Sepotong Kisah Kaum Adam Mencari Pasangan

Menunggu Di Batas Waktu

Menunggu Di Batas Waktu

Ada seorang kawan, sebutlah namanya Sutrisno. Teman satu sekolah di SMA. Pada sebuah kesempatan, ia secara eksplisit memohon bantuanku untuk mencarikan seorang wanita yang hendak ia jadikan sebagai istri.

Med, aku khan dah coba nyari-nyari jodoh belum ketemu-ketemu nih, aku minta tolong kamu dong nyariin jodoh buatku,”pintanya kepadaku, “temenmu khan banyak to? Kenalinlah salah satunya ke aku yang kira-kira pas untukku,” tambahnya.

Owh, kamu serius apa nggak?” tanyaku.

Serius lah, Med..” jawabnya dengan memasang mimik serius.

Oke. Kamu mau nyari yang model gimana (*emangnya barang..) ?” tanyaku.

Gini Med, aku sih pada dasarnya nggak mau neko-neko. Yang biasa saja lah.”jawabnya menerangkan.

Sederhana itu gimana? Jelasin agak sedikit mendetail gitulah!” tegasku bertanya.

Yaa, carikan aku yang sholihah lah. Pinter mengaji dan berpakaian islami menutup tubuhnya dengan selimut jilbab rapat dan menjaga pandangannya. Tidak terlalu mengenal dunia-dunia luar seperti sekarang ini.” urainya mengawali. Baca lebih lanjut

Minta Solusi Cara Belajar Jarak Jauh Dong….

Cinta Al Quran

Cinta Al Quran

Kemaren, ada seorang kawan curhat kepada saya. Singkatnya, ia mengutarakan niatnya untuk bisa membaca al Quran atau melancarkan bacaannya. Sebutlah nama kawanku itu, Titin. Titin adalah seorang mahasiswi pascasarjana di sebuah universitas negeri di kota Pelajar sekaligus Kota Gudheg. Titin juga berkeinginan untuk belajar bahasa Inggris sekaligus secara privat. Persoalan menjadi mengemuka karena ia meminta aku yang menjadi tutor atau pengajar baginya. Baca lebih lanjut

Romantisme Dalam Surat Cinta Generasi ‘Blogger’ Tempo Dulu

Beberapa waktu lalu, aku bikin postingan berjudul Surat Cinta Dua Insan Terlanda Asmara Terpisah Lautan. Bukan bermaksud apa-apa dengan postingan itu, selain lebih karena alasan aku ingin memberikan sebuah penghargaan kepada orang-orang zaman dahulu yang minimal pernah berkarya membuat tulisan berupa sebuah surat atau surat cinta. Salah satunya adalah sosok mas Sutrisno dan mbak Titin. Keduanya adalah pasangan kekasih yang pada saat itu  menjalin hubungan cinta jarak jauh / long distance relationship (LDR). Ternyata eh ternyata, surat cinta mas Sutrisno itu memperoleh jawaban dari Titin yang ditulis oleh dua blogger yang berbeda. Jawaban pertama oleh Cempaka dalam Balasan Surat Cinta; sementara Puri The Pink Octopus pun juga tak kalah membalas surat cinta mas Sutrisno dalam judul Balasan surat cinta? mari muntah bersama! [terima kasih for both of u :D ]

Sebetulnya, awal aku tertarik menulis surat cinta itu karena aku memperoleh cerita dari seorang rekan kerja sekantorku yang menjelang pensiun, sebutlah namanya pak Fulan. Beliau bercerita tentang masa tempo dulu saat masih pacaran atau belum menikah, beliau dan kekasihnya menggunakan media surat untuk berkomunikasi karena pada saat itu belum dikenal alat komunikasi macam handphone seperti saat ini. Telepon rumah pun hanya orang-orang tertentu yang memilikinya. Pak Fulan bercerita bahwa surat-surat jawaban dari kekasihnya (saat ini telah menjadi istrinya) tersebut masih ia simpan dan masukkan ke dalam sebuah Folder file yang jumlahnya menumpuk cukup banyak. Begitupula dengan istri pak Fulan, istrinya pun menyimpan surat-surat yang dikirimkan oleh pak Fulan. Jumlahnya pun sebanyak yang disimpan oleh pak Fulan. Di dalam ‘dokumen’ surat-surat yang disimpan itu juga tersimpan surat-surat mereka setelah menikah yang terkadang masih dilakukan karena keduanya sempat berpisah kota dan jarak. Surat, menjadi media komunikasi utama jika keduanya tidak bisa bertatap muka. Biasanya, surat itu dikirim tidak melalui kantor pos atau jasa ekspedisi sejenis lainnya, namun dikirim melalui jasa ‘kurir’ seorang teman yang dipercaya atau bocah-bocah sekolah yang memperoleh imbalan permen atau barang lainnya. Baca lebih lanjut

Cintaku Salah Arah

Sumber gambar: mariskalubis.wordpress.com

Alkisah, sebutlah namanya Mawar, seorang gadis remaja beranjak dewasa lulus SMA yang tengah menikmati masa-masa pubertas dan kebebasannya setelah menerima pengumuman kelulusan dirinya dengan nilai yang cukup baik. Gadis ayu ini mendamba seorang jejaka muda kawan satu sekolahnya bernama Sutrisno. Perasaan Mawar kepada Sutrisno sebetulnya sudah tersimpan sejak lama ketika keduanya masih duduk di kelas dua. Hanyasaja karena ia seorang wanita, ia pun enggan mengungkapkan perasaan hatinya itu kepada Sutrisno. Namun kali ini, setelah masa-masa mereka bersama di SMA tinggal menunggu waktu dalam hitungan hari saja, Mawar hendak melepaskan beban perasaan itu kepada Sutrisno agar ia merasa ringan dan lega sesudahnya. Diterima atau ditolak adalah konsekuensi jawaban yang sudah ia terima.

Sementara itu, Sutrisno adalah seorang pemuda tampan yang memiliki prestasi bagus di sekolah. Siswa ini juga dikenal dewasa dan berperawakan gagah. Ia juga banyak dikenal oleh para guru dan murid-murid lainnya di sekolah. Selama ini, teman-temannya juga mengenal Sutrisno sebagai seorang siswa yang berjiwa entrepreneurship. Untuk ukuran anak SMA, Sutrisno dikenal cukup sukses dalam meretas sebuah usaha yang dia jalani di sela-sela belajarnya. Ia juga memiliki banyak koneksi dan akrab bergaul karena memang kawan-kawannya mengenalnya sebagai orang yang ramah. Tak salah jika banyak temen-temen cewek yang mengenalnya mendambakan Sutrisno.

Menjelang ujian akhir nasional (UAN), Sutrisno memang terlihat cukup dekat dengan Mawar. Bagi Mawar, ini adalah ibarat pucuk dicinta ulam tiba. Suatu saat, Sutrisno datang mendekati Mawar di taman depan sekolah. Mawar sempat kaget dan agak deg-degan karena tiba-tiba didekati sang cowok idolanya itu. Mereka kemudian terlibat obrolan remaja kesana-kemari. Sepanjang obrolan, jantung Mawar tak hentinya berdegup cukup kencang. Matanya hampir tak berkedip memandang sang pujaan. Hatinya seolah terpatri oleh anak panah yang tertancap. Bibirnya hampir tak berhenti mengekspresikan senyum. Kata-kata yang keluar dari mulut Mawar juga terlihat diatur perlahan, lembut dan penuh kehati-hatian. Mawar benar-benar seperti sedang terbang pelan ke angkasa. Baca lebih lanjut

Surat Cinta Dua Insan Terlanda Asmara Terpisah Lautan

Ilustrasi Surat Cinta

Ilustrasi Surat Cinta (sumber gambar klik saja pada foto)

Sepasang insan yang saling mencinta harus terpisah jauh oleh jarak, kota, danau, bahkan lautan. Sutrisno, seorang pemuda anak seorang transmigran yang tinggal di Palembang harus berpisah dengan Titin, seorang gadis yang tinggal se-desa karena harus merantau untuk bekerja di Jawa. Tepatnya di kota Solo.

Di Solo, Sutrisno bekerja sebagai seorang ambtenaar. Ia tak memiliki kerabat di kota ini. Ia harus indekos, sementara kekasih hatinya masih kuliah semester pertengahan di sebuah universitas negeri jurusan Psikologi. Takdir membuat mereka harus terpisah sementara tidak lama sesudah keduanya mengungkapkan perasaannya masing-masing. Mereka pun harus menempuh hubungan asmara itu dengan jarak jauh. LDR, orang sekarang menyebutnya, Long Distance Relationship.

Untuk menyambung komunikasi dan menjaga hubungan mereka, maka keduanya berkomitmen untuk selalu kirim surat minimal satu surat setiap pekannya. Sebuah komunikasi yang cukup romantis berbumbu rasa kangen yang berlipat menjadi penyedap rasa asmara diantara keduanya.

Inilah salah satu surat yang ditulis Sutrisno. Baca lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 97 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: