Gobak Sodor


Sumber Gambar Silakan Klik Pada Gambar

Sumber Gambar Silakan Klik Pada Gambar

Gobak Sodor

Permainan ini juga merupakan salah satu dari sekian banyak permainan tradisional yang dimainkan oleh anak-anak era 1990an. Bahkan termasuk oleh anak-anak di masa sebelumnya. Dan hari ini, permainan ini sepertinya sudah langka dijumpai di perkotaan. Bahkan di desa dan kampong pun mulai langka.

Permainan gobak sodor adalah jenis permainan yang harus dimainkan secara berkelompok oleh banyak orang. Permainan ini dimainkan oleh dua kelompok yang saling berlawanan (bermusuhan), di mana masing-masing tim terdiri dari 3 – 5 orang.

Inti permainannya adalah menghadang lawan agar tidak bisa lolos melewati garis ke baris terakhir secara bolak-balik. Untuk meraih kemenangan seluruh anggota kelompok harus secara lengkap melakukan proses bolak-balik dalam area lapangan yang telah ditentukan.

Permainan ini biasanya dimainkan di lapangan bulu tangkis dengan acuan garis-garis yang ada atau bisa juga dengan menggunakan lapangan segiempat dengan ukuran 9 x 4 m yang dibagi menjadi 6 bagian. Garis batas dari setiap bagian biasanya diberi tanda dengan kapur.

Anggota kelompok yang mendapat giliran untuk menjaga lapangan ini terbagi dua, yaitu anggota kelompok yang menjaga garis batas horisontal dan garis batas vertikal. Bagi anggota kelompok yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas horisontal, maka mereka akan berusaha untuk menghalangi lawan mereka yang juga berusaha untuk melewati garis batas yang sudah ditentukan sebagai garis batas bebas. Bagi anggota kelompok yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas vertikal (umumnya hanya satu orang), maka orang ini mempunyai akses untuk keseluruhan garis batas vertikal yang terletak di tengah lapangan. Permainan ini sangat mengasyikkan sekaligus sangat sulit karena setiap orang harus selalu berjaga dan berlari secepat mungkin jika diperlukan untuk meraih kemenangan.


Begitulah kira-kira gambaran permainan gobak sodor yang kuketahui. Jika ada salah, mohon koreksinya.

Bergesernya waktu dan perkembangan jaman yang serba canggih dan instan saat ini sepertinya telah membuat permainan-permainan sederhana penuh makna ini tersingkir jauh. Semoga permainan-permainan seperti ini masih terus eksis di era IT ini.

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

 

About these ads

11 Tanggapan

  1. kami menyebutnya ‘Calabur’.
    Jadi kangen masa kecil nih mas Fikri.

    • @Ahmad: Calabur?? hehehehe namanya unik… :D

      iya, ceritanya ini sy juga lg keinget masa kecil :D

  2. wah.. kalau ini ane belum pernah maen, meski dulu teman2 kecil pada maen.. aneh c permainannya :mrgreen:

    • @Alam: aneh gimana lho…
      lha dulu mainnya apa wan??

  3. Dulu di kampung saya mainnya cuma di jalan, jadi di tengah-tengah kampung itu..
    Pas 17-an seru karena ibu-ibu juga main..
    Jadi kangen kampung kalau gini.. :(

    • @Gie: kampungnya mana om?

  4. Kok saya belum pernah ya main seperti ini, kayaknya seru juga. Seandainya kita bisa kembali kemasa lalu, kita bisa ngajak teman2 mengikuti permainan ini….. :)

    • @Papua: wah, gak harus balik kecil lg sih…
      kpn2 kopdar di Monas, lalu mainin itu permainan. :D

  5. itu permainan gue dulu bro.

    • @Situs online: sekarang mainnya situs online ya Wan… :D

  6. hihi saya dulu suka main ini loh, waktu SD, maennya di jalan yang nanjak, jadi pas balik lagi lebih cape hehehe
    tapi lupa lagi nama permainannya apa :D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 92 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: