesama pinter.

Qoni’atun Ni’mah (kini telah menikah), kawanku yang hampir setiap terima raport memperoleh peringkat satu di kelasku, kerap dijodohkan dengan Wildan Arsyad Zaki (kini menyelesaikan kuliah koas di FK UNS Solo) yang merupakan lelaki terpintar di kelasku selama 6 tahun. Kedua orang siswa ini kerapkali terlibat persaingan (entah sehat atau tidak sehat) satu sama lain hingga kelas 6.

Wildan yang seringkali dijodohkan dengan Ni’mah sering tersipu malu memperlihatkan muka merah padam yang tak bisa berbohong sedangkan Ni’mah terlihat biasa saja seolah tak menghiraukan guyonan kawan-kawannya. Namun terkadang, Wildan juga kerap memperlihatkan rasa sebel jika seringkali dijodoh-jodohkan dengan Ni’mah. Setahuku, keduanya jarang sekali berbicara. Sekalinya berbicara salah satu dari mereka akan mengalirkan keringat dingin pertanda grogi. Entah karena memang grogi atau karena ada rasa suka diantara keduanya kala itu.

Sahabatku Faris (kini menjadi anggota TNI AL), sang raja berhitung matematika kerap dijodoh-jodohkan dengan Eva Rosdyana. Eva yang kala itu didaulat sebagai siswi tercantik di kelas kerap memperlihatkan raut muka senang dengan jodoh-jodohan itu. Sementara Fariz hanya diam seolah tak menghiraukan perjodohan itu. Fariz memang tergolong kawanku yang pendiam. 180 derajat dari aku yang suka bikin ramai, aktif, lantang kalau berbicara, dan tahu malu. Nama Eva dan Faris kerapkali disatukan dan kemudian dipanggil untuk menggoda keduanya “Eeeeevaris……”. Eva dan Faris.

Sementara itu, Rafki Shidiq kerap dijodohkan dengan Aisyah. Kawan-kawan menjodohkannya dengan Aisyah karena tempat duduk mereka depan belakang. Mereka berdua juga sering terlihat ngobrol bersama. Namun kemudian setelah masuk kelas 5, Aisyah memperoleh penggemar sekaligus fans “gila” baru. Ridwan namanya. Rasa suka Ridwan untuk ukuran anak SD kala itu seperti tak wajar (dalam arti kata: seharusnya tidak dimiliki oelh siswa SD). Di kelas, Ridwan selalu menggoda Asiyah, memperhatikannya, memandanginya, bahkan pernah mengungkapn rasa sukanya. Sikap Ridwan menunjukkan bentuk agresifitas yang sangat terasa. Di depan kelas pun ia seperti tidak merasa malu dengan rasa sukanya itu. Sesuatu hal yang biasanya membuat malu anak-anak SD kala itu. Sementara itu Aisyah bersikap sebaliknya. Ia sering memperlihatkan sikap yang tidak nyaman dengan rasa suka Ridwan. Bahkan ia sering terlihat malu dan tak bisa berkata apa-apa menghadapi agresifitas Ridwan.

Saking sukanya Ridwan yang sedang dimabuk cinta, ia sempat membuat gubahan syair dari lagu Bidadari-nya Andre Hehanusa. Gubahan lagu itu kerap dinyanyikan bersama dengan Pak Suwandi, guru Penjaskes yang juga diduga memiliki rasa suka terhadap Aisyah. Dalam sebuah obrolan kawan-kawan, aku dan Pak Suwandi, beliau menceritakan kekagumannya pada Aisyah, kawanku sekaligus muridnya itu. Salah satu yang sering diungkapkan olehnya ketika itu adalah kekaguman beliau karena Aisyah satu-satunya siswi yang memakai jilbab di sekolah. Itulah kenapa Ridwan pernah membikin entah sebuah sajak atau puisi atau teks lagu berjudul “Si Jilbab Putih”.

Berkumpulnya Ridwan dengan Pak Wandi (panggilan Pak Suwandi) biasanya tak pernah lepas dari pembicaraan tentang Aisyah si Jilbab Putih. Aku yang seringkali ikut nongkrong dalam obrolan-obrolan di ruang kantor selepas pulang sekolah dan ruangan sepi dari para guru hanya senyum-senyum keheran-heranan melihat kawanku dan guruku itu. Beberapa syair lagu keluar meluncur begitu saja menceritakan tentang kekaguman mereka pada kawanku yang satu itu. Salah satu contoh gubahan lagu mereka kala itu adalah Bidadari.

secepat itu hatiku tergoda

semudah itu diriku terbawa

ke dalam satu rasa yang berbeda

seiring gejolak irama asmara

dapatkah kau sejenak menghampiri

dapatkah kau sekilas merasakan

keluh hati yang kini mengagumi

dirimu parasmu dan semua tentangmu

* kuingin ada di hatimu

menggapai mahligai nan biru

sebiru cintaku

reff: usah kau ragu

genggam tanganku

kita menyatu di belaian

asmara-asmara yang indah

dalam pesona ketulusanku

yakinkan cinta kita terus berlanjut

merekah membara menepis kelabu

** bidadari, bidadari

kau putih seputih jilbabmu

bidadari, bidadari, bidadariku

bidadari, bidadari, bidadariku

bidadari, bidadari. oooh

Setahuku, rasa suka Ridwan pada siswi berjilbab putih itu masih membekas di hatinya saat terakhir aku bertemu dia saat ia berjualan stiker di depan SD kami.

Kawanku yang lain bernama Usep, juga hampir sama dengan Ridwan. Meskipun tidak seheboh Ridwan yang pernah menyanyikan lagu “Bidadari”di depan pentas seni SD untuk sang pujaannya, namun rasa suka yang ditampakkan Usep juga membuatku tergeleng-geleng. Dengan mantap dan meyakinkan, ia beberapa kali mengungkapkan rasa sukanya kepada Nour Layla, sang siswi no 2 terpandai di kelas (berdasar pada urutan ranking). Usep yang masih memiliki hubungan kerabat dengan Ridwan agaknya memiliki kesamaan karakter dalam persoalan cinta. Keduanya sama-sama dewasa atau remaja dini serta sama-sama gokilnya jika sedang mabuk asmara. Betapa tidak, ketika kawan-kawan sebayanya belum muncul rasa ketertarikan berupa rasa cinta kepada lawan jenis keduanya sudah berani mengungkapkannya. Sementara ketika kawan-kawannya baru mengawali masa puber, keduanya sudah berpikir bagaimana mewujudkan rasa cinta itu dalam suatu hubungan. Ridwan pernah mengungkapkan untuk mengejar Aisyah sebisa mungkin. Konsekuensinya ia tak pernah menyimpan nama wanita lain di hatinya. Sedangkan Usep sudah menggandeng seorang pacar sejak kelas 2 SMP, memboncengkannya naik sepeda, menghadiahi coklat ata boneka, dll. Untuk ukuran anak usia SD, kurasa mereka “istimewa”.

Sementara aku, ketika itu (SD_pen) belum mengenal yang namanya cinta. Aku hanya memiliki rasa simpati terhadap Ni’mah atas kepintarannya dan pada Aisyah karena satu-satunya siswi yang memakai jilbab di kelasku. Aku belum memiliki rasa ketertarikan pada lawan jenis saat itu namun aku juga bukan seorang yang abnormal dengan mencintai sesama jenis.

Rasa ketertarikanku pada lawan jenis baru mulai ada ketika aku kelas 3 SMP. Beberapa saat setelah aku mengalami mimpi basah, yang kata kawan-kawanku aku terlambat. Itulah mungkin cinta pertamaku yang sempat membuatku mabuk kepayang senantiasa terbayang wajahnya yang terang. Hahahhahahahaha.

Cinta monyet ketika SD, bagaimana dengan anda?

(ahmed fikreatif)

.::: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! )

Iklan

5 Tanggapan

  1. itu cerita diri sendiri ya kawan

    BANIN NEWS
    Dakwah Inovatif: Hip Hop islami pun Menjadi Pilihan Muslim Internasional

    http://tarbiyatulbanin.wordpress.com/2010/01/14/series-dakwah-is-every-where-every-media-every-thing-hip-hop/

    tukeran Link yuk
    http://tarbiyatulbanin.wordpress.com

  2. hahahaha…cinta monyet cinta monyet ….
    selalu inget juga …..

    • monyetnya dimana mas???
      hahahahaha
      😀

  3. kok inget si kamu? ha…ha…. 🙂

    • inget apanya???
      ngalir aja mbak…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: