Sampah Kertas di Sudut Ruangan Kantor dan Dunia Paperless


Sampah Kertas di Sudut Ruangan

Sampah Kertas di Sudut Ruangan (klik untuk perbesar gambar)

Sampah Kertas di Sudut Ruangan Kantor dan Dunia Paperless

Mewujudkan dunia paperless, ngirit, dan hemat ternyata tidak semudah yang kubayangkan. Setiap hari, lebih dari 50 lembar kertas dalam keadaan normal terbuang sia-sia akibat seringnya salah cetak pada surat-surat, memo-memo, atau nota-nota dinas dan dokumen-dokumen lainnnya yang ku-print. Jumlah 50 lembar itu hanyalah jumlah kertas yang terbuang di ruangan bagian Corporate Secretary yang terisi oleh 6 orang saja. Dan itupun dalam kondisi kerja normal. Karena tak jarang pada posisi kerja tinggi, pernah aku menghabiskan lebih dari 1 rim sehari hanya karena dokumen-dokumen yang ku-print direvisi secara keseluruhan dan berulang-ulang oleh Manajer bagian-ku.

Foto di atas, adalah gambaran di ruangan bagian kantorku betapa banyak kertas-kertas yang terbuang percuma setiap harinya. Bayangkan jika sampah-sampah kertas ini dikumpulkan jadi satu dari keseluruhan sampah-sampah yang berada di bagian-bagian lain. Kemudian bayangkan juga jika seluruh perkantoran Jakarta membuang kertas-kertas nya seperti itu dan dikumpulkan jadi satu di sebuah lokasi. Dan bayangkan lagi jika seluruh kantor di Indonesia mengumpulkan sampah-sampah kertas seperti itu setiap harinya di satu lokasi tertentu. Barangkali, sampah-sampah kertas itu akan menumpuk setiap harinya mencapai puluhan ton setiap harinya. Mewujudkan dunia paperless agaknya masih terlampau sulit untuk diwujudkan dalam waktu dekat ini.

Lantas kenapa harus paperless?

Karena untuk bersahabat dengan lingkungan, satu lagi yang perlu kita kurangi pemakaiannya adalah kertas. Produksi kertas membutuhkan banyak energi, air, dan tentu saja pohon. Setelah melalui proses panjang sejarah modern pembuatan kertas dengan mesin Fourdrinier (ditemukan oleh Nicholas Louis Robert), dan kemudian dikembangkan oleh John Dickinson, Friedrich Gottlob Keller, Charles Watt dan Hugh Burgess, pada akhirnya disempurnakan oleh Benjamin Chew Tilghman dan Carl Dahl, pembuatan kertas tidak pernah lepas dari yang namanya pohon / kayu yang dijadikan bahan untuk dibuat pulp.

Sehingga, dengan banyaknya kertas-kertas yang diproduksi maka otomatis semakin banyak pula pohon-pohon yang ditebang untuk dijadikan bahan produksi kertas. Oleh karenanya, sebisa mungkin kita mengurangi penggunaan kertas yang berlebih demi terciptanya lingkungan yang seimbang. Semakin banyak dan mudah kita membuang kertas begitu saja maka semakin banyak pohon yang kita tebangi secara tidak langsung sehingga bumi lama kelamaan akan mengalami sesak nafas karena paru-parunya semakin tergerogoti. Oleh karenanya kita harus berusaha menyeimbangkan ekosistem itu. Sayangnya, di kantorku khususnya bagianku dan khusus lagi aku, belum bisa memberikan keteladanan yang baik untuk mewujudkan dunia yang paperless. :(

Sejarah Singkat Kertas

Kertas merupakan revolusi baru dalam dunia tulis menulis yang menyumbangkan arti besar dalam peradaban dunia. Sebelum ditemukan kertas, bangsa-bangsa dahulu menggunakan tablet dari tanah lempung yang dibakar. Hal ini bisa dijumpai dari peradaban bangsa Sumeria, Prasasti dari batu, kayu, bambu, kulit atau tulang binatang, sutra, bahkan daun lontar.

Peradaban Mesir Kuno menyumbangkan papirus sebagai media tulis menulis. Penggunaan papirus sebagai media tulis menulis ini digunakan pada peradaban Mesir Kuno pada masa Firaun kemudian menyebar ke seluruh Timur Tengah sampai Romawi di Laut Tengah dan menyebar ke seantero Eropa, meskipun penggunaan papirus masih dirasakan sangat mahal.

Dari kata papirus (papyrus) itulah dikenal sebagai paper dalam bahasa Inggris, papier dalam bahasa Belanda, bahasa Jerman, bahasa Perancis misalnya atau papel dalam bahasa Spanyol yang berarti kertas.

Tercatat dalam sejarah adalah peradaban Cina yang menyumbangkan kertas bagi Dunia. Adalah Tsai Lun yang menemukan kertas dari bahan bambu yang mudah didapat di seantero China pada tahun 101 Masehi. Penemuan ini akhirnya menyebar ke Jepang dan Korea seiring menyebarnya bangsa-bangsa China ke timur dan berkembangnya peradaban di kawasan itu meskipun pada awalnya cara pembuatan kertas merupakan hal yang sangat rahasia.

Pada akhirnya, teknik pembuatan kertas tersebut jatuh ke tangan orang-orang Muslim Arab pada masa Abbasiyah terutama setelah kalahnya pasukan Dinasti Tang dalam Pertempuran Sungai Talas pada tahun 751 Masehi dimana para tawanan-tawanan perang mengajarkan cara pembuatan kertas kepada orang-orang Amuslim rab sehingga pada zaman Abbasiyah, muncullah pusat-pusat industri kertas baik di Baghdad maupun Samarkand dan kota-kota industri lainnya, kemudian menyebar ke Italia dan India lalu Eropa khususnya setelah Perang Salib.

Begitulah kisah tentang kertas yang berawal dari kertas yang kulihat di sudut ruangan kantorku. Mungkinkah tercapai dunia paperless???

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

About these ads

19 Tanggapan

  1. ya begitulah,, karena kebiasaan harus ada dokumen tertulis jadi harus terus2an ngeprint. Padahal semuanya sudah terintegrasi dengan IT.
    Ato mungkin bisa cari alternatif kertas kaya tissu toilet di jepang yang langsung dibuang ke saluran air.. :D

    • @aRDIAN eKO: Memang dokumen tertulis itu penting dlm beberapa hal tertentu.

      Tisu toilet langsung di buang ke saluran air?? apa ga bikin mampet malahan tuh??
      bs djelasin ga tuh detailnya??

  2. salah cetak en boros kertas…
    pernah ngalami juga…

    • @Wawansri: solusinya???
      pdhal dan pengin sebisa mungkin paperless lho

  3. paperless>>>> dimulai dari e-book… dibuatlah e-paper… >>>> ga ada lagi penebangan pohon2>>>>>>gud bye global warming >>>loh?/ hahahhaha:D

    • maaf ya mas…itu merupakan teori yang tak punya dasar :D hahha

      • emang ga ada dasarnya tuh.. :p

    • @Cempaka: E-book sebenarnya cukup membuat solusi sih,,
      cuman apa gunanya kalau ebook terus akhire di print juga.. :(
      pdhal rata-rata org kayak gitu…

      Gombal Warning iyo…

  4. walau kurang bersahabat dengan lingkungan, setidaknya bersahabat dengan pemulung…

    • @Puri: kmu punya sahabat seorang pemulung dd??

      iya, dulu aku juga sempet menjadi pemulung lho…

      *serius

  5. utk ngeprint yang ga terlalu penting,biasanya kertasnya dibalik ke bagian yang kosong ya… ^^ buat ngirit..

    • @Rose: itu sudah dilakukan lah…
      tp tetep saja masih banyak salah

      huft………

  6. info menarik berawal dari pengalaman pribadi ya mas.. jadi ingat ma mading sekolah yang nampilin nie sejarah kertas…

    • @Sunflo: yup makasih.

      Mading sekolah tentang sejarah sekolah gimana maksude nih?

  7. Paperless.. kurang mudah. Agar hemat pohon keras, bisa konversi kertas dari algae atau jerami atau ke papyrus itu sendiri.

    • @Thalita: dari alga??? gimana tuh caranya???
      it sounds a brilliant idea………

  8. Sebagai ganti kertas apa, ya? Yang namanya e-book saja kalau hanya dibaca melalui layar monitor juga kurang baik untuk mata, maka akhirnya di-print juga, baru dibaca.

    • @pak Mursyid: hehehee, mungkin kalao diganti sih ga kali pak..
      cuman,,, di kurangi saja…

  9. Kertas… sampai saat ini masih kita butuhkan! :D

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 96 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: