Alasan-Alasan Penetapan Berbasis “Ijab Qobul” Yogyakarta

Alasan-Alasan Penetapan Berbasis “Ijab Qobul”

  1. Adanya jaminan status khusus dari pemerintah Indonesia untuk dua negara yang bersifat Kerajaan, yaitu Kesultanan Yogyakarta dan Kepangeranan Paku Alam sebagai “imbalan” untuk bergabung dengan Negara Republik Indonesia sebagaimana tertuang pada Piagam Penetapan 19 AGustus 1945.
  2. Adanya status keistimewaan bahwa Yogyakarta adalah Daerah Istimewa Setingkat Propinsi (Bukan Propinsi) yang dipimpin oleh Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah (Bukan Gubernur dan Wakil Gubernur) dengan konsep Dwi Tunggal sesuai UU No. 3 Tahun 1950.
  3. Adanya kekuasaan penuh atas Pemerintahan Dalam Negeri Yogyakarta serta Pemahamannya dari Kekuasaan-Kekuasaan lainnya di tangan Sri Sultan dan Sri Paku Alam yang dipertanggungjawabkan langsung kepada Pemerintah Pusat Negara Republik Indonesia sebagaimana tertuang pada Amanah HB IX / Paku Alam VIII – 5 September 1945

“BERGABUNG TAK BERARTI MELEBUR”

Pengawal Amanah HB IX 5 September 1945

Leaflet (selebaran) ini harap disimpan sebagai pegangan memperjuangkan keistimewaan DIY

 

Leaflet (selebaran) itu saya temukan tertempel di dinding trotoar jalan Malioboro, beberapa waktu lalu.

Ahmed Fikreatif

 

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

 

 

Apa Latar Belakang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta?

Apa Latar Belakang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta?

  1. Adanya “Ijab Qobul” dimana Piagam Kedudukan 19 Agustus 1945 yang merupakan LAMARAN dari Republik Indonesia dalam hal ini oleh Ir. Soekarno sebagai Presiden kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai Penguasa Kerajaan Ngayogyakarto Hadiningrat telah DITERIMA dengan MAHAR yang tertuang dalam Amanah Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada 5 September 1945. (more…)

Pedjah Gesang Nderex Ngarso Dalem

Pedjah Gesang Nderex Ngarso Dalem

Pedjah Gesang Nderex Ngarso Dalem

Pedjah Gesang Nderex Ngarso Dalem

Kaos yang dikenakan oleh salah seorang tukang becak ini kujumpai di kawasan Jalan Malioboro, Yogyakarta. Sebuah kalimat yang artinya cukup dalam dan boleh dibilang berbau ‘politis’ serta sarat perjuangan masyarakat Yogyakarta pada saat ini. Kalimat Pedjah Gesang Nderex Ngarso Dalem memiliki arti bebas “Hidup dan Mati ikut ‘Ngarso Dalem‘ (yang dalam hal ini adalah Raja atau Sultan)”. Jika dibaca dalam situasi politik yang sedang terjadi di kota Yogyakarta pada saat aku memotret itu, kata-kata itu merupakan ungkapan dukungan akan Keistimewaan Yogyakarta yang sedang bersitegang dengan pemerintah pusat di Jakarta. (more…)

Main Mercon

Mercon

Mercon

Main Mercon

Main mercon atau petasan. Jika datang bulan Ramadhan, permainan ini tidak mungkin kulewatkan begitu saja. Tak hanya aku, kawan-kawan sebayaku dulu saat aku masih usia-usia SD, juga demikian. Sebuah permainan yang secara umum hanya populer pada saat bulan Ramadhan saja. Setelah bulan Ramadhan, permainan ini seperti langsung kehilangan ruh-nya.

Peringatan orangtua atau larangan guru sekolah serta adanya informasi orang-orang yang terluka saat main mercon di koran-koran tak menyurutkan nyali kami bermain mercon. Bahkan terkadang berita-berita di koran tentang mercon yang memakan korban justru menjadi tantangan kami untuk menaklukkannya. Bukan lelaki jika tak berani bermain mercon. Kira-kira demikian ledekan diantara sesama anak laki-laki jika ada yang tidak berani bermain mercon. Terprovokasi oleh kata-kata itu, aku pun terpancing untuk menjadi seorang ‘Lelaki Sejati yang Pemberani’ untuk menaklukkan mercon. (more…)

Ada ‘Gayus’ di Iklan Terbaru Djarum 76 ?

Ada ‘Gayus’ di Iklan Terbaru Djarum 76 ?

Bukan iklan rokok kalau nggak kreatif. Begitupula dengan iklan kreatif rokok Djarum 76 di atas. Tak hanya kreatif, iklan Djarum 76 itu juga secara tersirat mengkritik keras praktik-praktik Korupsi, Suap, Sogok, dan budaya KKN lainnya di instansi-instansi pemerintahan namun dengan cara yang kocak, lucu, dan unik. Apalagi iklan itu menampilkan sosok ‘Gayus’.

Iklan yang mempopulerkan jargon ‘Yang penting Hepi…’ itu diawali dengan adanya seorang warga yang datang mengurus admnistrasi di kantor instansi (Pajak, karena ada sosok mirip Gayus-nya). Seorang warga itu selanjutnya digambarkan tengah menghadap petugas mirip Gayus. Dengan kode dan isyarat jari, sosok mirip Gayus itu pun digambarkan meminta uang sogokan atau pungli (pungutan liar). Melihat tindakan sosok mirip Gayus itu, si warga pun mengumpat, “ CUK, DASAR RAMPOK!!” umpatnya dengan muka diliputi ekspresi geram.

Si warga kemudian berjalan keluar meninggalkan kantor. Saat berjalan, ia kemudian tersandung Poci. Tak dinyana poci itu berisi Jin Jawa yang siap mengabulkan SATU permintaan dari orang yang membebaskannya (si warga).

Kuberi satu permintaan. Monggo…” ucap si Jin poci dengan logat Jawa kental serta pakaian adat khas Jawa.

Mau korupsi, pungli, sogokan ilaaaang dari muka bumi. Isoh Jin (bisa nggak)?” jawab si warga dengan nada mantap masih menyisakan guratan kegeraman.

Sambil mengelus dada dan pasang muka sok bijak, si Jin pun menjawab, “Bisa diatur…” kata si Jin poci. Namun ia menambahkan kalimatnya.

Wani piro (terj: berani bayar berapa?)?”tambah si Jin poci dengan nada senyum dan ekspresi mengejek. (more…)

(Pura2) Ngamen di Perempatan Taman Menteng

(Pura2) Ngamen di Perempatan Taman Menteng

Ceritanya, setelah kurang lebih sejam berlari-lari main futsal aku kecapekan dan memutuskan istirahat. Setelah sekiranya badan cukup segar kembali, aku ambil kamera saku di dalam tas dan motret-motret objek bareng seorang kawan. Dan entah kenapa juga tiba-tiba kepikiran untuk ngelakuin hal yang ‘gokil’ dan nekad. Istilahnya “Berani Malu” gitu lah.

Setelah mencari-cari ide ‘kreatif’ motret gokil, barulah aku kepikiran untuk ngambil gambar saat ‘ngamen’ di lampu merah perempatan Taman Menteng. Aku beranikan diri dan aku siapkan mentalku untuk berani malu. Setelah berada di posisi yang diinginkan, kamera dipegang kawanku sementara aku ‘acting’ selayaknya pengamen di perempatan. Ku angkat tangan di depan dada seolah seperti tengah bertepuk sambil bernyanyi di samping pintu kemudi Mobil Jazz. Sang sopir hanya memandangku seolah penuh tanya, “Ini anak ngapain? Ngamen kok nggak niat gitu?” barangkali demikian yang terlintas di pikirannya. Sementara di jok belakangnya kulihat beberapa SPG Djarum cekikian senyum-senyum gak jelas. Kawanku beberapa kali mengambil gambar saat aku ‘beraksi.’ (more…)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 68 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: