Ayahnya Meninggal Saat Ulang Tahunnya
“kring..kring…kring…kring…” dering ponsel berbunyi dari balik saku celananya.
“Ya halo assalamu’alaikum, ada apa bu?” ucapnya setelah mengangkat ponsel merk Nokia dan menekan tombol bergambar gagang telepon berwarna hijau.
“Nggih…nggih…,” suaranya terdengar pelan dan lirih. Mulutnya nampak sedikit bergetar mengucapkannya.
Matanya tiba-tiba nampak berkaca-kaca. Meskipun tak sampai memuntahkan aliran tetesan air mata, raut mukanya jelas menampakkan wajah kesedihan yang mendalam. Tak ada tangis. Hanya wajahnya tertunduk.
Sebuah kabar kesedihan didengarkannya dari ujung ponsel. Bagai gemuruh petir di tengah siang bolong saat matahari bersinar terang. Ibunya mengabarkan dari Purwokerto bahwa ayahnya baru saja meninggal dunia. Ia harus segera pulang menemui jenazah ayahnya untuk yang terakhir kali. “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un”.
Ia pamit pulang dari kantor menggendong tas yang barangkali sudah tidak ia rasakan berat bebannya. Setelah sholat asar, ia langkahkan kaki menuju Stasiun Gambir menaiki kereta yang telah menunggu dan akan mengantarkannya pulang ke Purwokerto. Ayunan langkah kakinya sedikit gontai menampakkan perasaan setengah belum percaya dengan kabar yang hinggap di telinga. Dalam hati, ia tak terputus mengucap doa ampunan untuk ayah satu-satunya tercinta.
Dia adalah salah satu kawan kerjaku di kantor. Baru sekitar enam bulan aku mengenalnya semenjak ia diterima bekerja di kantor tempatku bekerja. Selama ini wajahnya tak pernah menampakkan kemuraman. Saat ayahnya terkena stroke beberapa bulan sebelumnya, tak nampak raut kesedihan yang terlukiskan dari wajahnya. Pribadi yang selalu tersenyum merupakan ciri khas yang disampaikan rekan-rekan kerja di kantor. Bahkan saat menerima ucapan belasungkawa dari rekan-rekan kantor, ia masih berusaha melukiskan senyum di kanvas raut mukanya.
Sebenarnya, dua pekan lagi ia akan merayakan ulang tahun ke dua puluh lima. Barangkali ia sangat berharap pada saat itu ia masih berkumpul dan bercengkerama dengan ayahnya. Namun sayang harapan itu tidak akan pernah terlaksana. Allah tak mengijikannya. Allah memiliki kehendak lain. Ia harus menerima dua pekan lagi ulang tahunnya sedikit berkalung rasa duka.
Tak banyak pesan yang kuucapkan sebagai belasungkawa atas meninggalnya ayahnya. Aku hanya menepuk pundaknya dan mengatakan, “Yang sabar, bro. Tabah!” Dan dalam hati aku berdoa “Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un”.
Ayah Aku Mohon Maaf
Dan pohon kemuning akan segera kutanam
Satu saat kelak dapat jadi peneduh
Meskipun hanya jasad bersemayam di sini
Biarkan aku tafakkur bila rindu kepadamu
Walau tak terucap aku sangat kehilangan
Sebahagian semangatku ada dalam doamu
Warisan yang kau tinggal petuah sederhana
Aku catat dalam jiwa dan coba kujalankan
Meskipun aku tak dapat menungguimu saat terakhir
Namun aku tak kecewa mendengar engkau berangkat
Dengan senyum dan ikhlas aku yakin kau cukup bawa bekal
Dan aku bangga jadi anakmu
Ayah aku berjanji akan aku kirimkan
Doa yang pernah engkau ajarkan kepadaku
Setiap sujud sembahyang engkau hadir terbayang
Tolong bimbinglah aku meskipun kau dari sana
Sesungguhnya aku menangis sangat lama
Namun aku pendam agar engkau berangkat dengan tenang
Sesungguhnyalah aku merasa belum cukup berbakti
Namun aku yakin engkau telah memaafkanku
Air hujan mengguyur sekujur kebumi
Kami yang ditinggalkan tabah dan tawakkal
Ayah aku mohon maaf atas keluputanku
Yang aku sengaja maupun tak kusengaja
Tolong padangi kami dengan sinarnya sorga
Teriring doa selamat jalan buatmu ayah tercinta
“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”
Filed under: Ahmed Fikreatif, Uncategorized Ditandai: | Ahmed Fikreatif, Ayah, Ayah Maafkan Aku, Ayah Meninggal, Berita Duka, Kematian, Maafkan Aku, meninggal dunia








Semoga beliau di tempatkan di tempat yang mulia di sisi-Nya.
kado yg sngt indah dr Alloh…smg khusnul khotimah..
sampe nangis aku dengar lagunya…