Setengah Jam di Atas Kereta Ekspress Bekasi-Gondangdia


Setengah Jam di Atas Kereta Ekspress Bekasi-Gondangdia;

Setelah menempuh perjalanan yang jauh dari Solo dan melelahkan karena kemacetan jalan serta menegangkan karena menyerempet mobil orang, singkat cerita aku nyampai Cibitung dan turun dari mobil kawan, di depan sebuah masjid yang kulupa namanya, sekitar pukul 05.30. Dengan langkah agak gontai dan sisa kantuk yang membayangi kulangkahkan kaki menuju tempat wudhu. Tas punggung yang berisi laptop Lenovo, beberapa helai pakaian dan sepatu serta pernak-pernik lain sebenarnya memberikan pesan agar aku kembali tidur lagi. Perasaan itu mau ga mau harus kulawan. Kudahulukan kaki kiri ku memasuki ruangan kecil bertuliskan WC segera kulepaskan racun-racun yang ada di tubuh dalam bentuk urine. Lega rasanya.. Segera kuambil air wudhu, dan memasuki ruangan masjid yang temboknya bercat putih bersih. Kuletakkan tas punggung yang cukup berat di depan tempat sujudku. Sholat jamaah telah beberapa menit sebelumnya usai. Aku gerakkan tanganku ke atas sejajar dengan telinga sambil mengucap takbir sendirian.

Selesai salam, kusaksikan jarum jam telah menunjukkan waktu pukul 05.45, tak ada kata lain bahwa aku harus segera meninggalkan masjid dan menyeberang jalan serta menyetop sebuah angkutan ELF yang bisa mengantarkanku ke Masjid Al Barkah Bekasi. Tak sampai 2 menit menunggu, angkot ELF dengan trayek Bekasi-Cikarang berhenti di depanku. Akulah penumpang pertamanya. Terkesan juga menjadi penglaris bagi pak Sopir yang kurasa orang Batak dari logat bicaranya. Berturut-turut, naiklah penumpang kedua, ketiga, hingga aku lupa berapa orang yang telah masuk ke dalam angkot ELF. Badanku masih terasa menggigil kedinginan meskipun telah kubungkus dengan jaket.

Sekitar empat puluh lima (45) menit kemudian, aku turun di depan masjid Al Barkah. Segera saja ku menuju rumah sekaligus kantor kawanku yang berada dekat masjid. Singkatnya, segera aku ambil sikat gigi dan sabun dalam tas, dan menuju pancuran di depan. Kumur-kumur lalu gosok gigi dan membersihkan muka dengan sabun, segera ambil pakaian yang belum kusetrika. Setelah kustrika, aku berdiri di depan cermin, tata sana-sini hingga pakaian telah rapi. Kuminta bantuan kawanku untuk mengantarkanku ke stasiun Bekasi karena aku takut ketinggalan kereta ke jakarta.

Tidak sampai menunggu lama, setelah aku antre beli karcis seharga Rp. 9000,- kereta (KRL) datang dari arah Barat. Ketika pintu otomatis terbuka menyambut penumpang yang hendak masuk gerbong, berebutanlah ratusan bahkan mungkin ribuan penumpang masuk dari pintu terdekatnya. Setengah berlari, mereka berebut tempat duduk di dalam gerbong, tak terkecuali aku. Sayang, karena mungkin kurang terbiasa naik KRL, aku gagal mendapat tempat duduk. Dengan terpaksa aku pun harus berdiri selama perjalanan kurang lebih ½ jam dari Stasiun Bekasi ke Gambir, namun aku turun di Stasiun Gondangdia.

Berdirilah aku di gerbong paling belakang bersandar di samping pipa besi disamping pintu otomatis gerbong kereta. Karena tas di punggung cukup berat, ku taruhlah tas ku di atas rak gerbong kereta sehingga beban ku agak berkurang.

Tak sampai lima menit kereta menunggu jadwal pemberangkatan. Tepat pada pukul 06.25 pada jam yang tertulis di HP ku, terdengar suara pengumuman dari pengeras suara yang memerintahkan kereta Ekspress Bekasi jurusan Gondangdia, Gambir, dan Kota segera berangkat. Pintu gerbong pun selanjutnya tertutup secara otomatis. Kereta pun mulai bergerak perlahan dan selanjutnya begerak lebih cepat dan semakin cepat. Sambil berdiri, aku tak terlupa meng-update status Facebook. “stlh 5 jm lbh mcet sblm msk tol cikampek, akhirnya smpai bekasi n lagsung naik krl mnuju gondangdia. capek bgt !!” demikian isinya.

Update status selesai, aku bingung mau ngapain lagi. Semua orang di kereta sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Canda dan obrolan-obrolan antar penumpang yang sebelumnya tidak saling mengenal sebagaimana yang terjadi pada perjalananku naik Matarmaja hampir kuyakin tidak ada. Rata-rata sibuk dengan dirinya sendiri. Kalaupun ada obrolan hanya terjadi pada beberapa orang yang sama-sama rekan sekantor. Wanita yang duduk di samping pipa besi yang kusandari sibk dengan permainan game di handphonenya, lalu ber-sms, dan kemudian bertelpon dengan siapa yang aku tak ketahui. Pria yang duduk di atas kursi pancing karena tak kebagian tempat duduk juga sibuk dengan PDA nya. Ada saja aktivitas yang dilakukan para penumpang. Sebagian besar memang kebanyakan sibuk dengan bacaan korannya. Ada yang membaca Kompas, Pos Kota, Media Indonesia, Republika, Majalah Femina, dan beberapa harian yang tidak kukenal namanya. Selain membaca koran, ada juga yang sibuk melanjutkan bacaan novelnya. Kulirik sepintas, gadis di ujung membaca Twilight, sementara pria yang di seberangnya membaca Harry Potter kurasa. Di sebelahnya, duduk pria di atas kursi pancing di depan gadis berjilbab berbaju hijau yang kurasa pegawai Bank Syariah Mandiri dari corak pakaiannya. Sang pria terlihat komat-kamit. Ternyata ia sedang membaca al Quran. Heran juga aku dibuat. Ternyata di KRL pun ada juga manusia yang menyempatkan membaca lembaran-lembaran ayat al Quran. Sementara wanita yang duduk menghadap di depannya terlihat membaca koran.

Sementara itu, beberapa orang kulihat memejamkan mata. Satu pria kulihat memjamkan mata dengan mulut agak terbuka. Mungkin ia capek semalaman bekerja atau ronda. Wanita cantik yang duduk selisih 4 orang di sebelah kirinya pun juga tertular ngantuk pula. Ternyata, tidak hanya orang jelek yang bisa tertidur pulas dengan ekspresi lucu, orang cantik dan manis pun bisa juga tertidur sambil memperlihatkan ekspresi yang lucu. Niatnya sih mau kuambil gambar dari Hpku, tapi kasian juga kalau ntar fotonya nongol di dunia maya. Pasti malunya dia (heheehe). Sementara itu dduduk di seberangnya seorang ibu. Dari seragam pakaiannya yang bermotif batik corak putih dan hijau sih kuyakin ia seorang PNS. Ibu kita bukan Kartini ini kulihat sedang memegang tasbih dan menggerak-gerakkannya dengan cepat. Sesaat kemudian ia mengambil sebuah buku agenda dan mencoret-coret tulisan tertentu pada halaman paling belakangnya, lalu ia lanjutkan kembali berkomat-kamit sambil menggerakkan tasbih di jarinya. Begitu berulang kali ia lakukan.

Di samping berselisih 3 orang sebelah kirinya, ada seorang bapak-bapak memakai jas berwarna hitam. Dari dalam saku jasnya, ia keluarkan Black Berry yang sedang populer, ia tekan beberap tombol. “Halo” dan seterusnya ia berkata dengan kawan di mana entah dimana.

Pria di depanku yang sama-sama berdiri mengenakan sebuah earphone yang tersambung dengan handphonenya. Tak tahu apa sebenarnya ia sedang mendengarkan musik atau tidak. Kulihat bibirnya tidak terlihat bergerak-bergerak pertanda ia mengucapkan kata-kata yang membuktikan kalau ia mungkin sedang bernyanyi seperti wanita setengah baya yang berdiri di sampingnya yang suara nyanyiannya kudengar pelan melantunkan lagu yang tak kutahu judulnya.

Melihat orang-orang yang berada di sekelilingku beraktivitas dengan kesibukannya masing-masing menjadikanku tersenyum sendiri saja seperti orang gila. Biasanya, jika di dalam kereta yang kunaiki menuju Solo, pasti ada saja orang yang kuajak ngobrol-ngobrol sekalipun sebelumnya belum kukenal. Ada saja bahan obrolan yang muncul dari mulai masalah politik, kerjaan, ekonomi, pengalaman, dan lainnya. Tapi jika aku naik KRL, hampir tidak ada yang ngobrol-ngobrol. Kalaupun ada, obrolan yang muncul antar teman yang dikenal saja. Senyum-senyum sendiri, tak terasa kulihat kereta telah melewati Stasiun Manggarai dan Cikini. Kuambil tas yang ada di rak atas. Kutaruh tasku di depan dada agar terhindar dari copet yang bisa saja mengambil 2 hp di dalam tasku. Kemudian aku berjalan ke arah gerbong depan agar lebih dekat nantinya dengan pintu keluar jika kereta telah berhenti dan membuka pintunya. Selanjutnya, kereta pun berhenti di stasiun Gondangdia, aku keluar setelah pintu terbuka. Lagi-lagi, desak-desakan pun tak terhindarkan. Kulangkahkan kaki pelan mencari tulisan pintu KELUAR. Lalu kuturuni tangga menuju lantai satu. Melewati petugas yang berdiri di depan pintu keluar, kuserahkan karcis ku yang kemudian ia sobek. Beberapa saat aku berjalan menjauh dari stasiun melewati masjid Cut Mutia, aku sampai di kantor pada pukul 07.10, tidak terlambat masuk kantor.

Iklan

2 Tanggapan

  1. SUMBANGAN GRATIS dari negara terkemuka dalam rangka memerangi kemiskinan.
    ini bukan iklan.dont worry be happy,021-87902688
    gratis bea siswa study di luar negeri,atau
    gratis modal usaha,SUMBANGAN tanpa syarat gratis
    probleem anda tak ada yang tak teratasi dengan baik,pemerang kemiskinan dinegara ketiga mendapat donatur dari negara terkemuka khusus jawabarat 021-87902688.umar.buruan yang lambat jangan menyesal
    ……………………………………….

  2. habib umar,hatur nuhun,alhamdulilah,berkat bantuan habib umar saya dan keluarga dipangandaran sudah punya perahu,alhamdulilah wasyukurilah tangkapan ikan cukup,kami sudah bukan buruh pengangkat ikan lagi.bahkan rumah doyong kami pun sudah jadi rumah baru serta insya allah kami mau berangkat haji doakan ya bib umar.kami mendoakan habib umar teh biar panjang umur.hatur nuhun bib
    ………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: