Indahnya Sholat Jamaah di dalam Gerbong Kereta


Sholat adalah salah satu dari rukun Islam yang utama. umat Islam merupakan ibadah biasa yang sering dilakukan setiap harinya. Secara ritual, ia adalah ibadah biasa yang selalu dilakukan setiap harinya. Namun secara pengertian menurutku sholat bukan ibadah “biasa” yang mudah kita remehin begitu saja.

Rasul SAW, bersabda: “Batas antara seorang muslim dengan kemusyrikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim); dan “Perjanjian antara kita dan mereka adalah shalat, maka barangsiapa yang meninggalkan shalat berarti ia kafir.” (HR. Ahmad 5/346, At-Tirmidzi no. 2621, Ibnu Majah no. 1079).

Berdasar dari filosofis sabda Sang Nabi itu pun orangtua ku dari kecil senantiasa menjaga dan mendidik sholat anak-anaknya. Tak segan-segan, anak-anaknya dipukul dengan rotan saat menginjak usia remaja jika enggan menegakkan sholat. Nasehat orang tuaku yang paling kuingat tentang sholat adalah “Le.., nang ndi wae kowe ono, ojo pernah do ninggalke sholat meskipun pas kahanan sing angel. Yen pas nang nduwur kereto misale wes manjing wektu sholat, ndang sholato. Pokoke nang ndi wae kudu eling sholat. Uwong kui ora ono sing ngerti pati” kata ibu.

Sementara ayahku menasehati anak-anaknya sewaktu kecil, “Sholate wong lanang kui WAJIB nang mejid! Dadi yen ora ono alangan, kudu mlaku nang mejid nindakke sholat jamaah. Yen ora nang mejid, mending omahe kui diobong wae.” kenangku.

Kemaren, tanggal 3 Januari 2010, aku naik kereta menuju Jakarta dari Stasiun Balapan Solo menggunakan sarana Senja Utama Solo barengan sama mas Samsuri dan Mas Farhan. Sementara itu, pak Husodo menunggu di Stasiun Tugu Yogyakarta. Kereta berangkat pukul 18.00 WIB tepat dari Solo Balapan. Keberangkatan kereta selisih sedikit dengan masuknya waktu maghrib untuk wilayah Solo dan sekitarnya, maka kami bertiga pun memutuskan sholat di atas gerbong.

Biasanya, kalau sholat di atas gerbong kereta, aku menunaikannya secara munfarid (sendiri-sendiri). Namun kali ini agak berbeda, kami sholat maghrib-isya (dijama’) secara berjamaah di atas gerbong kereta. Secara kebetulan, tempat duduk kami berada dalam satu baris, 5A-5B-5C-5D.

Setelah mengambil tayamum, kami pun memulai sholat. Bertindak sebagai Imam adalah mas Samsuri yang berada di duduk di kursi 5C. Duduk di sebelah kanannya ada mas Farhan, kursi 5D. Sementara aku berada di kursi 5B, sebelah kiri mas Samsuri namun terpotong jalan untuk jalur lewat para penumpang.

“Allahu Akbar…” seru mas Samsuri dengan nyaring seraya mengangkat kedua tangan bertakbiratul ihram. Aku dan mas Farhan pun mengikutinya. Rekaat demi rekaat, singkatnya kami pun selesai menunaikan sholat Maghrib dan Isya’. Setelah salam, kami dzikir sehabis sholat beberapa saat seperti biasa.

Tak kusangka, perilaku kami yang sholat berjamaah di atas gerbong kereta itu menyita sedikit perhatian beberapa mata di dalam gerbong. Tentunya, aku tidak tahu apa yang ada dalam benak mereka. Seingatku, inilah pertama kali aku menunaikan sholat berjamaah di dalam gerbong kereta api dengan menyaringkan bacaan Al Fatihah dan bacaan al Quran pada rakaat pertama dan kedua.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اْلأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلاَّ الْمَقْبَرَةَ وَالْحَمَّامَ

“Bumi itu semua merupakan masjid kecuali kuburan dan kamar mandi.”

(ahmed fikreatif)

Iklan

3 Tanggapan

  1. luar biasa..sholat memang harus dilakukan (sholat fardhu) kapanpun dan dimanapun..bila sudah waktunya.. 😆

  2. tetap lh mnjdi org yg beriman

  3. mas, ane mampir baca2 sambil nyedot gambar uniknya 😀
    salam kenal..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: