Cinta Dalam Sepotong Mata

Cinta Dalam Mata

Solo, 15 Agustus 2009. Di pinggiran kota yang biasa dikenal dengan sebutan Makamhaji. Nampak rombongan orang berjalan berduyun-duyun keluar turun dari 2 bus, puluhan mobil, dan motor. Seratusan lebih orang itu kemudian berjalan tertib, pelan, dan beriringan. Mereka rata-rata berpakaian dengan motif hitam. Beberapa orang yang berada pada posisi paling depan membawa rangkaian bunga dan bendera plastik berwarna merah.

Sementara itu, pada waktu yang hampir bersamaan, muncul satu buah kotak persegi panjang besar dari sebuah mobil berwarna putih yang sebelumnya meneriakkan bunyi sirene yang meraung-raung. Di sisi mobil itu terdapat tulisan bercetak hitam “Mobil Jenazah”. Bersama dengan rombongan-rombongan yang lain, 6 orang yang memikul kotak persegi panjang berwarna coklat berjalan menuju sebuah lokasi yang tanahnya berlubang sedalam 2 meter dengan ukuran panjang sekitar 1,8 meter dan lebar 90 meter. Beberapa orang kemudian mengambil bungkusan putih di dalam kotak persegi panjang dan selanjutnya memasukkannya ke dalam lubang. Sosok jenazah yang sudah tak bernyawa itu kemudian ditinggal sendiri di dalam lubang kemudian dikubur ditutup secara rapat dengan tanah. Sebuah papan kayu tertancap dengan tulisan Titin Kusuma, lahir 21 Desember 1985, wafat 15 Agustus 2009. Continue reading

Ups..!! Ada ‘Cempaka’ di Rumahku……

Kemaren (28-30 Mei 2010) saat pulang ke rumah di Solo, aku dibuat tersenyum sendiri saat melihat pada sebuah taplak meja di kamar tamu rumahku. Pandanganku langsung saja mengarah ke Jember. Aku teringat dengan seorang blogger yang tengah kuliah di kota itu, Cempaka namanya. Lantas apa hubungannya Cempaka dan taplak meja? Apa Cempaka seperti taplak meja? :D Tentunya tidak, meskipun aku belum tahu dia seperti gimana. :) Aku hanya reflek tersenyum sementara otakku memutar cepat rekaman file-file yg tersimpan dalam kepalaku, saat aku melihat gambar / foto di bawah ini saja.

Continue reading

Fiksi Mini: Kupinang Engkau Dengan Al Quran

Fiksi mini (atau fiksimini) ini disamping dibuat dalam rangka turut meramaikan kontes fiksi mini yg diadakan wi3nda; juga untuk sekedar menyuarakan sebuah pesan dan opini. Aku tidak ahli di bidang dunia ini. Namun aku berusaha belajar dan mencoba menuliskannya. Jika tulisan di bawah bukanlah termasuk bagian dari fiksimini, mohon pencerahannya. Namanya juga pembelajar. :D

Dalam ajang kontes fiksimini ini, bagiku menang atau kalah bukan persoalan utama dan penting untuk diperdebatkan. Bagiku, yang lebih penting turut serta meramaikan acara blogger lain.

Selebihnya, aku hanya ingin berkarya. Menulis ide dalam goresan pena. Kusajikan dalam sebuah blog media. Semoga memberi kemanfaatan bagi para pembaca.

Sumber Gambar: Klik Saja

Tema Keluarga

Nikah
Sutrisno: “Kupinang engkau dengan Al Quran.” | Titin: “Aku menerima dengan segenap iman.” Continue reading

Minta Solusi Cara Belajar Jarak Jauh Dong….

Cinta Al Quran

Cinta Al Quran

Kemaren, ada seorang kawan curhat kepada saya. Singkatnya, ia mengutarakan niatnya untuk bisa membaca al Quran atau melancarkan bacaannya. Sebutlah nama kawanku itu, Titin. Titin adalah seorang mahasiswi pascasarjana di sebuah universitas negeri di kota Pelajar sekaligus Kota Gudheg. Titin juga berkeinginan untuk belajar bahasa Inggris sekaligus secara privat. Persoalan menjadi mengemuka karena ia meminta aku yang menjadi tutor atau pengajar baginya. Continue reading

Romantisme Dalam Surat Cinta Generasi ‘Blogger’ Tempo Dulu

Beberapa waktu lalu, aku bikin postingan berjudul Surat Cinta Dua Insan Terlanda Asmara Terpisah Lautan. Bukan bermaksud apa-apa dengan postingan itu, selain lebih karena alasan aku ingin memberikan sebuah penghargaan kepada orang-orang zaman dahulu yang minimal pernah berkarya membuat tulisan berupa sebuah surat atau surat cinta. Salah satunya adalah sosok mas Sutrisno dan mbak Titin. Keduanya adalah pasangan kekasih yang pada saat itu  menjalin hubungan cinta jarak jauh / long distance relationship (LDR). Ternyata eh ternyata, surat cinta mas Sutrisno itu memperoleh jawaban dari Titin yang ditulis oleh dua blogger yang berbeda. Jawaban pertama oleh Cempaka dalam Balasan Surat Cinta; sementara Puri The Pink Octopus pun juga tak kalah membalas surat cinta mas Sutrisno dalam judul Balasan surat cinta? mari muntah bersama! [terima kasih for both of u :D ]

Sebetulnya, awal aku tertarik menulis surat cinta itu karena aku memperoleh cerita dari seorang rekan kerja sekantorku yang menjelang pensiun, sebutlah namanya pak Fulan. Beliau bercerita tentang masa tempo dulu saat masih pacaran atau belum menikah, beliau dan kekasihnya menggunakan media surat untuk berkomunikasi karena pada saat itu belum dikenal alat komunikasi macam handphone seperti saat ini. Telepon rumah pun hanya orang-orang tertentu yang memilikinya. Pak Fulan bercerita bahwa surat-surat jawaban dari kekasihnya (saat ini telah menjadi istrinya) tersebut masih ia simpan dan masukkan ke dalam sebuah Folder file yang jumlahnya menumpuk cukup banyak. Begitupula dengan istri pak Fulan, istrinya pun menyimpan surat-surat yang dikirimkan oleh pak Fulan. Jumlahnya pun sebanyak yang disimpan oleh pak Fulan. Di dalam ‘dokumen’ surat-surat yang disimpan itu juga tersimpan surat-surat mereka setelah menikah yang terkadang masih dilakukan karena keduanya sempat berpisah kota dan jarak. Surat, menjadi media komunikasi utama jika keduanya tidak bisa bertatap muka. Biasanya, surat itu dikirim tidak melalui kantor pos atau jasa ekspedisi sejenis lainnya, namun dikirim melalui jasa ‘kurir’ seorang teman yang dipercaya atau bocah-bocah sekolah yang memperoleh imbalan permen atau barang lainnya. Continue reading

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 87 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: