Lumpang


Lumpang

Lumpang

Lumpang

Gambar foto di atas itu namanya Lumpang. Demikian orang Jawa -khususnya Solo- biasa menyebutnya. Lumpang di atas merupakan jenis lumpang yang terbuat dari batu. Lumpang batu merupakan perabot rumah tangga tradisional yang dibuat dari batu dengan bentuk aneka macam, salah satunya seperti dalam foto tersebut. Selanjutnya, pada bagian atas batu dilubangi dalam ukuran tertentu hingga kedalaman tertentu. Jadi deh lumpang batunya. :)

Lumpang batu memiliki fungsi sebagai tempat menumbuk. Dalam kehidupan sehari-hari, lumpang digunakan untuk menumbuk padi, kopi ataupun bahan makanan yang perlu ditumbuk lainnya. Nama alat yang digunakan untuk menumbuk disebut dengan Alu. Biasanya, Alu terbuat dari kayu dengan bagian tengah yang mengecil untuk pegangan. Sedikit kembali jauh ke masa agak lampau, Lumpang juga dijadikan sebagai ‘mesin’ penumbuk padi. Namun umumnya, lumpang penumbuk padi tidak terbuat dari batu namun dari kayu. Lumpang yang dari kayu disebut dengan Lesung.

Pesatnya mekanisasi pertanian membuat lumpang tidak lagi populer namun sesekal masih digunakan untuk menumbuk singkong dalam proses pembuatan getuk. Sementara perkembangan teknologi semakin lama semakin menghasilkan sebuah produk mutakhir yang makin lama makin menyingkirkan peran Lumpang. Untuk menumbuk kacang menjadi sambal kacang sudah ada alat penumbuk kacang, untuk menumbuk cabe menjadi sambal yang banyak juga sudah diganti blender. Dan begitupula untuk yang lainnya.

Selain untuk menumbuk bahan makanan tertentu, di jaman Diponegoro sampai perjuangan revolusi, lumpang memainkan peranan yang cukup penting dalam membantu perjuangan para mujahid. Di era teknologi masih belum terlalu canggih saat itu, lumpang seringkali berfungsi sebagai media sekaligus alat pembuat bahan peledak. Bubuk mesiu atau serbuk hitam (Black Powder) yang perlu dipadatkan seringkali dipadatkan dengan bantuan lumpang, tentunya dengan cara dan ilmu tertentu. Jika asal menumbuk justru akan mencelakai penumbuk sendiri. :)

Seperti telah sedikit disingung di atas, kini lumpang sangat susah dijumpai di kota-kota besar. Bahkan di pedesaan pun, keberadaan lumpang sudah mulai tergeser oleh alat-alat elektronik buatan China, Taiwan, dan Hong Kong. Jadi, jika ingin mengetahui lumpang, carilah di desa-desa yang sudah jauh dari kota, biasanya di pawon-pawon mereka masih ada Lumpang.

Foto lumpang di atas itu sendiri adalah lumpang yang ada di rumah simbah-ku. Lumpang itu entah sudah berusia berapa tahun tidak ada yang tahu pastinya. Sejak ibu-ku (anak pertama simbah-ku) lahir, lumpang itu sudah ada. Bahkan aku yakin lumpang itu merupakan warisan dari orang tua simbah sebelumnya yang entah darimana asalnya lagi. Dan aku yakin lumpang itu sampai cucu-cucunya menikah semua suatu saat nanti masih bakal tetap eksis meskipun sudah tidak digunakan lagi dan hanya menjadi barang ‘antik’ semata. Kalaupun hendak dibuang, susah juga untuk membuangnya karena beratnya minta ampun.

Membaca sedikit referensi online di beberapa tempat, ternyata dapat diketahui bahwa lumpang biasanya terbuat dari batu andesit yang sering dijumpai di sungai-sungai. Sebagaimana kita telah ketahui bersama bahwa batu andesit adalah bahan baku pendirian candi-candi juga. Selanjutnya, para ahli purbakala juga berpendapat bahwa lumpang merupakan peninggalan zaman pra-sejarah. Dari beberapa penggalian purbakala diperoleh kesimpulan bahwa lumpang batu telah ada sejak zaman prasejarah. Lumpang batu purba diantaranya ditemukan di Kabupaten Lima Puluh Kota – Sumatera Barat, Kabupaten Soppeng – Sulawesi Selatan, dan daerah-daerah lainnya. Aku sempat berfikir, apakah jangan-jangan lumpang di pawon simbah itu juga warisan zaman pra-sejarah ya? Hehehehe ;)

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

About these ads

8 Tanggapan

  1. sekarang semuanya serba Instan mas….

    • @Ipung: betul mas Ipung. Itu sih bagus untuk membantu manusia.
      Namun jg mengikis budaya kerja dulu sebelum menikmati.
      Dimana dulu hny untuk sambel pecel, hrs bersusah-susah memainkan alu di atas lumpang.

  2. lha kok fotone kaya pawon ya.. bukan lumpang dan alunya..

    • @Deea: PawoN??// itu memang lumpangny di Pawon. Di atasnya ada dandang.
      jd g keliatan lubang lumpangnya…

  3. lumpang, nasibmu kini….

    Sudah banyak yang melupakan…:(

    • @Arief: Namanya juga zaman yg terus berkembang mas…
      jaman dulu yg namanya Menhir, Pasak, atau beliung dan apalah nama2 lainnya jaman pra sejarah jg dah g dipakai juga. :D

  4. Dulu saya punya lumpang seperti gambar diatas, yg diameter lubangnya sama dengan piring, lumpang sangat mudah digunakan untuk numbukl beras kalau mau bikin kue, tapai sekarang sdh hilang, ada yg minjem tidak izin dulu, kalau mau beli lumpang itu dimana yaa. atau kalau di Jakarta kira2 ada jual. Kalu ada hubungi saya di HP.081337207958.terimakasih.

  5. pengin tau cara bikin lumpang :(

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 87 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: