Potret Buram Perilaku Oknum Tentara di atas Gerbong Kereta


23 Desember 2009. Pukul 18.30 WIB, aku dan mas Agus ke Stasiun Senen. Kami memang berniat pulang kampung naik kereta. Aku menuju Solo, sementara mas Agus menuju Yogyakarta (Bantul tepatnya). Kami sengaja naik kereta Sawunggalih jurusan Kutoarjo demi menghemat biaya dan agar bisa sampai Solo / Jogja lebih cepat / pagi.

Singkatnya, kami selanjutnya masuk ke gerbong Bisnis 3, dengan nomor tempat duduk masing-masing 4A dan 4B. Langsung saja aku gelar tikar seharga Rp. 5.000,- yang baru kubeli dari pedagang asongan stasiun, di bawah kursi tempat duduk kami.

Beberapa saat kemudian masuklah seorang pasangan suami istri muda menggendong seorang bayi mungil dari arah depan ku. Lalu mereka duduk di kursi depan tempat duduk ku. No. 3 A dan 3 B. Ia pun memandang melirik ke arah samping tempat duduknya. Ada dua orang serdadu berseragam loreng pasang muka seram. Saat aku melihat ke arah pria dari pasangan muda yang duduk di depan ku, aku menduga ia memiliki tiket bernomor tempat duduk No. 3 C atau 3 D, yang sedang diduduki dua orang serdadu itu.

Beberapa saat berselang, terdengar suara pelan dari pria yang duduk di depanku. “Maaf pak, ini tempat duduk saya, ini bukti tiketnya. Saya mau duduk di sini pak. Apa bapak berdua punya tiket yang bernomor tempat duduk (3D atau 3C) ini, pak?” tanyanya dengan sopan kepada dua orang serdadu yang tengah duduk.

Situ lho, di atas masih kosong. Mau apa?” jawab seorang serdadu dengan pasang muka seram dan mata agak menekan.

Terjadilah kemudian sedikit perdebatan kecil antara sang pria dengan serdadu itu.

Aku yang melihat pembicaraan itu pun langsung secara reflek ikut-ikutan menengahi. Ternyata, dua orang serdadu yang sedang duduk di kursi nomor 3C dan 3D itu tidak bisa menunjukkan tiket sama sekali. Menurut dugaanku, memang mereka tidak membeli tiket kereta. Lalu saya katakan kepada keduanya, “maaf mas, kalau penjenengan berdua tidak bisa menunjukkan tiket bernomor kursi ini, maka tempat duduk ini menjadi haknya mas-nya ini,” kataku agak menekan, seraya ku arahkan tanganku ke arah sang pria, “jadi mohon hargai mas-nya yang telah rela membeli tiket mahal-mahal. Dan silakan penjenengan berdua memberi contoh yang baik dengan tanpa paksaan pindah dari tempat duduk ini.” kataku kepada keduanya melanjutkan.

Kalau mau, tuh duduk di atas saja! Masih kosong khan?” jawab salah seorang serdadu dengan ketus.

Seketika juga kutatap dengan mata menekan ke arah si serdadu dengan pandangan membakar. Gejolak emosiku langsung terpancing dengan jawaban “tidak sopan” dan “keterlaluan” salah seorang serdadu itu. Ingin rasanya kutampar mukanya dan kumaki-maki. Namun karena aku merasa kurang nyali, aku pun mengurungkan niatku. Aku nyadar kalau kumaki-maki kedua serdadu itu, justru aku yang akan dapat masalah. Aku pun mengutuk diriku sendiri yang lemah melihat kedzoliman di depan mukaku. “Andai aku diberi keberanian dan kekuatan fisik,” andaianku menerawang.

Aku pun langsung duduk kembali di tempat dudukku sambil mengutuk kedua serdadu itu dalam hati.

Apa dengan seragammu itu kau mau membuat orang-orang takut padamu? Apa kau pikir kau yang punya perusahaan kereta ini? Apa kau pikir pakaian yang kau kenakan itu adalah milikmu? Seragam itu , kamilah (rakyat) yang membelikannya untukmu agar kau bela kami dari kedzaliman, bukan sebaliknya, wahai Serdadu!!!” batinku dalam hati geram.

Aku pun berdoa dan berharap dalam hati, semoga nanti di Jatinegara, ada banyak orang yang mau bersama-sama mengusir dua orang serdadu ini dari tempat duduk yang bukan hak nya itu.

Puji syukur kehadirat Allah SWT. Sesampainya di Jatinegara, puluhan rombongan masuk ke gerbong kami. Salah seorangnya adalah pria berbadan tegap mengenakan tas pinggang. Isepertinya, ia kaget melihat tempat duduknya diduduki dua orang serdadu itu.

Sesaat ia memandang ke arah dua serdadu yang sok itu. Ternyata, ia memiliki salah satu tiket bernomor tempat duduk yang sedang diduduki oleh dua serdadu itu, sama dengan yang dimiliki pasangan muda yang duduk di depanku.

Mas, maaf mas, ini tempat duduk saya mas, mohon sampeyan pindah mas…!” kata pria berbadan tegap yang naik dari Jatinegara.

Seperti yang kuduga, salah seorang serdadu itu pun menjawab sama dengan apa yang ia jawab kepadaku sebelumnya.

Situ lho, di atas masih kosong. Mau apa?” jawab seorang serdadu dengan pasang muka seram dan mata agak menekan.

Mendengar jawaban yang tidak mengenakkan itu, pria itu kemudian menengok ke arah gerbong belakang. Dengan mengirim kode sambil bertepuk tangan ke arah gerbong belakang, ia memanggil kawannya.

Hey, bisa ke sini sebentar nggak? Ada masalah kecil nih…” teriaknya ke arah belakang.

Aku memahami bahwa pria itu hendak mengajak kawan-kawannya mengusir dua orang serdadu itu. Secara reflek, aku pun langsung berdiri berusaha ikut membantu mensupportnya. Begitu pula yang dilakukan pria yang duduk di depanku yang merasa punya hak atas kursi tempat duduk itu pula.

Hey, bisa ke sini sebentar nggak? Ada masalah kecil nih…” teriaknya mengulang ke arah belakang. Aku pun juga ikut-ikutan menengok ke arah belakang gerbong. Tak kusangka, kawan-kawan pria berbadan tegap itu berdiri dan berjalan mendekat ke arah pria itu. Begitu pula dengan para penumpang pria lainnya. Beberapa orang yang sebelumnya telah melihat arogansi serdadu itu juga ikut-ikutan berdiri berjalan ke arah dua orang serdadu itu. Dan dua orang serdadu itu pun kulihat kaget juga melihat reaksi para penumpang di dalam gerbong. Terjadilah kemudian sedikit ketegangan dan adu mulut sesaat.

Hingga pada selanjutnya, melihat reaksi beberapa penumpang di dalam gerbong yang banyak yang mendekat sambil menatap dua orang serdadu itu, dua orang serdadu itu pun menyerah juga. Selanjutnya mereka serahkan tempat duduk keduanya kepada pria yang duduk di depanku dan pria berbadan tegap. Dua orang serdadu itu pun harus berdiri. Aku tidak tahu apakah mereka merasa malu atau tidak dengan perbuatan mereka.

*****

Kejadian yang kulihat dan kualami ini mungkin sering kawan-kawan lihat atau alami juga. Perilaku oknum-oknum serdadu, demikian aku lebih suka menyebut mereka daripada menggunakan istilah tentara atau TNI, yang dengan arogan dan sombong menteror warga sipil. Tingkah polah para oknum serdadu berseragam loreng ini sering kita lihat dalam berbagai kesempatan. Terkadang, aku melihat mereka (meskipun tidak menjeneralisir) kok mirip dengan penjajah Londo (Belanda_red) yang dengan arogan “beraksi” di balik seragam loreng… Tapi, wajar juga sih kadang aku merasakan perilaku mereka. Lha wong, senior-senior mereka saja memberi mereka contoh serupa. Lihatlah perilaku Soeharto yang mantan serdadu a.k.a tentara. Rakyat pun dibuat takut dengan kebijakannya selama 32 tahun. Razia Tiket KA, Petugas Adu Mulut dengan Oknum TNI; Oknum TNI Pukuli Warga Padang Tarok Kabupaten Agam; Oknum TNI AD Mabok Lakukan Penganiayaan Dengan Sangkur; Anggota TNI Yonif  751 Sentani Rampas Kamera Wartawan Sentani News; Bentrok Oknum TNI vs Polri; Lakukan Pemerasan, Mantan Anggota TNI Ditangkap Polisi; Tentara Mabuk Nabrak Tiang sampai Ambruk; Apa memang seperti itu perilaku militer dan mantan-mantan militer? Wallahu a’lam.

NB:

Identitas kedua orang serdadu a.k.a TNI yang menjadi tokoh utama di atas sempet kutulis dalam kertas. Nama keduanya adalah Agus P. dan Nur Kholis. Demikian yang kulihat jelas di nama dada keduanya. Serdadu yang menjawabi pertanyaan-pertanyaan adalah yang bernama Agus P, sementara Nur Kholis lebih banyak diam. Keduanya meruapakan TNI AD sebagaimana identitas yang terletak di seragam mereka. Di sebelah lengan kiri (kalau tidak salah) seragam Agus P tertulis RINDAM VI, sementara Nur Kholis tertulis DIT 21 (demikian yang berhasil kubaca, mohon dicek bagi yang paham dunia ketentaraan). Dari tanda pangkat berwarna merah keduanya dugaanku mereka berpangkat kopral dua. (silakan lihat arti tanda pangkat militer di link ini: click here).

Iklan

42 Tanggapan

  1. wah mas.. kalo yang seperti ini makanan saya tiap akhir pekan.. emang si gak pake seragam tapi da keliatan dari postur tubuhnya.. apalagi kalo pake bawa pisau komandonya..
    beraksi sebagai calo di kereta api jkt-jgj
    standar banget mas…

    • hehehe, emang sih pasti ada tiap pekannya di semua kereta. “Lurah-nya” pun juga oknum2 Surodadu itu..
      yg ingin sy bagi adalah bahwa jika suatu saat kita pd situasi seperti ini, maka jgn takut untuk memperjuangkannya. Pasti banyak org di belakang kita. Tentunya liat situasinya juga…
      sambil kita doakan para oknum itu menyadari tingkahlaku mereka…
      bukan begitu mas Bocipalz…..???

      • setuju mas..
        kalo benar kenapa mesti takut..
        jiper boleh laaah.. 😛

  2. Dari dulu tentara emang terkenal arogan, apalagi anak tentara, sok banget, banyak gaya!

    • hehehehe, yg ngomong bukan saya lho mas..
      tapi penjenengan lho…

      and btw, saya cucu Letnan Kolonel lho mas….
      hik hik hik…., beliau sudah meninggal dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Cikutra – Jl. Pahlawan Bandung….

  3. Klo aq di depan stasiun gubeng Surabaya ada pos polisi kena bentak.
    Padahal saya numpang istirahat di tempat duduk depan pos tersebut.
    Katanya “HOE!!!” dengan nada membentak dan muka garang aq di suruh pergi dari situ.
    Abis membentak aq tu polisi leyeh2 sambil nonton TV g bekerja sama sekali.
    Dalam hati aq hanya bisa berkata, “Beginikah moral aparat bangsa ku ya Allah??”

    • sabar mas… hik hik hik… suk mben meneh dibales wae ra popo mas…

  4. hehehe saya dulu juga pernah mo jadi korban kaya cerita ndek atas, alhamdulillahnya waktu itu bareng Ayah, dan Ayah saya kaya nya lebih tegas daripada tentara yang mo ngerjain itu.
    Jadinya tentara nya yang kabur
    Aseli lho, harus belajar lebih tegas, ntar kalo bareng kluarganya piye. Anak cowo nya ndak bisa tegas….

    • @Fara: hehehhee…. jangan2 ayahmu jendral? ya pantes kalo tentaranya kabur….
      hik hik hik

  5. Ya emg kya gtu mas, emg c psti ada aparat yg bner” bkrja n brtgas dgn baik kpd bngsa, tpi y g sdkit kn yg “mnindas” sipil?
    Kk’a kakek sya jg tntara mas, tpi bnyk bgd kn org Indonesia tu cucu para pjuang yg bnr” brjuang bwt mmrdkakan bngsa kita

    • inggih Gan..

  6. aparat bejat ! ada kelamahan mas…… tendang saja anunya…. dah koit dia! lawan saja …kenapa takut

    • @Dora: wah, nt ekstrem Gan…

      hehehehe

  7. waduh, rata2 pada sakit hati semua sama aparat… satu salah semua kena… klo di balik keadaannya kira2 siapa yg salah juga ya… ??? hmmm… jawabannya ada di langit… hehehehe

    • @Streng: Oknum yg banyak akhirnya ya dikatakan semua model2nya ya kayak gitu…

  8. komen saya pendek aja Mas….
    Aparat yang keparat…. ! 🙂

    • @Ibnu: no comment 😀

  9. ayo maju terus tentara……….

    kamulah pejuang sesungguhnya………………….

    hajar terus…….

    aku membelamu tentara ku………..

    dah gaji kecil tapi kerjaan paling berat…..

    makanya hajar saja terus pak tentara………….

    • @Leo: lg kumat gila nya mas?

  10. perlu pembinaan mental lebih lanjut terhdap para serdadu,….

    • @Derao: betul, tugas itu dilaksanakan LSM lg? hehehehe
      dibina mentalnya biar tdk sprti penjajah

  11. Wah emosi banget ane ngebaca pengalaman mas ahmed nih. Oknum serdadu kronco itu mah harus di benahi mental mental nya bukan cuman fisik aja yang di olah. Nice share mas. Tegakkan terus kebenaran 😀

    • @Maminx: SIAP !!!!

  12. saya rasa yang model begini bukan hanya tentara, tapi njuga banyak oknum negera yang seharusnya jadi teladan dan pelindung rakyat, malah sukanya menindas rakyat. Tidak heran rakyat kita menjadi brutal dan anarkis akhir-akhir ini tehadap apapun, karena sudah capek ditindas. Ditindas kompeni masih bangsa lain, nah ini ditindas bangsa sendiri..
    Tunggu saatnya “people power” seperti tahun 1998, atau sekalian saat “GOD POWER turun saat kiamat.

    • @Grace: wedew.. kok sampai people power segala to Bu.. :-s >.< syerem…

  13. ga semua bro itu oknum tni,

    • @Jolly: Lah, dr awal pun sudah kubilang oknum khan???
      cuman kalao oknum kok hampir semua… 😦

  14. ini postingan tahun 2009 mas? bagaimana kabar si oknum tersebut? nyebut nama, pangkat dan kesatuan apa ga sayang nyawa mas :mrgreen:

    • @R10: Iya… wah, kagak tahu gimana kabarnya dia skrg..
      semoga sadar saja. amiin

      heheehhe3x sayang lah …
      itu khan amanat dari -NYA

  15. wahh postingan taun 2009 Tentara Gadungan Kali ya..? Tentara asli mah Punya Sumpah Sendiri untuk Melayani Rakyat.!

  16. Mengapa Oknum bisa seperti itu…???????????????????…
    Bukan mata lebar2…. !!! !….
    Buka mata lebar2…!!! kawan…………..!!
    “Mungkin karna DIA LAPARRRRR………!!!
    “Mungkin …!!!

    • prajurit rendah dengan gaji kecil dan rumah dinas dengan dinding papan, bahkan sudah pada lapuk, ada proyek pembangunan rumah prajurit selalu dipermasalahkan, ada pemberontakan selalu didepan dan menjadi sorotan, tragis nasipmu wahai serdadu, ingat lagu iwan fals…… “SERDADU”

  17. eeeehhhh…
    g semua TNI atau POLISI seperti itu..
    suami ku yg TNI . dan ayah ku yg seorang POLISI..
    gak pernah itu melakukan hal seperti itu..
    n kawan2nya juga..
    mungkin kalian pada iri aja gak bisa jd TNI atau POLISI..
    kasian bgt..
    jadi bisanya menghujat…
    TNI POLISI jg manusia, terkadang juga punya khilaff….
    tak ada mereka negara jg gak aman..
    tah kalo d dalam kereta itu ada kejahatan ky copet, rampok atau kreta d bajak..
    paling yg maju duluan jg APARAT..

    • baru2 ini terjadi lagi, tindak kekerasan di dlm perjalanan dgn kereta api. anggota Polsuka yg menjadi korban. apa komentar anda tentang ini?

    • g smua sih, tp 99% watak tentara KERAS !
      bla elu jd gue, gak akan mgkin elu komen kek gtu. kcuali nutup2in “borok”.
      gak ada salahnya menghujat sesuai “fakta”

    • Mungkin ayah dan suami anda tdk pernah menggunakan layanan kereta api, dan anda pun tak pernah naik kereta api. Kejadian sprti ini terjadi pd setiap akhir pekan(yg sy tahu).
      Mengabdi kpd negara sdh menjadi tugas TNI/POLRI. Termasuk melindungi rakyat. Kenapa ini malah rakyat yg jd korban.

  18. Mungkin hanya sebagian besar saja yang ketahuan…
    salam sepur mania

  19. makanya beli mobil sendiri …..jd gak di ganggu ma tentara

  20. Kalo rekan2 dengar sdr2 kita dulu di Aceh, Timor-timur, Papua (dulu Irian), kejadian yg seperti ini hampir terjadi di seluruh aspek kehidupan, bahkan jauh lebih bengis dari itu hingga jatuhnya korban jiwa hanya oleh suatu kejadian yg sepele. Maka suatu hal yg logis terjadi pergolakan di sana sebagai reaksi alamiah akibat dari suatu arogansi yg terus menerus terjadi, bahkan sampai ada usaha pemisahan diri dari NKRI. Kita selalu dicekoki oleh semangat nasionalisme tanpa tahu secara detail tragedi kemanusiaan yg hampir tiap hari terjadi. Tanpa bermaksud menyalahkan siapa pun, seharusnya pemerintah, petinggi militer & POLRI menyadari hal ini, dan melakukan “pembinaan” yg intensif kpd aparat2-nya.

  21. Selamat mlm mas ijin tuk komentar itu kejadian dimana ja klo blh tau mas…….thank’s

  22. Selamat mlm mas ijin tuk komentar itu kejadian dimana ja klo blh tau mas…….thank’sl

  23. Muda”h’an nasib tni kita bkl lbh baik lgi amin…..hidup CPM jadilah pelopor di kesatuan militer…..!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: