Seorang provokator pluralis, Dawam Raharjo, pernah mengeluarkan pernyataan provokatif. ”Indonesia yang penduduknya mayoritas muslim, seharusnya dipimpin oleh golongan non muslim yang minoritas, agar kontrol sosialnya mengena. Pasalnya, bila yang mengontrol lebih banyak, maka yang sedikit akan berfikir seribu kali untuk menyeleweng,” demikian kata pokrol aliran sesat Ahmadiyah tersebut.
Permulaan Maret 2008 dua tahun lalu, bertepatan dengan pergantian tahun Saka 1930. Setiap menyambut kedatangan tahun baru, warga Hindu Bali melaksanakan hari raya Nyepi. Ritual Nyepi memiliki empat inti, yang disebut Catur Brata, meliputi amati geni (tidak boleh menyalakan api atau lampu), amati karya (tidak boleh bekerja, berbuat gaduh, atau memukul-mukul), amati lelungan (tidak boleh bepergian, keluar pekarangan), dan amati lelanguan (tidak boleh makan). Di Bali, mematuhi Catur Brata bukan hanya kewajiban kaum Hindu, tetapi juga “dipaksakan” kepada umat penganut agama lain.
Minoritas warga non-Hindu di daerah itulah yang menjadi korbannya. Warga non-Hindu di Gianyar dan Denpasar misalnya, dilarang menyalakan lampu pada hari itu. Bila melanggar, tak jarang rumah mereka dilempari. Barangkali hanya oknum semata. Di lain kejadian, pernah seorang anggota TNI non-Hindu yang anggota keluarganya meninggal, terpaksa menunda pemakaman, demi memenuhi tuntutan ritual Nyepi. Bukan itu saja, seluruh penerbangan nasional maupun internasional ditiadakan karena Bandar udara ditutup. (more…)
Filed under: Agama, Artikel Ringan, Diary, Sosial Budaya | Ditandai: 7 Maret 2008, Ahmed Fikreatif, Bali, Bengawan Solo, Blog, Budaya, Catur Brata, Dakwah, Denpasar, DIalog, Dialog Agama, Diary, Gianyar, Hari Nyepi, Hindu, Hindu Bali, Hindu India, India, Intoleransi, Islam, Katolik, Kristen, Non-Hindu, Nyepi, Nyepi di Bali, Nyepi Saat Hari Jumat, Nyepi Saat Hari Minggu, Pluralisme, Protestan, Solo, Toleransi, Tradisi, Tradisi Hindu | 33 Komentar »







