Kehangatan Sahur dan Buka Puasa Sunnah Bareng Keluarga di Rumah Setahun Silam


Suasana Ramadhan telah berlalu beberapa pekan lampau. Meskipun masih di bulan Syawal, namun warna kental suasana Ramadhan seolah terlalu cepat pergi hilang di telan bumi. Masjid-masjid kembali mengalami “kemajuan” shaff. Hiruk pikuk kaum muslimin yang berduyun-duyun menuju masjid sudah tak terlihat lagi. Masjid pun kembali terdiam sunyi.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, kondisi tersebut tidak terjadi di rumahku. Kendatipun aku rasakan memang mengalami penurunan sedikit semangat untuk mendekatkan diri kepada Sang Khalik, namun penurunannya aku rasakan tidak terlampau parah. Dan aku mengharapkan di waktu yang dekat semangat “membakar” bulan Ramadhan kembali bergolak secepat mungkin.

Sepekan setelah lebaran, kami berusaha menghidupkan kembali suasana Ramadhan dengan berpuasa sunah 6 hari di bulan Syawal. Faedahnya yang disebutkan seperti puasa selama satu tahun penuh mungkin memotivasi kami untuk menunaikan puasa sunah tersebut, kendatipun bukan hanya itu yang memotivasi kami untuk puasa.

Sejak memasuki pekan kedua itulah aku, ayahku, ibuku, dan adikku setiap hari bergantian puasa untuk menyelesaikan 6 hari Syawal. Kami memang tidak berpuasa enam hari syawal dengan langsung berurutan selama enam hari. Aku dan ayahku memang pernah melakukan puasa sunnah Syawal secara berurutan selama kurun waktu 3 tahun kemarin sejak tanggal 2 Syawal. Artinya setelah sehari berlebaran dan menikmati makan-makan dan minum-minum di sepanjang hari pada hari Idul Fitri, kami langsung melanjutkan sahur pada malamnya dan berpuasa pada hari setelahnya hingga tanggal 7 Syawal. Banyak sekali suka duka yang kurasakan saat aku melakukan puasa kala itu. Sukanya adalah aku bisa lebih cepat menyelesaikan puasa sunnah daripada orang lain. Sementara dukanya, banyak sekali. Karena pekan pertama bulan Syawal biasanya merupakan hari-hari yang biasanya diisi dengan acara silaturahmi ke sanak keluarga dan tetangga serta klien kerja, dan reuni kawan-kawan lama SD, SMP, atau SMA, maka mau tidak mau harus lebih kuat menahan lapar. Saat orang lain sedang merasakan nikmatnya makan-makan, kita mesti harus menahan untuk tidak makan dan minum. Selain itu, ternyata masyarakat kita belum terbiasa dengan kebiasaan puasa Syawal langsung pada hari kedua Syawal seperti yang kulakukan. Buktinya, aku sering dibilangin orang kalau aku tidak boleh puasa dulu sampai lebarannya selesai.

Menurut kebanyakan mereka maksud lebaran dalam pandangan orang awam seperti mereka adalah suasana lebaran. Artinya, lebaran itu kurang lebih berlangsung sampai sepekan. Baru masuk pekan kedua, kita diperbolehkan untuk berpuasa. Padahal, yang namanya lebaran atau Idul Fitri itu hanya satu hari yaitu tanggal 1 Syawal. Mengenai masalah tanggal 1 Syawal versi Hisab, Ru’yah, atau versi Mekah itu adalah persoalan keyakinan masing-masing. Sehingga apabila pada hari kedua Syawal kita mau berpuasa sunah sah-sah saja dan tidak ada masalah. Hari itu bukanlah termasuk hari yang terlarang untuk berpuasa sunah.

Bebicara puasa sunah Syawal, hari itu agak berbeda dengan suasana hari yang lain. Hari Senin tanggal 27 Oktober 2008, pagi dini hari, saat jarum jam menunjuk waktu pukul 03.00 WIB, aku dan sekeluarga bangun. Aku bangun paling akhir dengan mata masih kriyap-kriyip (=jawa). Ayahku, Ibuku, dan Adikku serta aku memiliki niatan satu yang sama untuk sahur. Suasana hangatnya sahur di luar Ramadhan ini mengingatkanku saat beberapa pekan lalu kami masih sahur bersama untuk berpuasa Ramadhan. Namun kali ini, suasana yang sama muncul lagi dengan niatan puasa yang berbeda. Aku dan Ayahku sahur untuk berpuasa Senin-Kamis, sementara adikku dan ibuku berniat untuk menyelesaikan sunah Syawal mereka. Setelah sahur, kami menuju ke masjid untuk Shalat Shubuh berjamaah.

Kemudian, saat maghrib tiba, seluruh anggota keluarga kembali bisa berkumpul untuk bersiap berbuka puasa di rumah. Suasana ini jarang sekali terjadi bahkan di waktu Ramadhan sekalipun karena diantara kami memiliki kesibukan masing-masing. Yang terhitung paling sok sibuk adalah aku sendiri. Maka tidak jarang, dan hampir pasti jika saat Ramadhan tahun ini, aku tidak pernah berbuka di rumah. Waktu berbuka lebih sering kuhabiskan di masjid-masjid tepi jalan, warung-warung makan, atau di kantor. Berbuka di rumah boleh dibilang hanya kulakukan dalam hitungan jari saja. Itupun kebanyakan karena aku sempat terbaring sakit di atas tempat tidur di dalam kamar selama kurang lebih satu pekan, selama 6 hari. Namun meski kondisi tubuh sakit, saat itu aku tetap memutuskan untuk terus berpuasa.

Oleh karena itu, suasana berbuka puasa sunah bersama ini terbilang istimewa. Adik dan ibuku terlihat cerah dan senang karena berhasil menyelesaikan puasa sunah Syawal. Aku merasa senang karena bisa berkumpul erat dengan keluarga utuh. Oh Wahai Ramadhan 1430 H…., ijinkan aku untuk bertamu dan bertemu denganmu tahun depan (1430) Wahai bukan seribu bulan…..!!! – Syawal 1429 H

(fikreatif)

About these ads

3 Tanggapan

  1. sungguh bahagia bisa berkumpul dengan keluarga,,,apalagi dalam suasana beribadah.kangen rumah mode:ON…:)

    • wingi ra teko? nang anjangsana al islam… tiwas tak enteni

      • hihihi…la wong wingi aku g mulih, isih bertapa nang suroboyo.si boss g nyangoni sih!!!hehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 87 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: