Beginilah Aku Belajar [Kuliah-sekarang]

Bagaimana Aku Belajar [Kuliah-sekarang]

Memasuki dunia kampus, pembelajaranku juga tak jauh beda. Bahkan boleh dibilang justru lebih mudah karena jika selama di SMA banyak pelajaran yang harus dipelajari, maka ketika kuliah yang dipelajari hanya satu tema. Hanya saja memang lebih spesifik dan mendetail. Hal itu lebih memudahkan kurasa. Karena aku kuliah di jurusan sosial (bukan eksakta) maka aku lebih sering membaca daripada berlatih soal. Pada awal kuliah, aku inginnya belajar dengan cara membaca buku-buku tekstual tentang suatu objek perkuliahan. Pengaruhnya, aku lebih mengetahui sebuah ‘doktrin’ secara luas daripada sekedar menerima ‘doktrin’ dari dosen. Ini kulakukan karena disamping aku memiliki minat baca yang masih cukup besar, juga karena aku merasa benar-benar tidak menguasasi objek perkuliahan yang kuambil. Bahkan boleh dibilang aku benar-benar buta dengan hukum dan ilmu hukum.

Idealisme dalam belajar perlahan mengalami penurunan. Aku menjadi lebih pragmatis ketika metode pembelajaranku itu justru menjauhkanku dari nilai IP (Indeks Prestasi) yang bagus. Setiap kali menempuh ujian (baik mid maupun akhir), soal-soal yang ditanyakan selalu saja lebih terarahkan dalam satu jawaban seragam. Hampir tak ada analisa dan pengayaan. Hal itu sebenarnya juga dikarenakan aku lebih condong pada teori-teori di buku teks daripada yang disampaikan oleh para dosen juga sih. Singkat cerita, di pertengahan masa kuliah, aku mengubah gaya belajarku dengan lebih sederhana. Aku hanya belajar dari apa yang disampaikan para dosen saja. Buku-buku teks para sarjana sudah kulupakan. Orientasiku hanya dapat nilai IP yang tidak memalukan. Tak perlu dapat cumlaude. Waktu yang tersisa lebih aku efektifkan untuk membangun wirausaha. Aku belajar wirausaha / wiraswasta. Baca lebih lanjut

Beginilah Aku Belajar [SMP-SMA]

Bagaimana Aku Belajar [SMP-SMA]

Masuk SMP, pembelajaranku mulai sedikit berubah. Aku mulai diarahkan lebih mandiri. Ayah sudah tidak lagi berperan seperti pembawa acara kuis yang memberikan pertanyaan sementara aku peserta kuisnya yang bertugas menjawab menjawab pertanyaannya. Ayah lebih memerankan diri sebagai seorang konsultan jika aku menemui kesulitan dalam pelajaran. Biasanya, soal-soal yang sering aku konsultasikan adalah Matematika. Sementara soal-soal hafalan secara umum bisa kukerjakan secara lebih mandiri. Sesekali saja aku bertanya jika telah buntu.

Untuk pelajaran-pelajaran sosial, aku sepertinya masih menggunakan metode lama zaman SD, yaitu membaca, mengerjakan soal latihan, dan membacanya kembali berulang-ulang sampai bosan. Namun kalau untuk soal-soal eksakta, proses pembelajaran hanya dengan mengerjakan PR-PR yang diberikan guru setiap hari. Selebihnya tak ada belajar. Terkesannya, belajar adalah mengerjakan PR. Spesifik lagi, belajar adalah mengerjakan PR Matematika atau Fisika. Huft. Baca lebih lanjut

Beginilah Aku Belajar [TK-SD]

Bagaimana Aku Belajar [TK-SD]

Ada satu hal yang masih mengganjal saat menulis tentang model-model para pembelajar tempo hari. Aku belum menceritakan tentang bagaimana aku belajar. Memang sebenarnya di akhir tulisan aku sudah bilang kalau aku tak memiliki karakteristik khusus dalam belajar atau menentukan waktu yang tepat untuk belajar. Tapi tak salah kiranya jika aku sampaikan pengalaman belajarku selama ini. Dengan demikian kamu bisa menggolongkan aku ke dalam pembelajar model yang mana. He3x.

Waktu masih TK, seingatku tak ada konsep belajar yang kutekuni. Aku lebih suka bermain daripada belajar. Hal itu berlangsung sampai kelas 3 atau 4 SD lah kira-kira. Tak salah makanya selama waktu itu aku boleh dibilang tergolong siswa menengah ke bawah dalam hal prestasi dan ranking kelas. Kemampuan tulis ku pun jauh dari layak. Dalam buku-buku pekerjaanku sering ditulisi oleh guruku sebagai pesan agar aku memperbaiki tulisanku. Oleh sebagian guru, tulisanku sering disebut tulisan cekeran pitik (ceker ayam) karena saking jeleknya.

Barulah kemudian setelah kelas 4 SD itu, aku memulai tergila-gila dalam membaca buku pelajaran. Barangkali kegilaan ini sudah mencapai stadium puncak karena setiap buku pelajaran yang ada cerita-cerita narasi sudah pasti saya habiskan secepat mungkin. Jika sudah khatam, kuulangi lagi buku pelajaran itu untuk kubaca lagi. Bahkan buku-buku pelajaran kelas di atas atau di bawahku pun kubaca juga. Pokoknya benar-benar sudah gila kuadrat lah aku dalam persoalan baca membaca waktu itu. Baca lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 97 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: