Tarif “Rombongan” Senja Utama Solo-Jakarta Akan Dinaikkan Menjadi Rp. 70 Ribu


Senja Utama SoloPukul 17.00 WIB, aku sudah berada di dalam gerbong kereta api Senja Utama jurusan Solo – Jakarta yang sudah menunggu penumpang di jalur 6 Stasiun Solo Balapan. Aku datang lebih awal dari waktu jadual pemberangkatan (pukul 18.00 WIB) agar terhindar dari keterlambatan yang bisa membuatku ketinggalan kereta.

Meskipun kereta masih satu jam lagi berangkatnya, gerbong nomor 1 kereta Senja Utama yang berada paling ujung timur (belakang) ternyata telah terisi beberapa penumpang yang sudah stand by. Setelah kuperhatikan dan kuajak berbincang-bincang sesaat, ternyata mereka adalah para penumpang “rombongan”. Suatu sebutan bagi para penumpang kereta yang tidak membeli karcis namun bisa naik hingga tujuan akhir dengan memberikan sejumlah uang kepada “Pak Lurah”.

“Ikut rombongan Pak?”, tanyaku kepada salah satu penumpang di dalam gerbong.

“Iya mas, biar murah dan bisa sampai Jakarta mas…” jawab bapak dengan kumis tebal menghias atas bibirnya itu, yang ternyata merupakan penumpang langganan Senja Utama Solo-Jakarta PP setiap pekan.

“Sekarang ongkos rombongan berapa pak?” tanyaku lagi dengan gaya sok akrab.

“Wah, gara-gara Perumka (mungkin maksudnya PT KA_pen) naikin harga tiket, upeti rombongan mulai Januari jadi Rp. 70Ribu atau Rp 75ribu gitu lah mas. Sekarang sih masih 60rb.” Jawab bapak berkumis itu.

“Ow…. murah juga ya pak….? Minimal masih terjangkau lah.” timpalku.

“Yah..mas…. dibilang murah ya murah, dibilang mahal juga mahal lah mas…., yang pasti lebih murah dari harga resmi kalau kita beli tiket. Bisa miskin mas…, kalau harus beli tiket setiap bolak-balik Solo-Jakarta.” jawabnya mengakhiri obrolan kami. “oooow……..”

*********

Pukul 18.00, kereta pun segera melaju. Tak berapa lama, 3 orang petugas kondektur berjalan dari arah depan. Setelah sampai di ujung belakang rangkaian gerbong kereta, ketiganya mulai mengecek dan memeriksa tiket para penumpang satu persatu sambil membolongi tiket dengan catut. Aku duduk pada kursi nomor dua dari belakang gerbong. Belum sampai pada giliran pemeriksaan tiketku, salah satu petugas petugas kulihat meminta seorang penumpang di belakang menunjukkan tiketnya.

“Tiket mas..” kata sang petugas.

“Rombongan pak…” kata si penumpang, yang naik di ujung paling belakang gerbong sambil membawa beberapa burung dara yang dimasukkan dalam besek.

“Rombongan apa? Kalau ndak ada tiket, bayar Rp. 130 Ribu atau saudara silakan turun di Klaten (Stasiun Klaten_pen)!” ujar sang petugas dengan nada agak tinggi.

“Damai ajalah pak…” kata si penumpang mengharap iba sang petugas.

“Saudara ikut rombongan, apa bisa menunjukan kartu anggota (mungkin maksudnya Kartu Anggota TNI / Polri_pen)? Kalau tidak punya kartu anggota jangan ngaku-ngaku anggota rombongan! Dah, sekarang bayar Rp. 130 Ribu atau turun di Klaten..!” hardik sang petugas yang kudengar dari tempat dudukku tidak jauh.

Terjadilah kemudian sedikit perdebatan dan sedikit adu mulut. Namun pada akhirnya, sang petugas akhirnya mengizinkan si penumpang tetap bisa naik kereta, dengan membayar uang sebesar Rp. 60 ribu.

“Maturnuwun pak…” kata si penumpang. Sang petugas tidak menjawab ucapan si penumpang.

Bergeser sedikit, sang petugas meminta penumpang berikutnya menunjukkan tiketnya.

“Rombongan pakdhe..” katanya., diikuti dengan beberapa penumpang lainnya.

Beberapa saat kemudian, muncullah seorang penumpang lain menyapa si petugas dengan ramah dan penuh senyum.

“Apa kabar pak? Ini setor rombongan dulu,” ujar si penumpang yang kulihat itu yang kuduga “Lurah para penumpang rombongan”. Setelah dihitung-hitung, terjadilah sebuah transaksi. Si penumpang yang kuduga Lurah penumpang rombongan itu menyodorkan sejumlah uang, kemudian sang petugas membuatkan kuitansi sebanyak penumpang rombongan yang ada di dalam gerbong 1 yang kutumpangi. Kulirik, jumlah kuitansi yang dibuat itu sebanyak 9 lembar.

“Maturnuwun pak,” kata pak Lurah.

“Ya, gerbong depan lurahnya siapa?” menanggapi kalimat yang diucapkan si lurah.

“Pakdhe xxxxxx”, jawabnya. Aku tidak terlalu mendengar nama yang disebutkan pak lurah itu.

Beberapa saat kemudian, 9 lembar kuitansi ber-kop PT KA itu dibagi kepada sejumlah rombongan satu per satu sebagai pengganti tiket yang seharusnya dibeli melalui loket stasiun. Selidik punya selidik, kuitansi tersebut adalah bukti setoran pengganti tiket yang diberikan kepada para rombongan yang membayar sejumlah uang Rp. 60.000,- per orang. Setelah mengantongi “Tiket Pengganti”, para rombongan segera mengelar koran dan alas-alas lainnya dan berposisi tidur di lajur diantara tempat duduk gerbong yang berfungsi sebagai jalan kecil di dalam gerbong kereta.

Dari kisah di atas, aku menyimpulkan (dalam penafsiranku pada kasus di atas) bahwa para anggota rombongan kereta Senja Utama Solo memiliki semacam kartu identitas tertentu. Kartu tersebut dalam dugaanku adalah semacam Kartu Anggota sebuah korps militer di Indonesia yang dibuat oleh “lurah / koordinator” rombongan yang merupakan anggota korps militer di Indonesia. Jadi, para anggota rombongan itu belum tentu kesemuanya adalah anggota sebuah korps militer di Indonesia. Dan selama berada di bawah koordinator “pak lurah”, maka para anggota rombongan akan selalu bisa menaiki kereta api ini tanpa harus membayar sebesar harga tiket aslinya namun cukup sekitar separonya saja.

Sebenarnya, sejauh yang kuketahui, pada hakikatnya setiap penumpang harus membayar tiket sebesar ketentuan yang berlaku. Namun untuk hal tertentu seperti anak-anak dan lain-lainnya, memang ada dispensasi tertentu sehingga tarifnya tidak penuh sebesar harga yang tertera di lembar tiket / karcis. Baca lebih lanjut di Persyaratan Umum Penumpang KA (klik di sini).

Selain itu, ada pemberlakuan harga yang berbeda untuk anggota TNI / Polri. Untuk anggota TNI/Polri dikenakan harga di bawah tarif biasa. Harga tiket kereta api Lodaya bisnis seharga Rp 80 ribu hanya disuruh membayar Rp 50 ribu, untuk tiket Fajar Utama jurusan Jakarta Rp 110 hanya dikenai harga tiket Rp 60 ribu (dikutip dari sumber berikut ini, klik di sini). Sedangkan PT Kereta Api (KA) Daops VIII Surabaya memberlakukan tarif khusus kepada anggota TNI berupa potongan harga tiket KA antara 20 – 25 persen untuk kelas ekonomi dan bisnis (sumber di sini).

Hanya saja, dispensasi-dispensasi khusus seperti ini seringkali disalahgunakan khususnya oleh para aparat anggota TNI/Polri yang justru menjadi “kondektur tidak resmi” dan bertindak sebagai “lurah gerbong” atau “koordinator rombongan”. Konon (dengan sumber yang sangat perlu diverifikasi karena sumber tidak jelas, hehehehehe), kemunculan “lurah gerbong” oleh oknum aparat ini muncul karena sebenarnya ada aturan bahwa setiap gerbong dalam suatu rangkaian kereta api terdapat satu orang petugas aparat yang ditugaskan sebagai petugas penjaga resmi. Namun sayangnya, entah karena keterbatasan atau kenapa hanya terdapat satu orang petugas saja dalam setiap rangkaian kereta (bukan setiap gerbong). Hal ini bisa kita lihat jika seorang petugas kondektur kereta saat menandai satu per satu tiket para penumpang tak jarang didampingi oleh seorang anggota Polri atau PM. Mungkin itulah implementasi dari aturan pengamanan rangkaian kereta api yang resmi.

Namun karena keterbatasan dana barangkali, PT KA menghadirkan entah secara resmi atau tidak dan selanjutnya “mengangkat” sejumlah “lurah-lurah gerbong” dalam setiap rangkaian kereta. Dengan adanya “lurah gerbong” atau “koordinator rombongan” tersebut, maka bisa dipastikan atau setidaknya diminimalisir jumlah para penumpang yang tidak membayar karena para penumpang yang tidak membayar atau tidak membeli tiket harus menyetorkan sejumlah uang kepada “pak lurah gerbong setempat”. Dan selanjutnya, pak lurah menyetorkan uang itu kepada petugas PT KA, tentunya sekian persen jatahnya untuk “pak lurah”. Dengan demikian, PT KA bisa memperoleh jaminan bahwa setiap penumpang kereta pasti membayar, meskipun tidak sebesar harga tiket yang tertera pada tiket. Demikian barangkali (:D) historis munculnya “preman” penguasa gerbong kereta api. Jika aku salah, mohon dimaafkan sekaligus mohon koreksinya. Hehehehehe.

Aku sarankan kawan-kawan membaca artikel yang berbicara mengenai lika-liku Budaya Anggota TNI Naik Kereta Api untuk menambah referensi buramnya potret dunia perkereta-apian di Indonesia, silakan anda mengklik tautan berikut ini (klik di sini).

Semboyan 35. tut tut tuut.

(ahmed fikreatif)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: