Rangkuman Sejarah Keraton Kasultanan Yogyakarta #4 [Habis]

 

HB IX

Masa Hidup di bawah (Ketiak) di bawah Belanda dan Pasca Proklamasi RI

Sepeninggal HB V, maka tongkat estafet kesultanan dipegang oleh adiknya, Raden Mas Ariojoyo yang bergelar Hamengkubuwana VI. Pada masa pemerintahannya terjadi gempa bumi yang besar yang meruntuhkan sebagian besar Keraton Yogyakarta, Taman Sari, Tugu Golong Gilig, Masjid Gede (masjid keraton), Loji Kecil (sekarang Istana Kepresidenan Gedung Agung Yogyakarta) serta beberapa bangunan lainnya di Kasultanan Yogyakarta.

Sebagaimana diketahui, ketika HB V masih hidup dan bertahta, Ariojoyo dikenal sebagai penentang keras kebijakan politik Kasultanan yang menjalin hubungan dekat dengan pemerintah Hindia-Belanda. Namun setelah ia sendiri yang bertahta melanjutkan pemerintahan Kasultanan Yogyakarta, ia justru menelan ludah sendiri.

Semasa pemerintahannya, dia justru melanjutkan kebijakan dari kakaknya yang sebelumnya dia tentang keras. Tapi lambat laun hubungan dengan pemerintahan Hindia-Belanda agak mulai menuai konflik terutama karena keraton Yogyakarta kala itu banyak menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan yang menjadi musuh pemerintah Hindia-Belanda dan Kerajaan Belanda. Baca lebih lanjut

Rangkuman Sejarah Keraton Kasultanan Yogyakarta #3

Masa Keharmonisan Yogyakarta dengan Belanda & Jatuhnya Pamor Keraton di Mata Rakyat

Perkembangan pemerintahan di Yogyakarta memang unik. Jika sebelumnya diceritakan bahwa HB II memerintah selama tiga periode, maka puteranya, Hamengkubuwana III menjadi raja selama dua periode. Periode pertama dijalani saat ayahnya dipaksa turun tahta oleh Belanda.

HB III memiliki nama asli Raden Mas Surojo. Ia putra Hamengkubuwana II yang lahir pada tanggal 20 Februari 1769. Pada bulan Desember 1810 terjadi serbuan tentara Belanda terhadap Keraton Yogyakarta sebagai kelanjutan dari permusuhan antara Hamengkubuwana II melawan Herman Daendels. HB II diturunkan secara paksa dari tahta. Herman Daendels kemudian mengangkat Raden Mas Surojo sebagai Hamengkubuwana III berpangkat regent, atau wakil raja. Ia juga menangkap dan menahan Pangeran Notokusumo saudara Hamengkubuwana II di Cirebon.

Pada tahun 1811 Inggris berhasil merebut jajahan Belanda terutama Jawa. Kesempatan ini dipergunakan oleh Hamengkubuwana II untuk naik takhta kembali dan menurunkan Hamengkubuwana III sebagai putra mahkota. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 28 Desember 1811.

Sebagaimana telah diceritakan sebelumnya mengenai pertentangan HB II dan Thomas Rafles yang mengakibatkan HB II dibuang ke Penang, maka ia pun kembali kehilangan tahtanya. Maka secara otomatis, Hamengkubuwana III kembali naik sebagai raja Yogyakarta. Baca lebih lanjut

Rangkuman Sejarah Keraton Kasultanan Yogyakarta #2

Masa Intrik ‘Perang’ Saudara antara Yogyakarta dan Surakarta

Sejak tanggal 7 Oktober 1756 Hamengkubuwana I pindah dari Kebanaran menuju Yogyakarta. Seiring berjalannya waktu, nama Yogyakarta sebagai ibu kota kerajaannya menjadi lebih populer.

Dalam perkembangan berikutnya, Yogyakarta dan Surakarta memang belum bisa rukun. Paku Buwono IV mengambil langkah konfrontatif dengan Yogyakarta dengan tidak mau mencabut nama “Mangkubumi” untuk saudaranya. Memang dalam Perjanjian Giyanti tidak diatur secara permanen soal suksesi Kasultanan Yogyakarta, sehingga sikap konfrontatif Paku Buwono IV ini dapat dimengerti bahwa penguasa Surakarta memahami tanggung Jawab Kerajaan. PB IV ini lambat laun pun kemudian mulai berani melawan VOC dan berusaha mengalahkan Yogyakarta dan Mangkunegaran (Raden Mas Said). Melihat gelagat itu, VOC pun lagi-lagi menggunakan siasat adu domba-nya. VOC kemudian bersekutu dengan HB I dan Mangkunegara I (Mangkunegara I adalah Raden Mas Said yang setelah lama berjuang dalam pemberontakan akhirnya menyerah_pen). Persekutuan ini kemudian melakukan rencana penyerangan namun diawali dengan pengepungan istana Kasunanan Surakarta. Pakubuwana IV akhirnya mengaku kalah tanggal 26 November 1790. Berakhirlah pertikaian Surakarta dan Yogyakarta. Baca lebih lanjut

Rangkuman Sejarah Keraton Kasultanan Yogyakarta #1

Berdirinya Kasultanan Yogyakarta

Kota Yogyakarta memang akhir-akhir ini cukup terkenal. Pertama, karena beberapa kali bencana alam terjadi di kota ini secara bergantian mulai dari gempa bumi sampai meletusnya gunung Merapi. Kedua, karena menghangatnya isu mengenai masa depan Keistimewaan Yogyakarta (baca lebih lanjut di Jogja Istimewa).

Berkenaan dengan hal tersebut, aku tertarik untuk mengetahui lebih jauh sejarah berdirinya kota sekaligus kerajaan/kasultanan Yogyakarta. Siapa sajakah raja-raja yang pernah berkuasa di Yogya dan bagaimana proses pemerintahannya?

Selain warga Solo dan Yogya, tak banyak yang tahu bahwa Yogyakarta lahir dan berdiri sebagai bentuk pecahan dari kekuasaan kerajaan Kasunanan Surakarta. Hal ini sebenarnya dapat dimaklumi karena generasi sekarang memang lebih mengenal Yogya daripada Solo.

Secara prinsip, lahirnya Yogyakarta berawal dari adanya Perjanjian Giyanti. Perjanjian Giyanti adalah perjanjian VOC (sebagai penerima mandat kekuasaan Kasunanan Surakarta dari PB III) dengan Pangeran Mangkubumi (nantinya akan bergelar HB I). Materi isinya intinya memecah Kasunanan Surakarta yang merupakan pewaris tahta Kerajaan Mataram menjadi dua kerajaan yang berdiri setara dan berdaulat penuh. Hasil dari perjanjian Giyanti adalah antara lain: Baca lebih lanjut

Rangkuman Sejarah Keraton Kasunanan Surakarta #4 [Selesai]

 

Ranggawarsita - Salah Seorang Pujangga Yang Besar di Masa Ini

Ranggawarsita - Salah Seorang Pujangga Yang Besar di Masa Ini

Masa Perdamaian di bawah (ketiak) Pemerintah Belanda dan Pasca Proklamasi RI

Pakubuwono VII, nama aslinya ialah Raden Mas Malikis Solikin. Ia merupakan paman dari PB VI. PB VII adalah putra Pakubuwana IV yang lahir dari permaisuri Raden Ayu Sukaptinah alias Ratu Kencanawungu. Ia dilahirkan tanggal 28 Juli 1796.

Pakubuwana VII naik tahta tanggal 14 Juni 1830 menggantikan keponakannya, yaitu Pakubuwana VI yang dibuang ke Ambon oleh Belanda. Saat itu Perang Diponegoro (Perang Jawa) baru saja berakhir. Masa pemerintahan Pakubuwana VII relatif damai apabila dibandingkan masa raja-raja sebelumya. Tidak ada lagi bangsawan yang memberontak besar-besaran secara fisik setelah Pangeran Diponegoro.

Keadaan yang damai itu mendorong tumbuhnya kegiatan sastra secara besar-besaran di lingkungan keraton. Masa pemerintahan Pakubuwana VII dianggap sebagai puncak kejayaan sastra di Kasunanan Surakarta dengan pujangga besar Ranggawarsita sebagai pelopornya. Hampir sebagian besar karya Ranggawarsita lahir pada masa ini. Hubungan antara raja dan pujangga tersebut juga dikisahkan sangat harmonis. Baca lebih lanjut

Rangkuman Sejarah Keraton Kasunanan Surakarta #3

Patung Pakubuwono VI

Patung Pakubuwono VI

Pakubuwana V – VI (Masa Perjuangan Sabilillah Mengusir Belanda Bersama Pangeran Diponegoro dan Pemberontakan Terhadap Yogyakarta)

Pada akhirnya, Pakubuwana IV meninggal dunia tanggal 2 Oktober 1820. Ia digantikan putranya yang bergelar Pakubuwana V. Nama aslinya adalah Raden Mas Sugandi, putra Pakubuwana IV yang lahir dari permaisuri Raden Ayu Handoyo putri Adipati Cakraningrat bupati Pamekasan. Ia naik takhta pada tanggal 10 Februari 1820, selang delapan hari setelah kematian ayahnya (PB IV).

Selama masa kepemimpinan PB V, boleh dibilang tidak ada peristiwa-peristiwa besar atau berdarah serta suksesi-suksesi di wilayah eks Mataram. Boleh dibilang suasana lumayan kondusif. Bahkan, Pakubuwana V sempat membuat sebuah karya sastra yang dikenal dengan Serat Centhini. Serat Centhini merupakan sebuah karya yang didasarkan pengalaman pribadinya semasa menjabat Adipati Anom. Yang menjadi juru tulis naskah populer ini ialah Raden Rangga Sutrasna.

PB V tidak terlalu lama bertahta. Ia hanya memerintah selama tiga tahun. Ia meninggal dunia pada tanggal 5 September 1823. Raja Surakarta selanjutnya adalah putranya, yaitu Pakubuwana VI, yang telah ditetapkan pemerintah Indonesia sebagai pahlawan nasional. Baca lebih lanjut

Rangkuman Sejarah Keraton Kasunanan Surakarta #2

lanjutan dari Bagian I

Pakubuwana III – IV (Masa Perebutan Tahta Mataram Utuh Antara Surakarta-Yogyakarta)

PB III memiliki nama asli Raden Mas Suryadi, putra PB II yang lahir dari permaisuri putri Pangeran Purbaya Lamongan (putra Pakubuwana I). Ia naik takhta Surakarta tanggal 15 Desember 1749. Ia dilantik sebagai raja oleh Baron von Hohendorff gubernur pesisir Jawa bagian timur laut, yang mewakili VOC.

Setelah menjadi raja, PB III pun melanjutkan perjuangan ayahnya (PB II) untuk melumpuhkan pemberontakan Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said. Ketika itu, Pangeran Mangkubumi dan Mas Said sudah memiliki dukungan yang besar dari pemberontak. Bahkan, pemberontak sudah secara formal mengangkat keduanya masing-masing sebagai Raja dan Patih.

Karena memperolah dukungan dari rakyat yang makin besar, maka pasukan pemberontak ini semakin kuat. Bahkan tak sedikit para pejabat Kasunanan Surakarta yang bergabung dengan pemberontak. Namun, meski sudah memperoleh dukungan Pangeran Mangkubumi dan Mas Said belum berhasil mengalahkan PB III. Ini dikarenakan PB III dilindungi kekuatan VOC.

Peperangan sedikit mereda saat pada tahun 1752 terjadi perpecahan diantara pemberontak, Mangkubumi dan Mas Said. Melihat situasi ini, pihak VOC pun punya muslihat. VOC segera menawarkan perdamaian dengan Mangkubumi yang lebih moderat daripada Mas Said sejak 1754. Baca lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 98 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: