Beberapa waktu lalu, aku main ke rumah salah seorang sahabtku. Namanya sebut saja Sutrisno (bukan nama sebenarnya). Saat ini dia bekerja di sebuah perusahaan operator telekomunikasi di kota Solo. Sejak kuliah S-1, dia sudah tinggal sendiri terpisah rumah dari orang tuanya. Setelah lulus kuliah, ia sempat diterima bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Namun kemudian dia memilih resign dan kemudian bekerja di Solo sambil kuliah Magister Manajemen di sebuah universitas negeri ternama di kota Solo.
Dulu di waktu aku masih kuliah, aku sering sekali main ke rumah dia bersama kawan-kawan dan sobat-sobatku juga. Bahkan tak jarang aku sering menginap di rumahnya untuk nonton film bareng, main game bareng, atau sekedar ngobrol-ngobrol bareng. Seingatku, dulu di masa itu keadaan rumahnya tidak seberantakan banget seperti saat terakhir aku main ke rumahnya kemarin.
Setelah cukup lama tak main ke rumah bersejarah itu, aku hanya bisa geleng-geleng saja. “Inilah tempat tinggal seorang lelaki bujang sejati,” ucapku padanya. Berantakan seperti kapal pecah dan terkesan ditata seadanya adalah cirinya. Di meja makannya dipenuhi aneka barang entah dipakai atau tidak. Jemuran pakaian pun bergelantungan dimana-mana. Tapi khusus di kamarnya, agak sedikit rapi. Kamarnya ditata sedemikian rupa diisi dengan gadget-gadget hingga mirip laboratorium IT.
Aku sempat memotret beberapa sudut kamar dan rumahnya. Inilah kamar kawanku sang bujangan itu.
Filed under: Ahmed Fikreatif, Kata Dalam Kamera | Ditandai: Ahmed Fikreatif, Bujangan, Casio Exilim Ex-Z75, Kamar Sang Bujangan, Rumah Sang Bujangan, Solo, Sutrisno | 8 Komentar »







