# Romadhon Ketiga: Sejarah Puasa Romadhon


# Romadhon Ketiga – Sejarah Puasa Romadhon

Menu sahur tadi pagi adalah Nasi, Sayur sop, oseng-oseng tempe, dan lauk ayam goreng serta kerupuk tentu saja.

Seperti biasanya, aktivitas pagi adalah berangkat kerja ke kantor. Karena hari ini adalah hari Jumat, maka jam masuk kantor lebih pendek dari biasanya. Selama bulan Romadhon, kantorku masuk dari mulai pukul 08.00 – 13.00 WIB untuk hari Jumat. Sangat pendek bukan?

Dan hari ini, hampir tidak ada kegiatan-kegiatan atau aktivitas-aktivitas yang begitu menyita waktu. Boleh dikata, Jumat ini bebas tugas hingga menjelang waktu masuk sholat Jumat.

Karena tidak ada satu tema yang menarik untuk dibagi hari ini, aku tuliskan saja perihal isi ceramah Romadhon kemaren yang kudengarkan di musholla kantor. Secara umum, isi ceramah berisi seputar puasa sih. Namun ada satu keterangan ceramah yang kurasa baru kudengar sejauh ini, yaitu perihal Sejarah Puasa Romadhon.

Jadi, oleh pak ustadz yang mengisi ceramah -aku tidak tahu namanya siapa-, diinformasikan bahwa puasa Romadhon itu dilakukan karena melihat hilal, sebagaimana perkataan Rasul SAW, “Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya (hilal bulan Syawal). Jika kalian terhalang awan, maka sempurnakanlah Sya’ban tiga puluh hari.” (HR. Bukhari 4/106, dan Muslim 1081).

Selanjutnya, beliau menerangkan perihal sejarah disyariatkannya Puasa Romadhon hingga sekarang ini menjadi salah satu kewajiban sekaligus Rukun Islam bagi umat Islam. Dalam penuturannya, awal turunnya kewajiban puasa Romadhon adalah pada bulan Sya’ban tahun kedua Hijriyah, atas dasar ini para ulama berijma’ bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menunaikan ibadah puasa Romadhon selama hidupnya sebanyak sembilan kali.

Sebelum turun perintah syariat puasa model seperti yang dilakukan umat Islam saat ini, yaitu selama bulan Romadhon (antara 29-30 hari) dengan menahan dari sesuatu yang membatalkan selama siang hari dari sejak fajar hingga maghrib, puasa yang dilakukan para sahabat bukanlah sebuah kewajiban fardhu ‘ain, namun semacam pilihan kewajiban diantara dua pilihan.

Menurut penuturan pak ustadz, zaman dahulu umat Islam diminta untuk memilih antara berpuasa atau membayar fidyah. Pada saat syariat ini, para pemeluk Islam yang merasa kaya dan memiliki harta yang berlebih, lebih memilih untuk melakukan fidyah. Fidyah adalah memberi makan kepada orang miskin / fakir sebanyak satu mud. Satu mud adalah makanan pokok setempat untuk satu hari.

Dan wajib bagi orang yang berat untuk menjalankan ash-shaum maka membayar fidyah yaitu dengan cara memberi makan seorang miskin untuk setiap harinya. Barang siapa yang dengan kerelaan memberi makan lebih dari itu maka itulah yang lebih baik baginya dan jika kalian melakukan shaum maka hal itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahuinya.” [Surat Al-Baqarah 184]

Berkata Al-Hafizh Ibnu Katsir :

Adapun orang yang sehat dan mukim (tidak musafir-pen) serta mampu menjalankan ash-shaum diberikan pilihan antara menunaikan ash-shaum atau membayar fidyah. Jika mau maka dia bershaum dan bila tidak maka dia membayar fidyah yaitu dengan memberi makan setiap hari kepada satu orang miskin. Kalau dia memberi lebih dari satu orang maka ini adalah lebih baik baginya.”([3])

Ibnu ‘Umar ketika membaca ayat ini فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ mengatakan : “bahwa ayat ini mansukh (dihapus hukumnya-pen)”.([4])

Dan atsar dari Salamah ibnu Al-Akwa’ tatkala turunnya ayat ini berkata :

Barangsiapa hendak bershaum maka silakan bershaum dan jika tidak maka silakan berbuka dengan membayar fidyah. Kemudian turunlah ayat yang berikutnya yang memansukhkan (menghapuskan) hukum tersebut di atas.” ([5])

Nah, oleh pak ustadz itu, singkatnya disebutkan bahwa masa ini disebut dengan masa pilihan / takhyir. Disebut pilihan karena kalau memiliki uang, sahabat boleh untuk memilih fidyah daripada harus berpuasa.

Setelah itu, masa setelah itu berganti menjadi masa mutlak. Yaitu, semua sahabat (umat Islam ketika itu) harus berpuasa semuanya dan tidak boleh ada yang membayar fidyah. Hal itu pun membuat orang kaya agak khawatir karena mereka mau tidak mau harus berpuasa. Nah, inilah sejarahnya:

Dahulu Shahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam jika salah seorang di antara mereka shaum kemudian tertidur sebelum dia berifthar (berbuka) maka dia tidak boleh makan dan minum di malam itu dan juga siang harinya sampai datang waktu berbuka lagi…”

Nah, oleh pak ustadz diceritakan, bahwa jika pada saat puasa tidak boleh tidur atau tertidur. Jika tertidur atau tidur resikonya, mereka harus berpuasa selama 24 jam. Dalam sebuah kejadian, Umar diceritakan -masih oleh pak ustadz- tertidur pulas karena kecapekan di ranjang kamarnya. Seketika ketika terbangun dari tidur hingga terjaga, ia baru tersadar bahwa dirinya telah tertidur. Oleh karenanya malam nanti ia tidak boleh berbuka. Pada saat yang bersamaan, ia melihat pakaian istrinya yang tertidur di sisinya tersingkap. Muncullah hasrat Umar untuk bersetubuh dengan istrinya. Singkat cerita, Umar pun mendatangi istrinya dan menunaikan hajatnya. Setelah selesai melakukan hajatnya, Umar pun merasa bersalah pada dirinya kenapa ia tidak kuat untuk menahan keinginannya itu.

Menurut pak ustadz, Umar diceritakan tidak bisa tidur selama 2 – 3 hari setelah kejadian itu. Pada suatu kesempatan setelah sholat subuh berjamaah, para sahabat menghadiri majelis ilmu yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. Di sinilah, Umar memberanikan diri untuk bertanya yang kurang lebihnya, “Wahai Nabi, apakah peraturan puasamu ini harus dilakukan seperti sekarang ini? Aku mengkhawatirkan umatmu yang hidup nanti setelah kita meninggal dunia, apakah mereka bakal kuat untuk menunaikan puasa yang seperti ini. Aku saja kemaren lusa tidak mampu menahan untuk berhubungan dengan istriku. Lantas bagaimana mungkin umatmu nanti bisa melakukannya?”

Singkatnya, setelah kejadian itu, turunlah ayat Al Quran,

(أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ)

Telah dihalalkan bagi kalian pada malam hari bulan shaum (Ramadhan) untuk berjima’ (menggauli) istri-istri kalian.”

Para shahabat pun semakin berbahagia sampai turunnya ayat yang berikutnya yaitu :

(وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ)

Dan makan serta minumlah sampai jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.”

Maka setelah itu, syariat puasa dan aturan-aturan puasa Romadhon berlaku seperti yang kita rasakan saat ini. Demikianlah penuturan pak ustadz yang kudengarkan saat berceramah di mushola kantor. Semoga dapat memberi info yang bermanfaat. Namun, aku tidak mengetahui derajat keshohihan / kebenaran asbabun nuzul (sebab turun) sejarah puasa Romadhon tersebut. Jadi, jika ada koreksi, silakan saja. :)

**

Pada keterangan lain (bukan oleh pak ustadz) di dalam suatu hadis disebutkan sebagai berikut:

كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ rإِذَا كَانَ الرَّجُلُ صَائِمًا فَحَضَرَ اْلإِفْطَارُ فَنَامَ قَبْلَ أَنْ يُفْطِرَ لَمْ يَأْكُلْ لَيْلَتَهُ وَلاَ يَوْمَهُ حَتَّى يُمْسِيَ وَإِنَّ قَيْسَ بْنَ صِرْمَةَ الأَنْصَارِي كَانَ صَائِمًا فَلَمَّا حَضَرَ اْلإِفْطَارُ أَتَى اِمْرَأَتَه فَقَالَ لَهَا : أَعِنْدَكِ طَعَامٌ ؟ قَالَتْ : لاَ لكِنْ أَنْطَلِقُ فَأَطْلُبُ لَكَ – وَكَانَ يَوْمَهُ يَعْمَلُ فَغَلَبَتْهُ عَيْنَاهُ- فَجَاءَتْ اِمْرَأَتُهُ فَلَمَّا رَأَتْهُ قَالَتْ : خَيْبَةً لَكَ ! فَلَمَّا اِنْتَصَفَ النَّهَارُ غُشِيَ عَلَيْهِ فَذُكِرَ ذَلِكَ لِلنَّبِي rفَنَزَلَتْ هَذِهِ اْلأَيَةُ :  )أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ( فَفَرِحُوا بِهَا فَرْحًا شَدِيْدًا فَنَزَلَتْ )وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ([رواه البخاري  وأبو داود]

Artinya :

Dahulu Shahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam jika salah seorang di antara mereka shaum kemudian tertidur sebelum dia berifthar (berbuka) maka dia tidak boleh makan dan minum di malam itu dan juga siang harinya sampai datang waktu berbuka lagi. Dan (salah seorang shahabat yaitu), Qois bin Shirmah Al Anshory dalam keadaan shaum, tatkala tiba waktu berbuka, datang kepada istrinya dan berkata : apakah kamu punya makanan ? Istrinya menjawab : “Tidak, tapi akan kucarikan untukmu (makanan).” – dan Qois pada siang harinya bekerja berat sehingga tertidur (karena kepayahan)- Ketika istrinya datang dan melihatnya (tertidur) ia berkata : ”Rugilah Engkau (yakni tidak bisa makan dan minum dikarenakan tidur sebelum berbuka- pen) !” Maka ia pingsan di tengah harinya. Dan ketika dikabarkan tentang kejadian tersebut kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, maka turunlah ayat :

)أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ(

Telah dihalalkan bagi kalian pada malam hari bulan shaum (Ramadhan) untuk berjima’ (menggauli) istri-istri kalian.”

dan para shahabat pun berbahagia sampai turunnya ayat yang berikutnya yaitu :

)وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ(

Dan makan serta minumlah sampai jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.”

[HR. Al-Bukhari dan Abu Dawud]

(Tulisan di atas seperti yang kuterima dari ceramah pak ustadz. Hanya saja, mengenai pengambilan dalil-dalil dan kelengkapan-kelengkapannya yang lain aku cari sendiri dari internet.)

Thanks to:

http://elfaruq.wordpress.com/

http://hanif019.wordpress.com/

http://www.mail-archive.com/

http://www.pesantrenvirtual.com/

http://www.ikim.gov.my/

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

About these ads

8 Tanggapan

  1. Like thiss :)
    nice infoo

    met puassaaa yaaa :)
    moga berkahh

    • @Fiya: sama2 terima kasih
      amiin

  2. wah lengkap ya ifonya.. :)

    • @IIn: alhamdulillah dibilang lengkap
      tp sepertinya masih ada yg kurang tuh

  3. lengkap banget sejarahnya puasa…
    bermanfaat banget nih infonya..

    • @Rahad: alhamdulillah jka memberikan manfaat

  4. oh begitu toh sejarahnya… sangat lengkap. gw capek bacanya.

    btw, selamat berpuasa dan menahan hawa nafsu ya ;-)

    • Mr Handsome: wakakakaakak

      kalao capek baca, ga usah dibaca

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 87 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: