8,5 jam di atas Kereta Matarmaja, Media Pengantar Mudik Dari Arah Jakarta


8,5 jam di atas Kereta Matarmaja, Media Pengantar Mudik Dari Arah Jakarta;

Pukul 12.58 aku absen pulang dari kantor setelah mengajukan izin kepada Kepala Urusan SDM Personalia yang ditandatangani kepala urusanku. Ku tengadahkan telapak tanganku menghadap ke langit mendung. Terasa butiran air kecil yang jatuh di atas telapak tanganku. “Ah, hanya gerimis. Alhamdulillah hujan sudah reda”, kataku dalam hati.

Segera kulangkahan kaki menyeberang jalan yang padat setelah hujan reda, lalu melewati halaman masjid Cut Mutia. Sampai di depan pasar dekat stasiun Gondangdia, aku hentikan palingkan wajahku ke arah belakang dan kuhentikan langkahku. Sebuah bus Kopaja dengan kode P.20 trayek Lebak Bulus-Senen PP terlihat mendekat ke arahku. Ku berikan sinyal dengan tangan bahwa aku akan naik bus itu.

Sekitar pukul setengah dua, aku sampai di terminal Pasar Senen. Aku turun dari bus. Sesaat kemudian, dering lagu “pagiku cerah, matahari bersinar dst” terdengar dari handphone-ku. “Aku di ruang tunggu” demikian isi sms kawanku yang pulang bareng naik Matarmaja, akronim dari Malang Blitar Madiun Jakarta.

Sampai di ruang tunggu, kujabat erat tangannya dan bersalaman seraya mengucap salam. Kurnia Adhi Wibowo, namun kukenal pertama namanya dengan Camagenta. Seorang CPNS di lingkungan kantor Badan Pusat Statistik. Kurasa, ku tak perlu banyak cerita tentangnya.

Aku masih menunggu satu orang kawan yang juga ikut bareng pulang ke Solo naik Matarmaja. Muhammad Ghufron namanya. Namun aku sering memanggilnya Ghufi atau Doyok. Ia tinggal dan bekerja di daerah Bintaro. Cukup jauh memang dari Pasar Senen. Mungkin, jika tidak macet, ia butuh waktu 1 jam untuk sampai di sini. Namun jika macet, jangan tanya sampai jam berapa. Aku pernah hampir 4 jam naik bus dari pasar senen menuju UIN Ciputat.

Pukul 2 kurang lima menit, Ghufi mengirim sms bahwa ia masih jauh dari stasiun dan pasti terlambat. Pukul 14.00 WIB tepat, kereta pun melaju, Ghufi-kawanku- harus rela tertinggal karena ia tidak bisa mencapai Stasiun sebelum kereta berangkat.

Karena tempat duduk kami berhadap-hadapan dengan masing-masing jumlah banjar berisi jatah 3 orang, otomatis satu tempat duduk di baris banjarku kosong satu. Ku persilakan seorang bapak yang bermaksud duduk di sampingku karena kawanku, Ghufi, yang seharusnya duduk di sisiku sudah pasti tidak bakal mengisinya karena ia telah tertinggal kereta. Duduk di depanku 2 orang bapak dan seorang gadis terlihat capai.

“Turun mana pak?” sapaku pada bapak beruban yang duduk persis di depanku.

“Saya Poncol mas” jawabnya. (dalam batik ku berseloroh, kalau saya Ahmed Fikreatif pak…hahahaha)

“Ow, Semarang pak…, sami kulo menawi gitu”, jawabku dalam bahasa campuran Jawa, Indo, dan Perancis.

Begitu aku memulai pembicaraan, bapak di sampingku pun ikut nimbrung dalam obrolan di atas gerbong kereta, begitu pula bapak yang duduk di depanku satunya. Sementara kawanku, Kurnia, hanya sesekali ikut ngobrol karena ia sedang dalam kondisi tidak enak badan.

Beginilah enaknya jika kita naik kereta. Khususnya kereta Ekonomi. Biasanya, kalau aku naik kereta kelas ekonomi, pasti ada saja obrolan-obrolan dengan orang yang sebelumnya tak kukenal. Muncullah suasana keakraban dan kekeluargaan diantara kita. Suasana yang sama bisa pula muncul jika naik kereta kelas bisnis, namun tidak seheboh di ekonomi. Tapi, jika naik kereta bisnis tanpa tempat duduk, suasana seperti ekonomi akan lebih terasa. Suasana seperti inilah yang menjadi pemanis kelas ekonomi. Sesuatu yang sulit terwujud di dalam kereta kelas Eksekutif atau Bus. Pernah suatu kali, aku naik kereta kelas Eksekutif, tak ada suasana kekeluargaan kujumpai. Paling-paling, aku sesekali ngobrol dengan pramugari yang mondar-mandir. Bertanya menu makanan apa saja yang tersedia tanpa niat memesan makanan yang harga berlipat ganda dibanding harga biasa hanya sekedar mengawali obrolan dengan pramugari-pramugaranya. (hik hik hik).

Berbincang-bincang dengan bapak-bapak yang duduk bersebelahan dan di depanku terasa suasana kekraban dan kekeluargaan. Perut lapar yang sehari belum terisi karena sama-sama puasa tak terasa membebani. Berawal dari tanya mau turun dimana, menyebarlah tema pembicaraan hingga masalah jadwal kereta yang lewat Semarang, Solo, dan Yogya, tentang lama waktu masing-masing kereta yang ada di Jawa, tentang beberapa tips naik kereta api ekonomi, tentang cara naik kereta dengan bayar di bawah harga tiket biasa, dan lainnya.

Beberapa hal yang diceritak oleh bapak-bapak itu kepadaku antara lain cara naik kereta dari Jatinegara ke Pasar Senen secara gratis dengan cara menumpang Loko, lalu saran agar naik kereta dengan cara “Rombongan” dan membayar kepada Lurah Gerbong Kereta, lalu saran cara naik kereta di dalam gerbong restorasi jika tidak memperoleh tempat duduk, hingga cerita pengalaman berkereta api secara gratis dengan KRL ekonomi, dan pengalaman-pengalaman lainnya tentang dunia perkereta apian. Meskipun bukan hal baru karena cerita-cerita seperti itu pernah kudengar dan bahkan pernah pula sebagiannya kulakukan namun tak salah jika aku mendengarkan sharing ceritanya untuk keakrban.

Beranjak dari obrolan perkereta-apian, tema obrolan tiba-tiba beralih ke tema dunia perempuan. “Mase sampun rabi?” (Masnya sudah menikah?) tanya bapak yang duduk di sebelahku.

Dengan senyum kecut kujawab, “Apa wajah saya sudah terlihat tua sih pak? Hehehe. Belum kepikir lah pak.”

Wah sudah, ketika topik pembicaraan berganti ke arah ini, akupun menjadi objek ledekan. Kurnia yang sebelumnya terlihat diam langsung ikut nimbrung. Aku pun kemudian disarankan bapak-bapak itu dengan beraneka macam saran. Bapak yang pertama menyarankan agar mencari setidaknya 2 kriteria dari 4 kriteria yang disebutkan Nabi SAW (4 kriteria: Harta, Cantik, Keturunan, & terutama Iman). Bapak yang kedua memberikan saran agar segera menikah karena dengan menikah muda gejolak nafsu angkara murka bisa segera diredam. Bapak yang ketiga menyarankan agar kalau menikah jangan menunggu kaya atau berlimpah harta karena biasanya justru menjadi senjata makan tuan yang kerap merusak rumah tangga. Menurutnya, karena merasa punya harta seseorang cenderung mudah mengatakan kata “cerai” jika terjadi konflik rumah tangga. Pengaruhnya hubungan rumah tangga bisa segera pecah dan hancur. Benar-benar dibuat tak berkutik aku dalam obrolan ini. Aku hanya banyak berkata “iya” dan “nggih” saja sambil tersenyum kecut.

Sesaat obrolan jeda, terlihat dua pasangan yang diduga kuat merupakan pasutri terlihat mesra. Pasangan yang pertama duduk berdampingan di kursi sebelah kami. Kami pun melirik ke arah mereka. Kulihat sang wanita meletakkan kepalanya di atas paha sang pria yang dengan lembut memijat-mijat pundak dan leher sang wanita dengan tangannya. Aku pun dibuat iri melihat kemesraan itu. “Kapan aku merasakan romantisme seperti itu” pikirku. Wakakakakaka.

Sementara pasangan yang satunya terlihat berdiri karena tidak memperoleh tiket tempat duduk. Sang wanita terlihat menyandarkan kepalanya di antara dada pundak sang pria. Sementara tangan kanan sang wanita memeluk pundak sebelah kiri sang pria. “Owh tidak…, pengin sekali ku merasakannya. Tapi kapan?” pikirku dalam hati.

Sudah pasti, melihat dua pasangan di dekat kami, lagi-lagi akupun menjadi objek ledekan dan menjadi bahan olokan serta diprovokasi agar segera saja mencari wanita dan menikahinya.

Merasa terpojok, aku pun berkelit mengalihkan topik pembicaraan tentang Solo dengan segala pernak-perniknya. Alhamdulillah, terpancinglah kemudian mereka bercerita pula tentang Solo, Yogya, Semarang dan pernak-perniknya. Aku akhirnya lolos dari lubang jarum. Tak terasa, kami telah sampai di daerah Stasiun Cirebon bersamaan dengan kumandang adzan maghrib. Kami pun berbuka puasa bersama di atas gerbong kereta. Aku dipersilakan mengambil beberapa telur asin yang ditawarkan bapak yang duduk di sebelahku. Sementara bapak yang duduk di depanku menawariku roti donat yang sebelumnya ia beli di atas kereta. “Alhamdulillah, buka puasa gratis” demikian pikirku. Setelah berbuka, aku segera mengambil tayamum dan sholat Maghrib sekaligus Isya; dengan Jama’. Selesai sholat, obrolan pun berlanjut dengan tema dari mulai BUMN, Kasus Bibit-Chandra, dan kasus Century. Obrolan terus berlanjut meskipun sesekali terputus sementara karena rehat tertidur beberapa menit hingga kereta sudah mendekati Stasiun Poncol Semarang. Sempet kereta berhenti karena “kres” dengan kereta Brantas dari arah berlawanan. Kulihat di samping jalur rel dari arah jendela laut Jawa yang gelap. Terlihat seseorang di atas boat dengan lampu penerang di atasnya entah sedang memancing, menjaring, atau berkemas melakukan sesuatu. Pukul 10.30 WIB, kereta pun berhenti di stasiun Poncol. Aku berpamitan dengan Kurnia yang masih harus melanjutkan perjalanan kereta untuk turun di Stasiun Jebres Solo. Bersama bapak-bapak yang sejak dari Jakarta ngobrol, aku turun dari gerbong kereta. Kujabat tangan mereka dan kuucapkan salam perpisahan. Kami pun berpisah di lorong jalan keuar stasiun Poncol Semarang. Kereta Matarmaja, memang Kereta MediA Pengantar Mudik dari Jakarta. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: