Gaya Wanita Membonceng Motor


Waktu ke Bandung hari Sabtu, 30 Januari 2010, beberapa hari lalu, ada beberapa hal yang menarik untuk kujepret via kamera Casio Exilim EX-Z75 ku. Meskipun kamera murah, tapi cukuplah kalau sekedar untuk jepret objek-objek menarik hati untuk selanjutnya untuk di-share-kan melalui blog.

Pegang Erat-Erat Biar Ga IlangHmm…. gambar / foto disamping kuambil saat aku sedang berada di dalam Angkot menuju Kalapa dari Bandung Electronic Center (BEC). Aku lupa tepatnya di kawasan jalan apa. Iseng saja saat dari arah belakang aku melihat ada sepasang sejoli sedang asyiknya berboncengan “cadas” kucoba membidikkan kamera pocket murahku. Cepret, berhasil. Dan gambar di samping adalah hasilnya.

Beberapa diantara anda mungkin pernah membonceng seperti itu (hayoo ngaku.. :D). Meski mengenakan rok, namun hasrat untuk berposisi duduk dengan gaya cowok di atas motor bukanlah sebuah halangan.

Bagi para cewek, gimana rasanya berposisi duduk di atas motor dengan posisi seperti itu sih? Apa tidak merasa ribet? Kalau dari sisi safety riding, mungkin gaya membonceng seperti pada foto tersebut mungkin lebih aman dan safe. Konon, gaya membonceng khas perempuan Indonesia yang duduk menyamping sebenarya tidak recommended karena lebih berpotensi bahaya untuk terjadinya kecelakaaan. Mungkin, faktor ketidakseimbangan mempengaruhi faktor tersebut. Titik bobot motor sudah pasti berat sebelah. Secara otomatis, hal ini berpengaruh pada usaha pengemudi untuk menyeimbangkan kemudi harus lebih ekstra.

Namun, gaya wanita membonceng seperti gambar tersebut oleh masyarakat umum di Indonesia masih dirasakan sebagai sebuah hal yang tak lazim (terlebih jika mengenakan rok), pamali. Aku sendiri juga tidak mengerti kenapa gaya membonceng seperti itu disebut kurang sopan bagi seorang wanita. Kalau dari sudut pandang Islam, aku pun belum mengetahui pendapat para ahli fiqih tentang bagaimana seharusnya posisi duduk seorang wanita saat membonceng sepeda motor ( 😀 ).

Sementara bagi para cowok, gimana rasanya jika memboncengkan seorang wanita dalam posisi duduk seperti pada foto di atas? Sayangnya, aku sampai hari ini belum pernah memboncengkan seorang wanita dengan gaya membonceng seperti itu terlebih jika mengenakan rok. Konon, kata teman-teman cowok yang pernah bahkan sering memboncengkan dengan gaya seperti itu, sepanjang perjalanan jantung akan berdebar relatif lebih kencang dari biasanya. Tentunya titik kecepatannya bergantung pada jam terbang dan siapa yang diboncengkannya. Apa benar seperti itu? 😀 (hayoo brader,, ngaku aja je..).

Dalam istilah orang Jawa, gaya membonceng seperti itu sering disebut dengan istilah nyetut (nyabuk_berasal dari kata sabuk) atau ngarit (berasal dari kata arit yang berarti sabit) atau nylurit (berasal dari kata clurit, sebuah senjata khas Madura). Disebut nyetut karena tangan pembonceng memegang sabuk dan bertindak seolah-olah menjadi sabuk bagi yang memboncengkan. Disebut dengan ngarit atau nylurit karena tangan pembonceng melingkar membentuk sabit atau clurit.

Kapan ya,,,, aku bisa memboncengkan seorang wanita seperti itu? Hahahaha. LoL. 😀

(just kidding).

Beberapa hal lainnya yang menarik hasratku untuk kupotret dan berhasil kubidik antara lain:

  1. Bapak Penjahit di Tepi Jalan Perempatan Tugu Sepatu;
  2. Tugu Sepatu Menuju Cibaduyut;
  3. Persib Harus Nomor Satu;
  4. Stasiun Bandung;
  5. Kantor Gubernur-an;
  6. Pemilihan Ketua RW di Perumahan Sukamenak;
  7. Air Bersih Masih Dibutuhkan Meskipun di Perumahan;
  8. Jembatan Pasopati;
  9. Nasi Oseng Depan Stasiun Bandung;
  10. Siswi SMA Nyeberang Jalan;
  11. Sepasang Sejoli Naik Motor Erat-Erat;
  12. Anjing Dilarang Bermain Di Taman;
  13. Musisi Jalanan Bandung;
  14. Pasar (kaget) Buah-Buahan Sepanjang Jl. Otista;
  15. Tukang Mie Rebus Keliling;
  16. Zahra, The Little Cute Girl;

(ahmed fikreatif)

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

Iklan

16 Tanggapan

  1. kowe saiki neng bandung toh mas. jos noh…mbok dolan2 neng smaku. hehehe…

    pingin rono meneh.

  2. sayangnya yang difoto bukan cewek cuantikk…
    hihihi..
    ymnya apa mas

  3. @Ressay: ora, aku kui cuman maen ke Bandung. Sambil maen, jepret sana jepret sini.
    SMA MUTHAHHARI to??

    @Annosmile (jenengmu angel: tak singkat ISMAIL wae ya?):
    wah, pikirane cuma cewek cantik wae….

    ym: ahmedfikreatif

  4. kui mah jik biasa wae mas… Luwih yahut meneh yen pas malem minggu daerah ciwalk ato pvj. Mesti luwih duwur timbang kui…

  5. @Ardian: Bukane asyik di DAGO??? hehehehee..
    aku mumet lewat kono….
    akhire nongkrong di Gedung Sate sing rodo sepi…
    ngombe Susu…

    sik..sik… brati ente sak angkatane Ahmad Mujahid ga???
    terus muride Kang Budi Rahardjo ya???
    -the IDOL BLOOGER-

  6. mbonceng mlangkah begitu itu lebih aman dan nyaman baik bagi pembonceng maupun yang diboncengi. relatif lebih seimbang ketimbang nyemplo.
    kalo pake rok di atas lutut menurutku malah lebih aman begitu. kalo nyemplo malah ribet nutupin bagian lututnya, jangan sampai mlongo…
    kecuali pake rok panjang yang span, baru ribet. mosok mau dinaikin sampai ke atas lutut? ga lucu kan?
    aku sendiri kalo pake rok panjang yang luebar, masih tetep milih mlangkah kok.
    soal mau nyetut atau enggak, ya tergantung sapa yang di depan to ya…..

    • oooww,,, begitu ya mbak La..

  7. udah sering boncengin baik yg ber-rok maupun yg tdk ber-rok :))

    • yen kui brati pancen filme Warkop DKI. Depan Bisa Belakang Bisa.

  8. aku hampir selalu mbonceng dengan gaya mlangkah gitu kok. simply karena lebih aman dan praktis saja. karena kalo aku sendiri mboncengin orang yang duduknya miring itu memang berasa banget lebih repot keseimbangannya. soal gaya pegangan ke si pembonceng, itu baru ditentukan siapa orangnya dan seberapa tingkat kedekatannya 😀

  9. mau nyatut, mau ngangkang sok lah…
    sama aja, tapi resiko tanggung penumpang misal dengkulnya lecet!!!

    tapi yg sekarang tak deleng, jarang yang mbonceng miring, walaupun pake rok tetep aja nyaman tuh…

    ayo mbak mbak yang mau tak boncengin nyatut monggo.. hehehe

  10. halah, kowe ki kok ngimpekne hal-hal sek koyo ngono to fik. jyan bocah iki. nek tontonan ngunu kuwi, aku yo lagi reti nak jakarta. sak durunge babar blas duruk pernah

  11. @mbak Oelpha: kalao pakai rok pendek juga gitu>??? bagus.. bagus .. bagus…

    @slams: sing ditonton ibu2 or mbak2??? salah ndeleng kale…

    @ Kuro / camagenta / kurnia: wah, brati sak durunge kw d jkarta, kw ra gaul …. LoL

  12. Paling sebel kalo di jalan liat sepasang kekasih yg berboncengan seperti gambar diatas. Tapi.. pengen juga sih. Hehe.. Somewhere… with my husband offcourse.. 😀


    AHMED berkata: owww.. begitu ya? dah punya misua to ternyata…. baru tahu.

  13. harus pake rok panjang tuh ceweknya, dan bonceng samping, jangan bonceng ngadep tengah gitu. 😀

    • @Asop: tapi masalahe..
      safety riding tuh yg bener tdk menymping Sop..
      yg bener yg di foto itu…
      cuman pakai celana panjang

      km sih sukanya cewek ber-rok

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: