Suara petugas stasiun mengejutkanku dari rasa kantuk. Sedikit ku terhenyak dari rasa kantuk dan tersentak oleh suara yang kudengar nyaring dari loudspeaker stasiun Kutoarjo mengumumkan kedatangan kereta.
“Pengumuman…pengumuman, Kereta Prambanan Ekspres akan segera memasuki jalur 6 dari arah timur. Kereta Prameks Prambanan Ekspres akan berangkat dari stasiun Kutoarjo dan mengakhiri tujuan di stasiun Palur, Solo dan akan melewati serta berhenti di Stasiun Jenar, Wates, Tugu, Lempuyangan, Klaten, Purwosari, Solo Balapan, Solo Jebres dan akan berakhir di Palur. Kepada para calon penumpang kereta Prameks yang belum memperoleh tiket, silakan membeli tiket di loket 1. Kereta akan berangkat pada pukul 05.50 WIB,” ucap sang petugas.
Kuarahkan mataku pada layar handphoneku. Waktu menunjuk pukul 05.40. Segera aku beranjak dari kursi tunggu stasiun dan menuju toilet mencuci muka. Setelah mata sudah mulai berinteraksi dan menjauh dari rasa kantuk, aku pun melangkah mendekat di jalur 6.
Beberapa saat kemudian, serangkaian kereta dari arah timur muncul. Dengan warna kuning bercampur semu hijau dengan gagahnya mendekat ke arahku dan ratusan penumpang lainnya yang juga telah menunggu sejak lama. (more…)
Filed under: Ahmed Fikreatif, Artikel Ringan, Diary, Kata Dalam Kamera, Uncategorized | Ditandai: Ahmed Fikreatif, Cikal Bakal Prameks, Diary, Gerbong, Jogja, Kahuripan, Kaleng Kuning, Kereta, Kereta Api, Kuda Putih, Kutoarjo, Lodaya, Prambanan Ekspress, Prameks, Sawunggalih, Sejarah Prameks, Solo, Solo-Jogja | 1 Komentar »







