Tak Mudah, Membangun Tim Yang Satu dan Padu


Beberapa hari yang lalu (14 Juli 2009), dua orang kawanku, sebut saja Nida dan Lani, bercerita (jw: ngudoroso) kepadaku mengenai kerugian proyek event yang mereka garap bersama tim yang mereka namakan dengan “Semut Merah”.

Cerita itu berawal dari pertemuan beberapa orang yang memiliki minat dalam dunia Event Organizing. Diantara beberapa orang tersebut terdapat pula tiga kawan sobatku. Akhirnya, berlima mereka sepakat untuk membentuk sebuah tim untuk mengelola event yang lebih keren dikenal dengan Event Organizer (EO). Mereka menyebutnya dengan “Semut Merah” (katakanlah demikian).

Satu hari berdiri, “semut merah” telah berhasil memperoleh proyek even yang akan menjadi sasaran pundit emas bagi mereka. Kupikir saat itu mereka sangat hebat karena baru sehari berdiri, mereka sudah memperoleh job. Kendatipun dari beberapa informasi even tersebut ada sedikit bantuan dari orang tua pimpinan produksi “Semut Merah” yang memiliki pengaruh di sebuah Universitas swasta terkenal di kota Solo, namun secara umum aku tetep terheran dan tertegun dengan kemajuan mereka.

Berjalan kurang lebih dua tiga bulan, tim Semut Merah tidak menunjukkan adanya sesuatu masalah. Setelah menginjak pada bulan keempat inilah, mereka mulai menghadapi adanya badai hebat yang berpotensi menghempaskan perahu Semut Merah. Badai besar itu adalah ketidaksatuan tim dalam melangkah.

Seorang anggota tim Semut Merah bernama Lani berkisah, ide-ide perhelatan event yang diadakan oleh Semut Merah semuanya berasal dari satu orang, yaitu Ressay – sang Pimpinan Semut Merah (bukan pemilik blog http://www.ressay.wordpress.com lho). Dia mengakui bahwa memang dirinya tidak memiliki ide sehebat Ressay. Namun, dalam implementasinya, seharusnya Ressay bermusyawarah dengan tim secara keseluruhan, termasuk dengan Lani. Namun, hal ini tidak pernah ditempuh oleh Ressay. Mungkin karena merasa dirinya-lah yang memiliki konsep sekaligus sebagai pimpinan, maka dia menganggap kehadiran orang lain justru menjadi hambatan terlaksananya konsepnya. Sementara anggota timnya hanya menjadi eksekutor dari setiap konsep yang disusunnya.

Persoalannya, Lani dan anggota Semut Merah lainnya kecuali Ressay, tidak pernah punya nyali dan sedikit keberanian untuk mengungkapkan ketidaksetujuan mereka. Mereka juga tidak berani mengusulkan agar setiap event yang digagas Semut Merah harus telah disepakati secara keseluruhan oleh tim Semut Merah. Kesepakatan oleh Tim Semut Merah ini penting karena nantinya, mereka semualah yang pada akhirnya bertanggung jawab pada hasil action mereka.

Ternyata riak kecil ini tidak hanya dikisahkan oleh Lani semata. Nida dan Ebok, anggota tim Semut Merah lainnya, juga mengisahkan ini ke orang lain, salah satunya kepadaku.

Mendengar riak-riak kecil ini, aku mulai merasa ada yang tidak beres dengan tim ini, Tim Semut Merah. Tim yang mereka dirikan ini seperti tidak memiliki ruh sebagai tim. Semut Merah seolah-olah hanya menjadi kendaran bagi sang Pimpinannya sementara anggota tim lainnya hanya sebagai pelengkap saja.

Pada akhirnya, perahu Semut Merah akhirnya pecah dan karam. Penyebabnya, event yang mereka buat singkat cerita tidak berhasil menarik sponsor. Sementara dengan tekad dan keyakinan buta, Semut Merah, melalui sang pimpinannya, tetap melangsungkan event yang tanpa dukungan sponsor tersebut.

Alhasil, dapat ditebak. Event tersebut menghasilkan defisit pada laporan laba ruginya. Semut Merah terpaksa mengambil dana kas yang baru terisi seadanya dari laba beberapa bulan kesuksesan mereka. Setelah dihitung-hitung secara detail, ternyata Semut Merah masih mengalami defisit sebesar 5 juta rupiah. Uang sebesar lima juta rupiah ini tentunnya harus ditanggung secara kolektif oleh seluruh tim Semut Merah.

Keputusan yang diambil oleh Ressay- sang pimpinan, membawa murka tiga orang anggota tim. Mereka bertiga menyatakan tidak sepakat karena pada dasarnya, menurut mereka, kerugian pada event kali ini disebabkan oleh sikap Ressay itu sendiri. Jadi, mereka tidak sepakat jika semua anggota tim menanggung sama kekurangan uang itu. Lebih dari itu, mereka juga tidak terima penanggungjawab event hanya oleh Semut Merah saja karena faktanya ada tim lain yang turut ikut campur di dalamnya. Dan justru tim itulah yang merusak ide sebelumnya sehingga menjadi penyebab event merugi.

Hingga aku menulis ini, aku belum mengetahui akhir dari keputusan penyelesaiannya. Yang pasti, ketiga anggota tim Lani, Ebok, dan Aw Suy menyatakan resign dari Semut Merah. Sementara itu, tagihan utang dari mitra kerja mereka masih belum terlunaskan. Bahkan, beberapa diantara mereka telah mendapat ancaman tuntutan pengadilan karena Semut Merah dianggap wanprestasi oleh mitra-mitra mereka.

Dari kisah panjang kawanku di atas, setidaknya aku berusaha mengambil pelajaran penting bahwa keberadaan sebuah tim haruslah mencerminkan secara benar tentang tim itu sendiri.

Sebuah tim harus mampu menghasilkan sebuah keputusan yang telah melalui musyawarah “berdarah”. Suatu keputusan yang diambil oleh tim jangan sampai muncul dari seseorang atau beberapa orang dalam tim itu saja sementara anggota tim lainnya ditinggalkan pendapatnya begitu saja.

Aku katakan musyawarah “berdarah” karena seharusnya, semua ketidaksetujuan dan segala hal lainnya harus diungkapkan di dalam musyawarah sebelum diambilnya suatu kesepakatan tim. Jangan sampai ketidaksepekatan dan ketidaksetujuan atas kesepakatan tim diungkapkan setelah musyawarah selesai.

Dari kisah nyata yang dialami kawanku, aku mendapat pelajaran bahwa dalam beraksi, aku harus benar-benar menyatukan tim menjadi satu keutuhan yang satu. Baru setelah tercapai, action lah yang kemudian aku lakukan. Wallahu a’lam.

Kawan, apakah kalian punya pendapat lain tentang permasalahan ini..??

(ahmed fikreatif)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: