Kisah Ayahku dengan “Wanita” Misterius Bercadar Hitam


Kisah ini diceritakan oleh kedua orang tuaku, sepulang beliau bedua dari tanah suci. Sak swijining dino (Pada suatu hari / once upon time ), ayah dan ibuku bersama-sama hendak melempar jumrah. Sesampai di lokasi, kedua orang tuaku melempari sebuah bangunan dengan kerikil-kerikil yang telah disiapkan sebelumnya dalam sebuah kantung.

Saat tengah melempari jumrah, tiba-tiba ada seseorang mendekap erat dan memeluk “mesra” ayahku. Tangan yang satu memegang pundak kanan ayahku, sementara tangan yang satunya lagi memegang erat pinggang kiri ayahku. Seseorang itu mengenakan pakaian dan jilbab serba hitam. Ia pun mengenakan cadar hitam. Dari atas hingga ke bawah, semuanya tertutup rapat dengan pakaian hitam. Entah ayahku keenakan (hehehehe, sory Dead…:) ) atau tidak tahu harus berbuat apa entah kaget semu bingung, ayahku hanya diam terbisu.

Sesaat kemudian, ibuku melihat kejadian itu. Ibuku melihat saat ayahku masih dipeluk “mesra” seseorang bercadar hitam itu. Ibuku merasa cemburu dan marah serta menunjukkan rasa tidak terima. Secara reflek ibuku pun berteriak, “Hadza Haram…! Hadza Haram…!…” teriak ibuku berkali-kali sambil mengayun-ayunkan kepalan tangannya memberi isyarat hendak memukul dan mengusir serta memaksa orang bercadar hitam itu melepaskan pelukannya dari ayah. Mata ibu pun memperlihatkan aura kemarahan bercampur kecemburuan terhadap orang bercadar itu.

Sesaat kemudian, seketika si orang bercadar hitam itu pun melepaskan ikatan pelukannya dari tubuh ayahku. Ibu merasa lega dan reda kemarahannya.

*****

Di waktu yang hampir bersamaan dan tempat yang tidak terlalu jauh, ada kawan satu rombongan haji orang tuaku yang juga sedang melempar jumrah. Sebutlah namanya pak Fulan.

Pak Fulan juga mengalami kejadian yang hampir sama dengan apa yang dialami oleh ayahku. Ia dipeluk erat dan mesra oleh seseorang yang berpakaian tertutup rapat serta bercadar hitam.

Sesampainya di Maktab (pemondokan), pak Fulan bercerita kepada penghuni maktab bahwa ia habis kehilangan (kecopetan) ponsel. Dugaannya, pencopetnya melakukannya saat ia sedang melontar jumrah. Tak salah lagi, ia pun menduga keras bahwa pelaku pencopetan ponselnya adalah seseorang yang berpakaian rapat dan bercadar hitam yang memeluknya saat sedang melempar jumrah.

Mendengar penuturan pak Fulan, orang tua ku pun kemudian menceritakan kejadian serupa. Syukur alhamdulillah, orang tuaku tidak kehilangan barang apapun kala itu.

Mereka pun yakin bahwa seseorang bercadar hitam yang memeluk pak Fulan dan ayahku adalah tersangka utama pencopet ponsel pak Fulan. Mereka tidak mengetahui apakah seseorang bercadar hitam itu seorang wanita atau laki-laki yang menyamar sebagai wanita bercadar hitam.

Tulisan ini dimaksudkan kepada para calon-calon jamaah haji tahun depan agar lebih bisa berhati-hati lagi dari kemungkinan-kemungkinan dicopet atau dijambret. Tulisan ini bukan kumaksudkan untuk menyudutkan para wanita yang bercadar hitam baik di Indonesia maupun di Arab Saudi. Namun sekali lagi, semata-mata demi membagi pengalaman berharga ayahku dan pak Fulanah agar bisa diambil hikmahnya oleh kawan-kawan. Kejadian yang menimpa pak Fulanah, terhitung masih mendingan ketimbang yang menimpa ibu Fulanah, juga teman serombongan haji orangtuaku. Ia harus kehilangan sejumlah uang tunai dan beberapa barang berharga yang ia tinggal di kamar maktab dalam keadaan tidak ia kunci. Tips yang diberikan ibuku kepada beberapa tamu di rumah yang berkunjung hari Sabtu (19 Des 09) antara lain adalah,

“Jika suatu saat ibu-ibu pergi haji, jangan sekali-kali meninggalkan kamar maktab dalam keadaan tidak terkunci. Bahkan saat tidur di dalam kamar pun, kuncilah selalu kamar maktab.”

(ahmed fikreatif)

Iklan

6 Tanggapan

  1. masyAlloh. m0dus operandi nya merugikan pihak lain. astaghfirulloh, ~shukr0n for sharing~

    • afwan

  2. Cek…cek…. itu mah hampir setiap musim haji, di duga pendatang dari negara – negara miskin, mengungsi ke Mekkah atau Madinah, salah satu tujuannya mereka datang untuk mencopet, kita tidak sangka karena mereka pakai jilbab dan cadar, atau pake gamis. Hal ini karena menyaksikan lansung pelaku yang ditangkap laskar, tepat di depan masjid Nabawi. Kesimpulannya, yang datang musim haji, bukan semua orang hadir mencari ridho Allah SWT, juga ada yang sekedar mempertahankan hidup untuk makan 1 atau 2 hari. So, ekstra hati – hati.

    • hm, mungkin demikian kira2 kesimpulan yg bisa kita ambil. cocok dg mas Herman

  3. aneh” wae sing jenenge kriminal kuwi..
    haji barang yo akeh kriminal

  4. kurang ajar amat tuhh orang ..


    Via MebApp.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: