Cikal Bakal Prameks (1)


Suara petugas stasiun mengejutkanku dari rasa kantuk. Sedikit ku terhenyak dari rasa kantuk dan tersentak oleh suara yang kudengar nyaring dari loudspeaker stasiun Kutoarjo mengumumkan kedatangan kereta.

Pengumuman…pengumuman, Kereta Prambanan Ekspres akan segera memasuki jalur 6 dari arah timur. Kereta Prameks Prambanan Ekspres akan berangkat dari stasiun Kutoarjo dan mengakhiri tujuan di stasiun Palur, Solo dan akan melewati serta berhenti di Stasiun Jenar, Wates, Tugu, Lempuyangan, Klaten, Purwosari, Solo Balapan, Solo Jebres dan akan berakhir di Palur. Kepada para calon penumpang kereta Prameks yang belum memperoleh tiket, silakan membeli tiket di loket 1. Kereta akan berangkat pada pukul 05.50 WIB,” ucap sang petugas.

Kuarahkan mataku pada layar handphoneku. Waktu menunjuk pukul 05.40. Segera aku beranjak dari kursi tunggu stasiun dan menuju toilet mencuci muka. Setelah mata sudah mulai berinteraksi dan menjauh dari rasa kantuk, aku pun melangkah mendekat di jalur 6.

Beberapa saat kemudian, serangkaian kereta dari arah timur muncul. Dengan warna kuning bercampur semu hijau dengan gagahnya mendekat ke arahku dan ratusan penumpang lainnya yang juga telah menunggu sejak lama.

Aku sendiri telah menunggu kedatangan “si Kaleng Kuning” itu sejak pukul 04.20 WIB. Setelah menempuh perjalanan dari Jakarta naik Sawunggalih, aku harus melanjutkan perjalanan menuju Solo dengan kereta yang melewati Solo. Pilihanku kali ini jatuh pada Prameks yang cukup dikenal dan terkenal di kalangan warga Solo dan Yogya. Sedangkan biasanya, Lodaya atau Kahuripan merupakan kereta favorit penerus perjalananku dari Kutoarjo menuju Solo dari Jakarta.

Prameks berjalan semakin pelan dan akhirnya berhenti. Sejurus kemudian, ia membuka pintunya secara otomatis bersiap menyambut para penumpang dengan “hati” yang lapang (sejak kapan kereta punya hati?). Seketika pintu terbuka dengan lebar-lebarnya, sekonyong-konyong ratusan penumpang pun segera masuk berlomba-lomba mencari tempat duduk yang kosong. Tak terkecuali aku. Karena sainganku ibu-ibu dan perempuan-perempuan, aku dengan mudah mengalahkan mereka (bukannya bermaksud merendahkan atau menganggap lemah mereka). Aku berhasil memperoleh tempat duduk. Bukan pula aku tidak mau kalah dan tidak mau mengalah dengan ibu-ibu itu. Hanya saja, aku ingin segera duduk di ujung kursi paling pinggir dekat pintu saja.

Sementara aku duduk, masih terlihat beberapa orang mondar-mandir di depanku mencari tempat duduk kosong yang masih tersedia. Melepas dahaga, kukeluarkan botol air mineral bertulis AQUA dari dalam tas punggung. Airnya masih setengah botol. Kudongakkan sedikit kepalaku ke atas dan kubuka mulutku sambil meminum air dari dalam botol itu. “Alhamdulillah, rasa dahaga sedikit terobati. Terasa badan agak segar.” kataku dalam hati.

Di saat yang bersamaan, kudengar suara petugas stasiun nyaring keluar dari pengeras suara mengumumkan kedatangan Argo Lawu dari arah barat (Jakarta sedang menuju Solo) yang akan melewati Stasiun Kutoarjo di jalur 5. Beberapa penumpang panik karena berharap ingin ‘numpang’ Argo Lawu menuju Solo atau Yogya.

Semenit berselang, ternyata Argo Lawu hanya lewat saja tanpa berhenti. Beberapa penumpang yang masih berada di peron pun menyiratkan wajah penuh kecewa karena karena kereta yang ditunggu itu tidak berhenti. Segera saja mereka berlari menuju loket pembelian karcis untuk membeli karcis Prameks.

Sementara aku, karena kecapekan, kusandarkan bahuku ke belakang, tanganku di atas pipa besi yang berada di sisi kananku. Kaki kujulurkan lurus ke arah depan sedikit menghalangi jalan. Aku sedikit menahan rasa kantuk yang tak tertahankan.

Pukul 06.00, kereta Prameks pun mulai bergerak merangkak berjalan pelan semakin cepat dan melesat meninggalkan Stasiun Kutoarjo. Lima menit berlalu, karcisku telah diperiksa oleh kondektur kereta. Entah sesampainya di daerah mana, aku tiba-tiba tertidur. Rasa kantuk yang tak tertahankan benar-benar memaksaku untuk memejamkan mata serapat-rapatnya. Kali ini aku menyerah. Aku tak mampu lagi melawannya. Aku hilang dalam keterjagaan. Aku merasa sedang berpindah ke suatu suasana baru. Aku ikut dalam episode tidur, bernama mimpi. Mimpi tentang pelajaran sejarah dan cikal bakal kereta Prambanan Ekspress (klik di sini).

***

Badanku tiba-tiba bergoyang seolah terasa ada gempa yang sedang terjadi. Berangsur-angsur, mataku mulai membuka diri. Kawanku yang dududk di sebelah kiriku ternyata membangunkanku.

Heh, dah nglewati Gawok, kamu mau turun mana?” tanya mas Samsuri, yang duduk sebelah kiriku.

“Oh, dah sampai Gawok? Turun Purwosari mas..” jawabku.

Kukemasi perbekalan dan barang bawaanku. Beberapa kali kuusap mukaku dengan saputangan yang sengaja kusimpan di saku dan ku ucek mataku agar sedikit terlihat segar.

Sekitar pukul 07.50, Prameks sampai di Purwosari, aku turun dari gerbong kereta setelah berpamitan dan bersalaman dengan mas Samsuri yang masih akan turun di Palur. (Ahmed Fikreatif)

(Jika Ingin Tahu Isi Mimpiku tentang Sejarah dan Cikal Bakal Prameks, baca klik di sini ! )

NB: Isi Sejarah Bukan Rekaan dan Bukan Hasil Mimpi Lho..!!!

.::: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) :::.

NB: Galleri Foto-Foto Kuda Putih sudah ada di link ini (klik di sini)

Iklan

Satu Tanggapan

  1. cerita fakta yang menarik..walaupun kebanyakan tidur..bagus aja gak kelewatan..coba klo kelewatan..mungkin lebih lucu lagi..nasib nasib nasib..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: