Mbokdhe Sang Penjahit

Mbokdhe Sang Penjahit

Aku buka almari (baca: lemari) di pojok kamar. Ku ambil dua potong celana panjang. Masing-masing berwarna coklat dan hitam. Celana yang berwarna coklat ada sedikit robek di ujung bawahnya. Sedangkan celana warna hitam rusak resletingnya sehingga tidak bisa dikenakan. Resletingnya dol sehingga kalau nekad ku pakai aku dikira orang gila atau orang yang menderita exibisionisme (koreksi jika tulisannya salah. :D ).

Kedua celana panjang itu sengaja kuambil untuk kubawa ke penjahit langganan yang mau dan bisa memperbaiki sedikit kerusakan celanaku. Tak banyak penjahit yang mau meluangkan waktunya untuk membuka jasa perbaikan celana yang rusak. Aku baru menemui ada 2 penjahit di Solo yang mau menerima jasa perbaikan celana yang rusak seperti celanaku. Pertama di kawasan Pajang dan yang kedua di kawasan Panularan. Penjahit yang di Pajang sudah meninggal beberapa bulan silam. Jadi, langgananku tinggal penjahit di Panularan. Cukup jauh kalau diukur dari lokasi rumahku. Sekitar 7 KM. Tetapi mumpung ada waktu selama di Solo, jarak 7 km tidak terasa jauh. Sepuluh sampai 15 menit perjalanan jika dicapai dengan sepeda motor. Dinamakan Panularan barangkali karena dulunya ditinggali orang ningrat yang bernama Haryo Panular. Aku tidak berani memastikan. (more…)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 70 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: