Berbagi Pengalaman Naik Kereta dari Jakarta (ke Solo)


Biasanya, kalau ingin pulang ke Solo misalnya, sarana transportasi paling favorit adalah kereta (api). Survey membuktikan bahwa kereta memang sarana paling favorit dipakai oleh masyarakat di Jakarta dan Jawa secara umum.

Biar lebih terfokus, saya buat per alternatif kereta saja kale ya anternatif pilihan kereta menuju kota Solo berbudaya….

  1. Naik Argo Lawu. Argo Lawu berangkat dari stasiun Gambir Jakarta pukul 20.00 WIB. Diperkirakan biasanya sampai di Solo 8 jam kemudian. Yaitu sekitar pukul 4 pagi. Dengan asumsi rata-rata keterlambatan 1 jam, anggap saja sampai Solo jam 5 pagi. Harga tiketnya berubah-ubah tergantung tingkat keramaiannya. Namun yang pasti, selalu di atas 200 ribu atau minimal sama. Fasilitas jika saudara naik secara resmi, maka akan dapat selimut, dan snack, serta kopi segelas kecil yang rasanya hambar biasanya. Kursi bisa diatur posisinya agar nyaman untuk sandaran atau tidur.
  2. Naik Argo Dwipangga (sama dengan Argo Lawu) hanya saja berangkat dari Gambir pagi hari. Pukul 08.00 WIB.
  3. Naik Senja Utama Solo dari Ps. Senen. Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 20.30 WIB. Diperkirakan sampai di Stasiun Balapan pukul 06.30 WIB. Namun, biasanya realita sampainya di Solo antara pukul 07.30 – 08.00 WIB. Tidak ada fasilitas yang diperoleh kecuali tempat duduk yang bisa kita atur menghadap ke depan atau membelakangi arah laju kereta saja. Suasana kelas bisnis sebenarnya hampir sama dengan kelas Ekonomi. Bahkan kalau menurut saya, kelas bisnis dan ekonomi memiliki suasana yang tidak ada beda dengan kelas Ekonomi. Sama-sama penuh sesak dengan penumpang, sama-sama kotor, dan sama-sama butuh jarak tempuh cukup lama. Tarif tiket antara Rp. 100 Ribu – RP. 160 Ribu.
  4. Naik Bengawan Solo. Kereta kelas Ekonomi jurusan Jakarta-Solo ini berangkat dari Tanah Abang pukul 19.30 WIB. Diperkirakan sampai di Solo pukul 07.30 pagi (12 jam), namun beberapa kali naik kereta kelas “Cowboy” ini aku sampai di Solo antara pukul 08.30-09.30 WIB. Mohon dimaklumi lah, kels ekonomi merupakan kelas rendah, jadi harus siap berhenti jika terjadi “kres” atau disalib kereta yang berada di atas kelasnya (bisnis-eksekutif). Selain itu, yang membuat lama perjalanan adalah seringnya berhenti di stasiun-stasiun kecil yang tak kuhapal satu persatu. Konon, kalau ada penumpang berhenti di tengah sawah pun kereta akan berhenti. Sepertinya tidak mengada-ada karena kereta ini sering berhenti di tengah-tengah sawah meskipun tidak ada “kres”. Jangan tanya soal suasana. Dijamin ramai dan full makan karena hilir mudik penjual Pop Mie, Kopi, dan Aqua akan selalu melayani kebutuhan perut anda. Tarif harga tiket hanya Rp. 37.000,-
  5. Naik kereta Bisnis-Eksekutif Sawunggalih dari Ps. Senen jurusan akhir Kutoarjo. Berangkat dari Ps. Senen pukul 19.00. Naik kereta ini hingga ujung akhir tujuannya memang tidak mengantar kita sampai ke Solo, tetapi hanya sampai ke Kutoarjo. Selanjutnya, kita harus meneruskan perjalanan dengan berpindah naik kereta yang melewati stasiun di Solo. Biasanya, setelah Sawunggalih tiba di Kutoarjo, ada beberapa kereta dibelakangnya akan tiba pula di Kutoarjo. Kita bisa memilih salah satu kereta yang ada yang akan berhenti di Solo. Biasanya, kereta yang menjadi favorit untuk meneruskan perjalanan ke Solo adalah Lodaya (Bandung-Solo). Rata-rata motivasi penumang Solo yang naik kereta Sawunggalih ini adalah supaya sampai di Solo pagi hari sebelum jam 6 atau 7 pagi. Hal ini dikarenakan Sawunggalih biasanya akan sampai di Kutoarjo pukul 03.00 – 04.00 an. Jika kemudian disambung perjalanan 2 jam dengan kereta Lodaya yang datang di belakang Sawunggalih, maka akan sampai di Solo antara pukul 05.00-06.00an pagi hari. Selain lebih pagi sampai di Solo, jika dihitung ongkosnya lebih murah daripada naik Senja Utama Solo. Tiket Sawunggalih antara Rp. 80 ribu – Rp 120 ribu. Dilanjutkan bayar naik Lodaya dari Kutoarjo ke Solo sebesar Rp. 10 ribu – 15 ribu. Kadang dibayar 5 ribu pun mau. Namun, jika kita ingin menjadi penumpang resmi dengan bersedia menunggu kereta Prameks jurusan Kutoarjo – Yogyakarta – Solo sekitar pukul 05.00, maka kita perlu bayar Rp. 16 ribu (kalau belum naik).
  6. Naik Kereta Ekonomi Brantas dari Tanah Abang pukul 15.30 WIB. Naik kereta ini diperkirakan biasanya sampai di Solo sekitar pukul 02.30 – 03.30 WIB di Stasiun Jebres Solo (Kereta ini tidak melewati Stasiun Purwosari Solo atau Balapan Solo). Yang membuat beda dengan kereta Bengawan, kereta ini akan menempuh rute perjalanan melalui Semarang (jalur Utara) baru kemudian berbelok ke Selatan melewati Solo dan selanjutnya meneruskan perjalanannya ke Jawa Timur. Tiket kereta sama dengan Ekonomi Solo. Keuntungannya, bisa sampai Solo lebih pagi dan perjalanan kereta relatif lebih cepat dibanding jalur Selatan (selisih 1-2 jam).
  7. Naik kereta Ekonomi Matarmaja dari Ps. Senen. Pukul 14.00. Sampai Solo diperkirakan sekitar pukul 01.00 – 02.00. Sama seperti Brantas, kereta ini melewati jalur Utara melalui Semarang dan tidak melewati Stasiun Purwosari atau Balapan. Keuntungan naik Matarmaja atau Brantas adalah sampai di Solo lebih pagi bahkan lebih pagi daripada Kereta Bisnis. Hanya saja, karena berangkatnya siang hari, maka kita harus minta izin pulang cepat dari kantor. Alternatif kereta ini biasanya dipakai jika ada yang mengejar waktu untuk sampai di Solo, pagi hari. Contoh kasus pada saat Idul Adha kemaren (tgl 27 Nov 2009). Demi mengejar agar dapat sholat Ied di Solo, maka aku harus sampai di Solo sebelum jam 5 pagi. Untuk kemungkinan itu, yang bisa menempuhnya hanya dengan Argo Lawu. Senja Utama Solo tidak bakal bisa sampai Solo pagi-pagi sekali, apalagi Ekonomi Bengawan. Masalahnya, ketika itu, saya hanya punya 3 kemungkinan pilihan yang mampu terpenuhi isi dompet. Yaitu Sawunggalih atau Brantas atau Matarmaja. Dugaanku, jika naik Sawunggalih, pasti hari itu adalah puncak padatnya penumpang mengingat Sawunggalih lebih pagi tiba di tujuan akhir. Kemungkinannya pula, banyak penumpang Solo yang juga bakal memilih kereta ini. Namun, jika naik kereta ekonomi jurusan Jawa Timur-an seperti Brantas atau Matarmaja, prediksiku penumpang tidak terlalu padat karena asumsiku hari itu para penumpang jurusan Jawa Timur pasti lebih memilih hari sebelumnya karena jika naik kereta hari itu dipastikan terlambat tidak bisa ikut sholat Ied dan penyembelihan hewan kurban. Dan ternyata prediksiku tepat, di saat kawan-kawan naik Sawunggalih atau Senja penuh desak penumpang bahkan untuk duduk selonjor saja susah, aku bisa lelap tidur kalau aku mau, sayangnya aku lebih suka ngobrol-ngobrol.
  8. Naik Senja Utama Yogya dari Ps. Senen pukul 19.25, lalu dilanjutkan naik Prameks atau kereta lain yang ke Solo. Perlu dicatat bahwa tiket harga Senja Utama Solo dan Yogyakarta sama. Keuntungannya hanya ia berangkat lebih cepat dari Jakarta sehingga sampai di Solo relatif lebih pagi.
  9. Naik KA Progo dari Ps. Senen pukul 21.00 WIB jurusan Yogya turun di Stasiun Lempuyangan pukul 08.00-09.00an. Lanjut dengan Prameks tujuan ke Solo. Alternatif ini biasanya jarang dipakai karena jarak tempuhnya lama dan sampai di Solo biasanya sekitar pukul 10-11 siang.
  10. Naik Taksaka dari Gambir pukul 20.45 malam atau 08.15. Sampai Yogya lanjut naik Prameks jurusan Solo.
  11. Naik kereta apa saja yang melewati Solo dan berhenti di Stasiun Solo.
  12. Naik secara “rombongan”. Makna “rombongan” di sini sebenarnya bisa dibilang naik secara membayar kepada “Pak Lurah” yang menguasai gerbong kereta jurusan tertentu. Biasanya setiap kereta memiliki “Lurah”nya masing-masing. “Lurah” ini bukanlah pegawai PT KAI, namun biasanya preman berdasi (maksudnya preman yang bertampang tidak kotor, kumuh, atau lusuh. Bukan dalam makna memkai dasi). Biasanya, kereta secara “Rombongan” ini biasanya diikuti oleh puluhan bahkan mungkin ratusan orang yang karena seringnya mereka berkereta akan timbul hubungan pertemanan yang akrab. Bahkan, pernah mereka membikin kaos seragam bersama. Mengenai tarifnya, aku tidak tahu berapa persis namun biasanya 50% dari harga tiket aslinya. Sistem rombongan ini setahuku hanya berjalan di kelas Ekonomi dan Bisnis saja. Untuk Eksekutif, sepertinya tidak ada. Hanya saja, uang yang kita bayarkan dengan cara naik “rombongan” ini hasilnya sudah pasti tidak bakal masuk kas PT KAI apalagi negara. Jadi silakan mau ambil alternatif ini atau ndak monggo
  13. Naik kereta apa saja di Lokomotif. Kalau naik di lokomotif ini, uang yang kita bayarkan akan diterima oleh masinis loomotif. Mengenai nilainya bervariasi. Mungkin akan menarik jika saya kasih contoh tentang mekanisme naik di lokomotif Argo Lawu saja sebagai contoh. (klik here)

Kurasa, mungkin itu dulu beberapa ilmu naik kereta keluar dari Jakarta (menuju Solo). Untuk pengembangan di kota lain saya rasa hampir sama menyesuaikan kondisi dan keadaannya. Selamat berkereta. Semboyan 35.

Iklan

24 Tanggapan

  1. Salam kenal,

    Kayaknya hobi naik kereta ya, soalnya paham sekali seluk beluk perjalanan naik kereta.

    Btw, apa betul pernah naik di Lokomotif? setahu saya tempatnya tidak terlalu luas.

    Thanks

    • Salam kenal juga.

      Kalau hobi sih nggak…
      cuman kalo ditanya
      “Naik apa kalo dr Jakarta ke Solo?”
      biasanya naik kereta dan hampir selalu naik kereta dan mencoba beberapa cara alternatif saja demi menghemat biaya dan menambah pengalaman. hahahaha

      Naik di Loko?
      jujur kalo aku lum prnah. Itu cerita khan sebagian hasil cerita bbrp kawan dan yg prnah sy lihat serta kulakukan.

      untuk contoh cara naik di Loko ikuti link di atas aja dech yg no. 13

    • Saya juga pernah naik di Kabin, mas, lumayan lega. Omong-omong, itu, kan, hal biasa saja yang dibahas mas admin. Orang yang pernah naik juga tahu, mas. Tapi, naik di kabin udah ketat, mas. Udah ada larangan, mas. Mau bayar masinis, gajinya udah tinggi, mas

  2. Perjalanan naik kereta api Jakarta ke Solo sekarang ini rata-rata menggunakan lokomotip disel. Nah bila ingin seru naik saja kereta api uap. Jatinegara ke Solo dengan kereta api uap Gede waktu tempuhnya sungguh tepat waktu.
    Dari Jakarta tepatnya Jatinegara berangkat jam 5 pagi sampai Solo Balapan jam 3 sore.
    Peristiwa ini terjadi kira-kira tahun 1963 saat Jakarta ke Solo masih dilayani kereta api uap gede dengan gerbong kayu ala gerbong cowboy.
    Demikian pula baliknya dari Solo Balapan jam 5 pagi sampai Jatinegara Jakarta jam 4 sore. Rata-rata kecepatan lokomotip uap gede kala itu 8o-90 km/jam. Kepadatan lalu lintas kereta api belum sepadat sekarang.
    Nah di dalam kota Solo sendiri juga dilayani kereta api loko kecil rute Purwosari – Sragen/ Purwosari – Baturetno/Purwosari – Kartosura pp.
    Aku dan kakak-kakak waktu itu sering diajak Paklik dan Mbah naik kereta api uap. Memang jaman itu baru kereta api uap. Jika naik di gerbong belakang Lokomotip Uap siap-siap saja muka kena langes asap hitam dan percikan uap dari semburan klakson kereta api uap.
    Pengalaman yang unik dan hanya terjadi sekali dalam hidup ini tapi bekasnya masih membekas di otak.

  3. Itu tadi naik kereta api di gerbong penumpang kayu ala cowboy. Setelah aku bekerja pernah mendapat tugas liputan ke Jogja-Bandung naik kereta di lokomotip uap dan disel. Aku membuat liputan dengan naik kereta api di disel lokomotip dari Kroya menuju Banjar Patoman Ciamis Selatan. Perjalanan malam hari. Memang suara bising sekali dari mesin disel loko ini. Ketika pagi tiba saya dan teman kameramen film menuju hidung pendek lokomotip karena ingin mengabadikan jembatan kereta api Trowek Tasikmalaya yang dasar jurangnya saja sangat curam sekali dilihat dari lokomatip.
    Saat itu laju kereta api sengaja diperlambat oleh masinis karena sudah ada perjanjian ingin men-shot licinya rel kereta api di jembatan Trowek tesebut. Ngerinya berdiri di samping lokomotip ketika masuk jembatan sungguh membuat nyali ciut. Bagaimana tidak ciut nyali kalau jembatan kereta api ini tidak ada pembatas dinding baja di kanan dan kirinya. Kereta melaju dan angin kencang menerpa wajahku dan wajah mas kameramen film. Dengan mengambil adegan traveling shot maka moncong lensa diarahkan ke depan arah lintasan rel dengan format gambar panorama shot. Yang lebih ngeri lagi tempat kaki berpijak di lantai lokomotip licin oleh ceceran oli mesin disel lokomotip. Kalau melecet sedikit saja ….sudahlah bakal jatuh dan celaka.
    Kenapa saya dan Mas kameramen ini nekat berdiri di ujung moncong pendek lokomotip disel? ya…karena tuntutan skenario film dokumenter Masinis Kereta Api yang mengabadikan pekerjaan masinis dan co masinis dalam menjalankan kereta di malam hari tanpa tidur dan gambarnya harus ada dalam adegan film dokumenter ini. Peristiwa ini terjadi di bulan Juli tahun 1982.
    Selanjutnya adegan dari masinis kereta api disel beralih ke kereta api uap loko gede. Masinis kereta api uap kita shot gambarnya di kabin dari stasiun Cibatu Garut menuju Garut Jawa Barat. Konyolnya wajahku dan wajah mas kameramen dan juru suara film kena langes hitam dari asap cerobong yang mengeluarkan asap hitam pekat dan kena percikan uap air tatkala kereta uap ini membunyikan klakson di tengah areal persawahan luas Wilayah Cikajang Garut.
    Jadi kalau Mas Ahmed ingin lebih sensasional lagi dalam berpetualang naiklah kereta api uap gede di kabin masinis. Tapi apakah kereta api uap ini masih ada? Itulah masalahnya. Saya sudah merasakan naik di kabin baik loko uap gede atau loko disel. Silakan mencoba…pengalaman seumur hidup ku dalam tugas mewartakan bagaimana perjuangan seorang masinis kereta api lewat media film seluloid 16 mm. Blog ku di http://www.vtrediting.wordpress.com

  4. wah, video recordnya diupload di indowebster saja tuh mas…
    di Solo sekarang (br bbrp waktu lalu) diresmikan kembali kereta uap yg menjalani rute Purwosari – Wonogiri. melewati sepanjang jalan Raya paling lurus Slamet Riyadi.
    Wah, pengin nulis ttg kereta bernama Jaladara (kalo ga salah) tapi sy blum prnah naik. jd referensi hny dr internet dan koran. (msh dlm proses).
    Punya pengalaman naik bus Tumpuk mas?
    Asoy geboy tuh.., sayang skrg sdh tdk ada.

  5. Haduh… ketinggalan info nih! Coba kalo tau ada info kereta Jkt-Solo, g bakal bingung! Kmrn sy bingung mau pulang ke Solo pake kereta apa. Akhirnya krn demi ngejar waktu dan kenyamanan jg (krn sy brgkt sendiri), akhirnya memutuskan utk naik argo dwipangga, yg kmrn tu harganya naik 20%. Huaaaah… 😦

    • ya khan lain kali bisa dicoba lagi…
      ya toh?

      • Iya. InsyaAllah. Semoga saja ada kesempatan lagi berkunjung ke Jakarta.

  6. terimaksih banyak tulisan ini sangat…sangat berarti bagi saya karena web PJKA tidak bisa untuk mengetahui hal-hal seperti dalam tulisan ini. skali lagi terimakasih dan klo bisa ditambahkan lagi infonya.

    • alhamdulillah bisa kasih manfaat buat kamu..
      info apa ya misalnya?
      bs kasih contoh?

  7. Saya hanya bisa berkomentar, apapun keretanya, yang penting:
    Pastikan Anda dihitung pada 1-31 mei 2010 mendatang, okay??

    • hmm petugas survey BPS ya sepertinya?

  8. Terima kasih mas infonya , berguna sekali…

  9. Posting kereta jurusan lain, mas, lumayan buat referensi orang(sekalian bantu saya promosiin kereta sekarang).

  10. Nice 🙂

  11. Slamt malam .mhon info dong ..saya mau plang ke solo ..tpi wktu libur hanya sehari ..bisa memungkin kan kah untuk naek krta plang pergi?.trmksih

    • Bisa, tapi tidak maksimal.
      Caranya berangkat H-1 malam. Misal liburnya Ahad, maka Sabtu malam naik kereta. Sampai Solo pagi. Lalu jalan2. Sore atau malamnya balik lagi ke Jakarta.
      Di Solo paling hanya efektif 6 jam.

  12. Selamat malam om numpang tanya…dari senen ke solo untuk bulan depan tgl 4 kira2 harga brpa dan untuk KA jenis apa yaa….terima kasih

    • Wah mas Anton, tulisan ini tulisan lama banget. Sekarang sudah banyak perubahan jadwal dan tarif serta pelayanan kereta. Harga sekitar 75-110 rb untuk kereta Ekonomi PSO. Non PSO sekitar 200rb – 300rb. Bisnis hampir sama.

      • Oohh gitu…makasih mas bro infonya

  13. saudara,,,saya mau tanya jika saya dapet tiket lebran ditiket tertuis berangakat dari solo ke pasar senen,,,tapi jika naik nya ke stasiun klaten bisa gak ya? mkasih

    • Kalau keretanya berhenti di Klaten, bisa pak Joko. Santai saja. Kalau ngga bisa. Protes saja.

  14. Minta info pak,
    Saya mau mudik dari bekasi ke wonogiri,
    Kira2 naik dr stsiun mna?trz turun d solo d stasiun mna?yg sekiranya paling efektif utk lnjut k wonogiri,
    Trimakasih sebelumny

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: